Bab 22

588 97 3
                                        

KATH

Tiga hari kemudian, kami pergi ke pesta ulang tahun James.

Meski begitu, dilihat dari jumlah pengawal bersenjata yang hadir, aku tidak akan menyebutnya sebuah pesta. Ini lebih pantas disebut pertemuan para mafia.

Ini pertama kalinya aku keluar rumah Freen sejak aku tiba di sana, meski kupikir itu akan membebaskan, ternyata itu lebih menyesakkan.

Sebagian karena jumlah pengawal yang menemani kami di mobil terpisah. Lima orang, selain Nick dan Yoshi.

Sebagian lagi karena Liam menangis saat aku mengatakan padanya bahwa aku tidak bisa membacakannya cerita sebelum tidur malam ini. Air matanya membuat lubang hitam di dadaku yang masih belum sembuh.

Malam ini benar-benar salah dalam banyak hal. Apakah aku akan membuat kesalahan? Apakah semua peringatan Freen dan Ogla akan menjadi kenyataan? Aku ingin merangkak kembali ke kamar Liam, mencium pipinya yang lembut, dan berpura-pura seolah seluruh dunia ini ada karena dia.

Tetapi di sinilah aku, di tengah-tengah sebuah pesta, merayakan ulang tahun seorang pria yang belum pernah kutemui sebelumnya.

Pakhan, Jiyong, memutuskan untuk menyelenggarakan ulang tahun James di rumahnya, yang tampaknya merupakan suatu kehormatan. Kompleks persaudaraan itu sangat besar, bahkan lebih besar dari rumah Freen. Rumah ini juga memiliki taman yang membentang sejauh bermil-mil. Dikelilingi oleh tembok tinggi dan kamera yang berkedip di setiap sudut.

Rasanya lebih menyeramkan daripada tempat yang kutinggalkan. Aneh juga karena menurutku rumah Freen lah yang lebih menyeramkan. Setiap kali aku berjalan di lorong, aku merasa dindingnya akan menganga lebar dan berteriak di depan wajahku—atau menyeretku pada kehampaan. Jiwanya sehitam pemiliknya.

Rumah Jiyong Kwon menakutkan karena tidak familier, rasa gugup terus menyiksaku, tekanan yang sangat besar menekanku karena aku takut membuat kesalahan. Bagaimana jika seseorang tahu bahwa aku bukan Becky yang asli? Bagaimana jika aku membahayakan Freen dan menyebabkan Liam kehilangan Daddynya?

"Tenang saja." Freen melingkarkan tangannya di tanganku yang mencengkeram erat kain jasnya. "Kau akan baik-baik saja."

Kata-katanya langsung menenangkan kegelisahanku. Aku tidak tahu apa yang membuat suaranya bisa menenangkan. Karena saat ini hanya itulah yang aku butuhkan.

"Yang harus kau lakukan adalah tetap diam. Semua orang sudah terbiasa dengan sikapmu itu." Saat tangannya terlepas dari tanganku, aku ingin meraihnya dan menggenggamnya kembali.

Namun Freen telah berusaha keras untuk merampas apa yang aku butuhkan selama beberapa hari terakhir ini. Sejak malam ketika aku bermimpi tentang Becky yang dibunuh oleh bayangan tak dikenal lalu aku menembaknya, dia menjauh dariku.

Dia memang masih merawatku—mengoleskan salep pada bibirku yang terluka, mengeringkan rambutku dengan pengering rambut, melilitkan syal di leherku saat aku merasa kedinginan. Namun, dia tidak menyentuhku secara seksual.

Tidak ada hukuman.

Tidak ada orgasme.

Tidak ada apa-apa.

Aku terus melakukan semua hal yang aku tahu akan Freen benci. Membatahnya saat sarapan yang hanya membuat Ogla menegurku. Aku sudah mengatakan padanya 'oke' lebih dari yang kukira, tetapi dia tetap mengabaikanku. Aku juga pernah dengan sengaja memakai tank top di depan Yoshi, namun alih-alih memarahiku, yang dia lakukan hanya mengusirnya dari dalam rumah.

Meskipun dia masih memelukku dari belakang setiap malam, tetapi sentuhannya terasa asing. Dia begitu jauh hingga kupikir aku tidak akan pernah bisa menggapainya. Itu seharusnya menyenangkanku. Lagipula, aku ingin dia meninggalkanku sendiri. Tapi apakah aku harus melakukannya?

DoppelgängerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang