[M] Pada suatu pagi, Kaivan menemukan dirinya terkapar di tepi hutan belantara tanpa pakaian. Dia linglung, beberapa penduduk yang menemukan dirinya berusaha menolong, tetapi dia malah berteriak ketakutan. Kedua matanya menatap nyalang, sedangkan tu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebulan sudah berlalu. Kaivan benar-benar merindukan sosok itu. Kara tak bisa dihubungi, ponselnya mati, dia juga tak datang ke tempat kerja. Rasanya ada yang aneh, tetapi dia tak berani bertanya pada Yoza. Lantas, Kaivan memaksa dirinya untuk menahan semua kerinduan itu.
Ada perasaan tak nyaman yang hadir saat dia melihat bagaimana wajah sumringah itu mendadak berubah sendu di pertemuan terakhir mereka. Kaivan ingin lari dan memeluknya, dia tak ingin mengetahui apa yang terjadi. Namun sayangnya, Kara tak memberikannya kesempatan untuk memberikannya pelukan.
Pada akhirnya, Kaivan menyimpan rindu itu dan kembali fokus pada dunianya. Jatuh cinta memang terkadang membuat lupa akan hal penting lainnya. Maka dengan semua keberanian yang telah berhasil dia kumpulkan, Kaivan kembali menginjakkan kakinya ke kampus.
Tak ada yang berubah secara signifikan dari hari terakhir dia datang ke kampus. Semua teman-temannya masih bersikap baik, terutama teman-teman baiknya. Dia juga bertemu dengan dosen favoritnya di kelas sebagai Dosen Pembimbing kedua yang akan membimbingnya dalam proses pembuatan skripsi.
Kaivan bersyukur bahwa dia berada di sebuah lingkungan yang baik, terutama teman-temannya yang bersikap sangat baik dan perhatian atas apa yang menimpa dirinya. Nasib buruk yang dialami oleh orang-orang itu coba tak diungkit kembali. Biarlah masalah yang menimpanya menjadi kenangan masa lalu yang tak harus diungkit.
Dia sudah berada di dalam ruangan sang dosen pembimbing selama kurang lebih satu jam. Obrolan tentang masalah yang ada di skripsi Kaivan terus terdengar, beberapa kali mereka cekikikan, kemudian kembali ke mode serius.
Singkat cerita, skripsi milik Kaivan sudah selesai diperiksa. Ada beberapa kalimat pada bab-bab proposal yang harus direvisi. Kaivan hanya mengangguk menerima semua saran dari Pak Ahmad. Sampai akhirnya Pak Ahmad mulai terlihat serius, kedua matanya menatap lurus ke arah Kaivan.
"Kamu masih mau lanjutin kuliah S2 ke Edinburgh kayak yang kamu bilang dulu?"
Kaivan mendongak setelah tadi fokus membaca beberapa coretan dari Pak Ahmad—sang dosen pembimbing. Keningnya sejenak menyipit, rasa sesak mendadak hadir. Sial, pikirnya. Dia lupa akan rencana yang telah dia bicarakan baik-baik dengan Pak Ahmad sebelumnya.
Pak Ahmad mendengus. Dia sadar ada yang aneh dari ekspresi yang Kaivan tunjukkan. Ada keraguan yang mendadak hadir dan ekspresi semangat yang dulu dia lihat kini telah hilang.
"Bapak tahu kamu selama satu semester cuti buat nenangin diri dan semua rencana yang kamu lakuin tertunda, tapi Bapak masih berharap besar ke kamu, Kaivan. Kamu anak yang pintar dan berbakat, jadi Bapak yang semua yang ada di kepala kamu bisa ngasih perubahan terutama untuk Prodi kita."
Kaivan menatap bola mata penuh khawatir milik lelaki yang dia jadikan role model itu. Ujung bibirnya kemudian tertarik pelan. Rasanya aneh. Dia teringat akan masa depan yang sempat dia rangkai, sebelum akhirnya perlahan redup dan nyaris hilang itu.