[M] Pada suatu pagi, Kaivan menemukan dirinya terkapar di tepi hutan belantara tanpa pakaian. Dia linglung, beberapa penduduk yang menemukan dirinya berusaha menolong, tetapi dia malah berteriak ketakutan. Kedua matanya menatap nyalang, sedangkan tu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hal paling tidak membuat nyaman saat patah hati adalah kita harus mulai terbiasa tanpa kehadiran sosok yang selalu mengucap selamat pagi saat kedua mata baru saja terbuka atau sebuah pertanyaan tentang bagaimana hari yang dilewati saat tubuh lelah itu sudah terbaring di atas ranjang.
Kara tak pernah jatuh cinta sebelum ini, dia begitu fokus pada pendidikannya dan tak punya waktu untuk mengenal siapa pun. Terutama saat dia menyadari bahwa jatuh cinta adalah sebuah kesia-siaan, sebab dirinya sudah memiliki calon suami yang disiapkan oleh keluarganya.
Dia pikir orang-orang yang menangis karena patah hati adalah orang-orang bodoh yang tidak bisa menikmati hidup dengan baik. Well, mereka yang belum pernah merasakan memang cenderung bertindak agresif dalam menanggapi. Lantas setelah dia pulang dari Solo dan bertengkar dengan Kaivan—hari di mana dia tak bisa tidur dan uring-uringan sambil menangis di atas ranjang—dia baru menyadari bahwa patah hati memang akan dilewati dengan sebuah tindakan bodoh yang membuang-buang waktu.
Semua realitas yang ada di dalam kepalanya, kalimat-kalimat pengingat agar tak bertindak bodoh sewaktu belum jatuh cinta, kini menghilang. Kara menjadi bagian dari orang-orang yang kehilangan semangat hidup, makan tak kenyang, dan tidur tak nyenyak.
Sialnya lagi, Kaivan benar-benar mengabaikan dirinya. Bahkan kebiasaan pertama saat bangun tidurnya yang dulu dilakukan untuk membuka gorden dan menghirup udara segar di pagi hari, kini telah berubah dengan mengecek ponsel dan berakhir menangis karena tak ada satu pun pesan yang dia harapkan hadir mengisi layar ponselnya yang kosong tanpa notifikasi.
Perempuan itu kini terduduk di sofa ruang kerjanya sekaligus ruang kerja milik Ibu Faras. Wajahnya nampak berantakan, tatapannya sayu, sorot matanya sendu, ada begitu banyak hal yang berkecamuk di dalam kepalanya dan terlihat jelas lewat raut wajahnya. Ibu Faras yang baru saja keluar dari ruang konsultasi mendengus mendapat anak didiknya yang duduk lemas di atas sofa, lagi.
"Muka kamu kenapa berantakan gitu? Udah lima hari dan kamu tetap aja keliatan kayak baju kusut yang baru aja dikunyah sapi," katanya.
Mengabaikan bagaimana ejekan itu yang jelas-jelas tertuju untuknya, Kara nampak menatap pada perempuan ini. "Ibu Faras," panggilnya, dia mendengus sebelum akhirnya melontarkan sebuah pertanyaan. "Ibu pernah jatuh cinta, nggak?"
Ibu Faras memang belajar ilmu psikolog sejak lama dan ekspresi yang Kara tunjukkan memang sudah bisa dia tebak. Namun, perempuan ini memilih untuk diam dan bertindak biasa-biasa saja. Sampai akhirnya Kara sendiri yang bercerita dan mengomunikasikan semuanya.
Perempuan itu melangkahkan kakinya menuju meja kerja, pun duduk sembari menatap layar komputer yang mulai menyala. "Sama klien atau sama orang biasa? Kalau sama klien belum pernah," jawabnya kemudian.
Kara seketika meluruskan bahu, air wajahnya berubah kaget. "Ibu Faras tahu?" tanyanya.
Yang ditanya tak langsung menjawab, kedua matanya beralih pada sosok Kara yang diam menunggu jawaban. "Aku nggak sengaja liat kamu sama dia beberapa kali di luar," jawabnya setelah mengangguk sekali.