[M] Pada suatu pagi, Kaivan menemukan dirinya terkapar di tepi hutan belantara tanpa pakaian. Dia linglung, beberapa penduduk yang menemukan dirinya berusaha menolong, tetapi dia malah berteriak ketakutan. Kedua matanya menatap nyalang, sedangkan tu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Waktu berlalu terlalu cepat tahun ini, meninggalkan memori menakutkan yang sempat membuat tubuh nyaris tak mampu lagi bertahan. Hari berganti hari, semua hal terjadi tanpa bisa diprediksi. Berita tentang korupsi, banjir, bahkan tentang kecelakaan yang menimpa ketiga orang yang telah membuat Kaivan nyaris mengakhiri hidupnya.
Arwan menghubunginya, lelaki itu mengatakan bahwa mereka dinyatakan meninggal dalam kecelakaan tunggal di tol Jogja-Solo waktu itu. Kejahatan yang mereka lakukan mungkin tak bisa diadili oleh hukum di dunia, tetapi Tuhan yang tak tidur telah memberi mereka hukuman yang seharusnya.
Awalnya Kaivan tak mau pulang ke Jogja, alasannya karena dia telah kehilangan semangat untuk tetap melanjutkan mimpinya—sebab dia merasa bahwa alasan mimpi itu tercipta telah hilang. Namun setelah dia mendapati ratusan pesan yang belum dia baca dari Kara, lelaki itu merasa bahwa mungkin hidupnya yang menyedihkan masih menyisakan sedikit harapan untuk menuju kebahagiaan.
Maka dengan sedikit harapan yang hadir, dia kembali mengemasi pakaian dan terbang ke Jogja bersama dengan Yoza. Pijar masih di Bengkulu karena pekerjaan, dia juga masih belum memiliki alasan untuk meninggalkan kota ini dan masih ingin menemani dua perempuan yang dia cintai—yang tertidur berdampingan.
Lantas di sana Kaivan berada. Wajahnya terlihat datar menatap pintu kamar di rumah sakit. Tak ada ekspresi yang terpancar pada wajahnya yang dulu terlihat memiliki begitu banyak tekanan atau sorot takut yang terlihat pada kedua bola matanya.
Kara yang sejak tadi berdiri di sebelahnya hanya bisa diam, mencoba memberikan ketenangan, serta menggenggam erat tangannya yang saling bertautan. Pun tatkala Kaivan menoleh, perempuan ini terus memperlihatkan sebuah senyum manis yang terlihat tulus.
"Kalau nggak mau, kita bisa pergi."
Kaivan sadar bahwa senyum yang coba Kara perlihatkan adalah sebuah perasaan gugup yang coba dia sembunyikan. Perempuan ini terlihat berusaha memberikan ketenangan dan rasa nyaman pada Kaivan. Dia kemudian tersenyum dan menggeleng—meyakinkan bahwa dia tidak apa-apa.
Lantas dengan keberanian yang telah dia kumpulkan, Kaivan mendorong pintu kamar itu dan menemukan sosok asing yang terbaring lemah dengan wajah pucat pasi. Perempuan itu terlihat kaget dan merasa gugup, dia mencoba menyembunyikan pergelangan tangannya yang berbalut kain kasa.
Kaivan melangkahkan kakinya dengan yakin, lantas berdiri di samping ranjang pesakitan dengan Kara yang masih setia menemani dan menggenggam tangannya. Sedangkan sosok yang terbaring itu terlihat memalingkan wajahnya—ada sejuta perasaan malu yang bertumpuk di sana.
"Aku tahu jutaan maaf yang aku ucapin ke kamu nggak bakal bisa ngubah keadaan jadi lebih baik dari sebelumnya," katanya dengan gugup, dia masih mencoba menyembunyikan luka yang ada di pergelangan tangannya. "Tapi, Kaivan. Hanya kalimat itu yang bisa aku bilang ke kamu, aku cuma bisa memohon maaf dan ampunan ke kamu."
Kaivan tak mengatakan apa-apa, hingga membuat perempuan ini menoleh dan menatap sosok itu dengan air wajah penuh ketakutan. Dara, sosok itu, lantas memalingkan wajahnya lagi. Kaivan masih menatapnya dengan ekspresi dingin dan tajam.
"Sebelum ke sini, aku bahkan nggak tahu siapa nama kamu. Sebelum ke sini, aku udah nyiapin jutaan makian buat kamu. Sebelum ke sini, aku udah ngebayangin gimana cara aku ngetawain kebodohan kamu."
Kaivan terdiam, dia menjeda ucapannya cukup lama sembari menatap pergelangan tangannya. Sosok yang baru saja dia ketahui bernama Dara ini adalah sosok yang diberi perintah untuk menyentuh tubuhnya. Kaivan hanya bisa diam saat dia mendapatkan kabar bahwa dia dilarikan ke rumah sakit, karena ditemukan mencoba melakukan percobaan bunuh diri di toilet penjara.
"Tapi setelah di sini, semua hal yang ada di kepala aku menghilang. Aku bahkan nggak ingat gimana wajah orang yang ngelecehin aku malam itu dan gimana cara dia ngelecehin aku," katanya melanjutkan, Kaivan semakin mengeratkan genggaman tangannya. "Tapi setelah di sini, aku sadar akan satu hal."
Kalimat itu kembali menggantung. Kaivan terdiam dengan kedua mata yang terus menatap ke arah Dara yang tertunduk. Borgol terlihat mengikat pergelangan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya berbalut kain kasa. Lelaki ini menghela napas, dia teringat akan rasa perih dari luka yang diakibatkan oleh perbuatannya itu.
"Dara, kenapa kamu harus hidup sebagai manusia menyedihkan seperti ini?" sang empunya nama menoleh, dia menemukan sosok Kaivan yang kini menatapnya sendu. "Jangan mati, Dara. Hadapi semua risiko atas perbuatan kamu, tebus semua dosa kamu, terima hukuman kamu. Aku bisa bersikap sok bijak dan munafik dengan bilang kalau aku udah maafin kamu saat ini, serta berpura-pura menyadari kalau kamu juga korban di sini. Tapi aku tetaplah manusia, bagaimana pun keadaannya, kamu tetaplah seseorang yang menghadirkan luka di dalam hidupku. Satu-satunya yang akan menerima permohonan maaf dan ampunmu hanyalah Tuhan, sedangkan aku bukan Tuhan."
Air mata yang sejak tadi mendesak keluar, kini mengalir deras membasahi pipi. Dara mulai menyadari bahwa kesalahan yang dia lakukan memang tak akan bisa ditebus hanya dengan sebuah maaf. Segala penyesalan dan andai-andai itu mendadak hadir. Mungkin akan lebih baik jika dia menjadi seorang anak dari kampung yang benar-benar berkuliah dan menyelesaikan pendidikannya, kemudian mencari kerja seperti manusia pada umumnya.
Dia menyesali semua perbuatan yang dia lakukan, tetapi dalam satu waktu dia sadar bahwa penyesalan yang dia hadapi adalah sebuah keterlambatan. Ketiga orang yang telah membawanya pada neraka dunia kini telah menghilang, meninggalkan dirinya sendiri di dunia yang menyedihkan.
Dara mencoba mengakhiri hidupnya juga karena itu, sebab dia terlalu takut karena ditinggalkan sendirian menanggung semua kesalahan yang sebenarnya tak dia lakukan secara sengaja atas kemauannya sendiri.
Perasaan sukanya pada Deon membawanya pada sebuah dunia gelap yang menawarkan kebahagiaan duniawi. Semua hal yang dia dapatkan dengan menuruti semua keinginan mereka bertiga, perbuatan mereka yang terkesan merendahkan, dan tak jarang Dara hanya dijadikan objek di mana dia akan diberikan surga sebelum akhirnya dipaksa masuk ke dalam neraka menakutkan lainnya.
Keberaniannya untuk mengaku dan bersedia menjadi saksi atas perbuatannya pada Kaivan juga menjadi alasan di mana dia ingin menjadi manusia yang lebih baik, tetapi sayangnya perasaan takut sendirian itu tetap menghantui ditambah setelah dia mendengar kabar bahwa ketiga bajingan itu malah tewas dalam sebuah kecelakaan setelah melakukan pelarian.
"Mungkin lucu kalau bilang makasih ke kamu setelah apa yang terjadi, setelah semua kehilangan yang harus aku hadapi dan luka yang harus aku obati sendiri. Tapi terima kasih... terima kasih sudah menjadi manusia menyedihkan yang jahat di dalam hidupku," Kara menoleh, dia hanya diam mendengarkan konversasi kedua orang ini. "Kehilangan yang aku hadapi, setidaknya menghadirkan beberapa pelajaran untukku supaya menjadi lebih kuat."
Masih dengan tangan yang saling bertautan, Kaivan memutar tumit. "Selamat tinggal, Dara. Kalau kehidupan kedua memang ada, aku harap kita nggak ketemu lagi. Bahkan jika memang ditakdirkan untuk bertemu, aku harap kita tetap menjadi dua manusia asing yang hidup di atas bumi."
Setelah mengatakan kalimat itu, dia langsung beranjak pergi dengan Kara yang masih menemani dirinya. Ada perasaan yang tak nyaman di dalam dadanya, tetapi Kaivan tak mau menganggap perasaan itu sebagai bentuk empati pada sosok yang telah memberinya trauma.
Mungkin Dara hanyalah korban, tetapi Kaivan tetaplah seorang manusia biasa yang juga terluka parah.