[M] Pada suatu pagi, Kaivan menemukan dirinya terkapar di tepi hutan belantara tanpa pakaian. Dia linglung, beberapa penduduk yang menemukan dirinya berusaha menolong, tetapi dia malah berteriak ketakutan. Kedua matanya menatap nyalang, sedangkan tu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hujan turun begitu lebat di awal bulan Juni ini. Pesawat berputar-putar di jalurnya sebab tak bisa mendarat. Gelegar petir terdengar, kilat seolah-olah tengah membelah bumi di kejauhan sana. Suara gemericik hujan terdengar jelas dari jendela yang tertutup rapat.
Sewaktu kecil, Kaivan sangat suka hujan. Ayahnya akan mengajaknya untuk bermain bola di lapangan bersama dengan rekan sang ayah. Tawa terdengar menggelegar bersama gemerisik air hujan dari langit. Lapangan terlihat basah, tetapi kaki kecilnya terus berlari mengejar bola untuk kemudian digiring menuju gawang.
Bengkulu bukanlah sebuah kota besar selayaknya kota lain. Tak banyak gedung pencakar langit seperti di Jakarta, beberapa peninggalan terlihat tak dirawat dengan baik. Namun, kota ini adalah sebuah rumah yang dipenuhi kehangatan dan juga kenangan manis. Di manapun kaki melangkah, semua hal yang ada di Bengkulu sulit untuk dilupakan.
Awalnya Kaivan menjadikan Bengkulu sebagai sebuah rumah untuk singgah, bukan menetap. Kenangan yang ada di sana mungkin tak bisa dilupakan, tetapi dia tidak bisa melihat masa depan di sana. Maka dengan semua keberanian yang dia miliki, dia terbang berkilo-kilo meter ke Jogja untuk menempuh pendidikan.
Namun sayangnya, rumah yang dia anggap sebagai tempat singgah itu telah menghilang.
Kemarin, saat dia sedang menunggu pesan balasan dari Kara, dia malah menemukan nama dari ayahnya Yoza pada layar. Lelaki itu jarang menghubungi, maka tanpa perasaan aneh sedikitpun dia menjawab panggilan itu. Pun setelahnya, dia kelabakan. Semua kalimat yang lelaki itu katakan dengan suara bergetar itu berhasil membuat Kaivan terisak begitu keras.
"Bunda masuk rumah sakit, bisa pulang sekarang?"
Katanya, sang bunda tiba-tiba jatuh pingsan saat sedang menjemur pakaian. Kata dokter, sang bunda mengalami serangan jantung. Tensi darahnya tinggi dan dia teridentifikasi mengalami hipertensi. Jantungnya sudah tidak bisa bekerja dengan baik dan Kaivan dipaksa untuk menerima semua hal buruk yang sewaktu-waktu akan datang.
Maaf Bunda *idak bisa jadi Bunda yang baik untuk, Kai. Maaf kalau *selamo*iko *idak bisa bikin Kai hidup nyaman, kalau *ado kehidupan kedua, jangan jadi anak Bunda lagi, yo? Jadilah anak dengan orangtua yang jauh lebih baik dari Bunda. Berek yo, Kai? Dari *kecik Kai selalu jadi sosok dewasa yang *idak pernah nangis depan Bunda.
Katanya, dinding rumah sakit menjadi tempat yang paling banyak mendengarkan doa tulus manusia ketimbang tempat ibadah di manapun itu. Kaivan membenarkan hal itu. Rasanya begitu melelahkan. Dia tidak lagi terlihat menangis saat memohon pada Tuhan, sebab pada kenyataannya ada beberapa wajah yang tak lagi basah dan hanya dihiasi kekeringan yang hampa.
Kaivan tidak pernah membayangkan bahwa surat terakhir yang dia baca akan menjadi sebuah surat dengan kalimat paling menyakitkan yang pernah dia baca. Rasanya hidup yang dia miliki sudah tak berguna lagi. Alasan di mana dia hidup dan bertahan kali sudah pergi. Kaivan kehilangan arah.