KATH
Aku tidak pernah menyangka bahwa Freen benar-benar akan membiarkan kami keluar.
Ketika aku membuat rencana ini, satu-satunya variabelnya adalah Freen. Dia selalu menempatkanku di menara gading yang entah bagaimana terhalang dari dunia luar.
Jadi ketika aku memintanya untuk membiarkanku dan Liam keluar, kupikir dia akan menolak, meskipun aku menggunakan tubuhku agar dia memberikan izinnya. Kata 'menggunakan' mungkin berlebihan. Aku bahkan menikmati setiap detik seks tadi malam. Sampai-sampai aku sedikit takut dengan hasrat yang kulihat di wajahku pada cermin.
Namun aku juga memanfaatkannya.
Freen menjadi lebih terbuka padaku saat dia berada di dalamku. Aku tidak akan mengatakan dia lengah, tetapi dia lebih peka terhadapku. Dan untuk itu, aku harus benar-benar melepaskannya, mengorbankan perlawananku agar dia lebih jatuh ke dalam perangkapku. Aku tidak akan bisa melakukannya jika aku berpura-pura atau menolaknya. Freen terlalu pintar untuk ditipu.
***
Liam sedang bermain dengan mobil mainannya saat kami duduk di bangku taman terdekat. Dua pengawal Freen berdiri tidak jauh dari kami, tetapi aku meminta mereka untuk memberi kami ruang. Mereka berdua terlalu menakutkan, jika mereka berdiri terlalu dekat dengan kami, itu akan lebih menarik perhatian dari orang-orang yang ada disini.
Langit mendung, udara dingin, dan angin bertiup kencang, yang selalu mengingatkan akan musim dingin, setiap kali angin meniup rambutku ke belakang.
Taman ini begitu ramai, seperti yang kuharapkan. Banyak anak-anak bermain dengan mainan mereka, ada juga orang dewasa yang sedang joging atau bersepeda. Kekacauan seperti itulah yang membuat para penjaga terlihat waspada.
Nomor telepon yang tidak dikenal—atau 'bayangan', begitu aku memanggilnya—mengatakan dia akan menghubungiku. Aku mengiriminya pesan bahwa aku akan berada di taman hari ini sebelum aku menghapus seluruh percakapan. Aku hanya tidak ingin mengambil risiko.
Menunggu bayangan itu melakukan kontak adalah konsep baru yang menegangkan. Aku telah mengamati sekelilingku selama setengah jam terakhir seperti pecandu yang mencari dosis berikutnya. Aku memaksa diriku untuk tetap diam agar tidak membuat para penjaga curiga. Mereka bukanlah Nick atau Yoshi, tetapi mereka tetap anak buah Freen. Mereka tidak akan ragu untuk memberi tahu bos mereka jika mereka melihat sesuatu yang mencurigakan.
Ponselku bergetar di dalam dompetku.
Jantungku berdebar kencang saat aku mengambilnya. Itu Freen. Meskipun aku seharusnya merasa kecewa karena itu bukan si bayangan, denyut nadiku malah semakin cepat.
Aku berharap ada cara untuk menghentikan diriku dari reaksi ini setiap kali Freen terlibat. Aku berharap aku tidak bernafsu terhadap orang yang sudah menikah.
Persetan.
Bukan hanya sekedar nafsu. Ada sesuatu yang lebih dari itu semua. Aku selalu mengingatkan diriku sendiri bahwa dia bukan milikku dan tidak akan pernah menjadi milikku. Itulah sebabnya aku harus pergi.
Freen biasanya tidak pernah meneleponku, hanya mengawasiku dari rumah. Apakah sekarang dia khawatir karena aku jauh dari pandangannya?
Sambil berdeham aku menjawab, "H-halo."
"Apakah kau dan Liam bersenang-senang?" Suaranya yang tenang mulai terdengar. Aku bisa membayangkan dia sedang duduk di belakang mejanya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.
"Ya." Aku melirik Liam, yang kini sibuk memperhatikan segerombolan semut yang menghilang di balik bangku.
"Di luar dingin sekali."
