Sebuah Akhir

48 4 4
                                        

"Kamu udah tahu kalau bocah itu lanjut S2 ke Edinburgh?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kamu udah tahu kalau bocah itu lanjut S2 ke Edinburgh?"

Kara terdiam. Tatapannya terlihat kosong. Pertanyaan yang baru saja Zarah tanyakan berdengung di kepalanya. Perempuan itu tak tahu harus memberi reaksi seperti apa, sedangkan dia terlalu kaget untuk berpura-pura tahu akan fakta menyedihkan itu.

Satu bulan sudah dia menghilang. Mengurung diri atas kepergian Ajeng, membiarkan rumah itu semakin terasa bak kutup utara yang membeku setelah keputusan sang Oma untuk berdiam diri di rumah belakang, dan tak menghubungi Kaivan sedikit pun sekali pun dia merasa bahwa dia teramat rindu pada pemuda itu.

Mungkin dia terlalu sibuk dengan rasa sakitnya sendiri, sayangnya juga Kara bukanlah seseorang yang mau bercerita atas rasa luka yang dia punya. Mungkin karena sejak kecil dia sudah terbiasa tidak diajarkan untuk mengungkapkan perasaannya sendiri, hingga dewasa dia tumbuh menjadi seseorang yang lebih memilih diam.

Zarah yang sejak tadi sibuk melakukan pemanasan, tidak memperhatikan bagaimana ekspresi wajah datar dan kosong milik Kara. Dia pikir perempuan itu sudah tahu dan dia hanya bercerita sebab sudah lebih satu bulan dia tak melihat sahabatnya ini, hingga akhirnya dia bisa membawanya keluar ke tempat Pilates.

"Om Ahmad yang cerita, kemaren dia senyum lebar banget sambil bawa pizza. Kirain dia mau lepas masa dudanya, ternyata bahagia karena murid kesayangannya bakal lanjutin kuliah ke Edinburgh."

Zarah sebenarnya agak kaget bahwa Kaivan, pemuda yang berhasil memberikan sedikit warna pada sahabatnya ini, adalah mahasiswa kesayangan adik dari mamanya itu. Terlebih lagi, Ahmad juga beberapa kali menceritakan soal mahasiswa kesayangannya itu dengan wajah penuh binar bahagia.

"Rada kaget sih, gue. Apalagi itu bocah 'kan, yang kemaren ngejar-ngejar lo. Gue...."

Ucapan Zarah tak selesai tatkala Kara mendadak berdiri dan berlari keluar ruang Pilates. Kedua matanya yang tadi hanya berfokus pada diri sendiri di hadapan cermin, kini beralih menatap sosok perempuan yang berlari tanpa alas kaki.

"Kara! Hey! Mau ke mana?"

Zarah menghela napas cukup dalam. Sial, pikirnya. Dia sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal saat ini. Seharusnya memang tidak langsung mengatakan semuanya, apalagi Kara baru saja mau diajak keluar setelah satu bulan mengurung diri.

Sedangkan sosok Kara kini sudah berada di dalam sebuah taksi. Ponselnya dia genggam dengan erat, sementara kedua matanya menatap layar datar itu. Jantungnya berdetak tak karuan. Benda persegi dengan mesin itu melaju cukup pelan di antara jalanan yang cukup macet. Sebuah tempat yang langsung terlintas di pikiran Kara langsung dia katakan dan sang supir mengangguk mengiyakan.

Hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah tempat yang menjadi awal dari perasaannya tumbuh. Angin berhembus cukup kencang, sedangkan cahaya matahari mencoba menerobos di antara cela-cela pepohonan yang rimbun. Kakinya yang telanjang akhirnya melangkah masuk.

DrowningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang