[M] Pada suatu pagi, Kaivan menemukan dirinya terkapar di tepi hutan belantara tanpa pakaian. Dia linglung, beberapa penduduk yang menemukan dirinya berusaha menolong, tetapi dia malah berteriak ketakutan. Kedua matanya menatap nyalang, sedangkan tu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Waktu berlalu. Pada dasarnya, waktu tak benar-benar menjadi penyembuh untuk semua luka yang ada. Waktu hanya menjadi sebuah jeda dalam melupakan sesuatu yang sempat membuat sedih dan trauma. Luka yang didapatkan akan menjadi sebuah pelajaran atau mungkin hal memalukan untuk diingat.
Waktu berlalu. Sudah hampir tujuh bulan lamanya Kara dan Kaivan saling mengenal, membagi banyak hal manis, saling tersenyum dan tertawa, serta menghapus air mata satu sama lain. Tujuh bulan mungkin waktu yang cukup singkat untuk saling mengenal, tetapi sayangnya tak ada di antara mereka yang mengaku perihal perasaan mereka sendiri.
Dia adalah temanku. Begitulah mereka mengenalkan diri mereka pada orang-orang yang mereka temui.
Waktu berlalu. Sudah tujuh bulan lamanya Kaivan meninggalkan masa lalu buruknya di dalam memori di kepala. Walaupun mimpi buruk itu masih suka mampir, tetapi setidaknya saat ini Kaivan punya seseorang yang bisa dia hubungi dan memberikannya pelukan saat dia butuh.
Lantas hari ini, setelah seminggu tidak bertemu, mereka akhirnya punya waktu luang. Kaivan mendadak menghubungi dan mengajaknya bertemu di stasiun kereta api di pagi hari ini. Kara tak banyak bertanya dan menurut saja, yang penting dia bisa bertemu dengan pemuda itu.
"Kita mau ke mana hari ini?" tanyanya, kening perempuan dengan rambut panjang itu terlihat berkerut.
Kaivan menggenggam kedua tangan Kara, pun menatapnya hangat—mereka kini berdiri berhadapan dan mengabaikan bagaimana ramainya Stasiun Jogjakarta akhir minggu ini. "Kamu mau nggak, kalau kita pergi jalan-jalan keliling Kota Solo?" tanyanya kemudian, "Kita naik kereta," lanjutnya sembari menggoyang-goyangkan tangan mereka.
Kara masih terlihat bingung, "Selama sehari? Nggak nginep?" tanyanya, pun terdiam sejenak tatkala dia menyadari akan pertanyaannya barusan.
Bodoh, gumamnya kesal.
Sontak saja Kaivan terkekeh kecil tatkala melihat air wajah itu, sebuah anggukan kemudian dia berikan sebagai jawaban. "Sehari aja, kita keliling Solo. Biar aku yang jadi pemandu wisata," balasnya. "Kamu pernah ke sana, belum?"
Kara berdeham, pun menggeleng pelan. "Nggak yang keliling, tapi pernah ke beberapa tempat penting yang ada di sana."
Sebuah senyum hadir. Kaivan begitu bahagia mendengar jawaban itu, sebab hari ini dia akan memberikan pengalaman terbaru untuk sosok Rapunzel ini. Kaivan juga sudah menyiapkan rencana ini sejak minggu lalu disela-sela kegiatannya, sembari berharap bahwa Kara belum pernah mengunjungi tempar-tempat yang akan mereka datangi nanti.
"Jadi, mau ke sana sekarang?"
Anggukan menjadi jawaban. Kaivan kemudian menarik tangan yang masih dia genggam dengan erat itu menuju loket tiket. Pun setelahnya, mereka melaju dibawa oleh kereta api menuju Kota Solo. Akhir pekan ini, setelah seminggu lamanya tak bertemu karena kesibukan masing-masing, mereka akan menghabiskan waktu bersama seharian.