Sebuah Penantian

95 6 1
                                        

Februari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Februari

Maret

April

Mei

1

2

3

4

.

.

.

🍃

Entah sudah berapa kali dalam tiga tahun ini Kara menghitung waktu. Tepat setelah kedua bola matanya terbuka, hal pertama yang dia lihat adalah ponselnya dan juga tanggal pada hari itu. Waktu berlalu begtitu lamban, sedangkan rindu yang tersimpan begitu besar, tetapi sayangnya dia masih terlalu gengsi untuk menghubungi lebih dulu.

Setelah kepergiannya dari Museum Ullen Sentalu dan meninggalkan sosok Kaivan yang sama sekali tak melihat ke arahnya setelah kalimat panjangnya tentang merelakan, dia sama sekali tak menanyakan kabar sosok itu. Gelembung pesan terakhir adalah saat Kaivan mengatakan ingin bertemu dengannya sesaat sebelum Ajeng meninggal. Pesan mereka tenggelam di antara kesibukan baru yang mereka hadapi tiga tahun ini.

"Non, ada kiriman bunga dari Tuan Wiran!" sebuah kalimat terdengar menggema dari luar pintu kamarnya beriringan dengan ketukan pintu.

Kara menoleh, sebuah senyum kecil terlihat. Rambutnya yang masih basah terlihat menetes membasahi baju handuk yang dia kenakan.

"Letakkan ke tempat biasanya ya, Bi. Kara lagi siap-siap," katanya sedikit meninggikan suara.

Setelah mengatakan itu, suara langkah kaki terdengar menjauh. Kara kemudian beranjak guna mengambil pakaian yang berada di dalam lemari. Namun baru saja mengambil dua langkah, ponselnya terdengar berdering.

Itu adalah panggilan video dari Wiran, sosok yang baru saja memberinya bunga.

"Selamat sekali lagi," kata lelaki itu setelah panggilan telpon tersambung.

Kara tersenyum, "Terima kasih, Kak."

"Aku turut bahagia dengan pencapaian kamu sekarang," lanjutnya, "Aku nggak nyangka kalau kamu akan menjadi seseorang yang sangat bermanfaat untuk banyak orang, terutama anak-anak."

"Kita jadi pergi, 'kan?" Kara bertanya tanpa menggubris pujian dari lelaki ini.

Anggukan menjadi jawaban, "Diana udah siap dari tadi, kayaknya dia udah nggak sabar mau ketemu sama bundanya."

Kara terkekeh, "Udah dulu, Kak. Aku mau siap-siap, makasih atas bunganya."

Wiran mengangguk, pun memutus sambungan telpon. Kara kembali bersiap-siap dengan mengambil setelan santai yang akan dia gunakan hari ini. Akhir pekan memang waktu yang tepat untuk dihabiskan dengan keluarga, walaupun memang acap kali macet. Namun, waktu libur harusnya dihabiskan dengan keluarga alih-alih berdiam diri sendiri di rumah tanpa melakukan apa-apa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 28, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DrowningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang