Seorang Kerabat

18 2 0
                                    

Terhitung sudah tiga bulan sejak kejadian yang menimpa Kaivan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Terhitung sudah tiga bulan sejak kejadian yang menimpa Kaivan. Waktu terasa berhenti untuknya. Semua hal menjadi berantakan dan nyaris tidak bisa dia kendalikan.

Skripsi yang seharusnya sudah berjalan, waktu yang dia habiskan dengan teman-teman, atau mungkin berbagi pengetahuan dengan dosen favoritnya di kampus. Kaivan merasa tertinggal, tetapi dia sendiri masih terjebak pada waktu di mana dia telah kehilangan dirinya sendiri.

Namun terlepas dari itu semua, setidaknya Kaivan sudah jadi lebih baik. Sebulan terakhir setelah dia melakukan konsultasi dengan psikolog, pemuda ini sudah bisa mengontrol dirinya sendiri—walaupun masih suka bermimpi buruk.

Kata-kata Kara terus terngiang di kepalanya, menjadi kalimat magis yang menghadirkan sedikit ketenangan di dalam dirinya. Perihal senyum manis dari perempuan itu, kedua mata bulat yang selalu memancarkan binar bahagia, dan pipi semerah senja yang dia lihat lewat jendela rumah Yoza waktu itu.

Lantas hari ini, entah kenapa dia malah menemukan seseorang yang menangis sembari memeluknya erat. Kaivan merasa benar-benar tidak nyaman. Dia tidak suka melihat seseorang yang terkesan seperti mengasihani hidupnya yang malang.

Tidak, jangan menatapku dengan air mata berlindang seperti itu. Sayangnya, aku belum mati.

Sosok dengan wajah yang mulai terlihat berkeriput ini begitu erat memeluknya, mengatakan begitu banyak kalimat prihatin atas hidup dari anak lelaki yang sudah dia anggap sebagai anaknya itu.

Setelah adegan menangis yang cukup memakan waktu itu, ketiganya kini berada di dalam mobil. Melaju dengan kecepatan sedang memecah jalanan Yogyakarta yang cukup ramai. Matahari bersinar begitu terik, sedangkan jarum jam baru menunjuk angka sebelas.

Benda persegi itu berhenti tatkala lampu lalu lintas menyala merah, Yoza kembali mendengus. "Papa nggak harus ngajak Kai, kalau mau numbalin orang mending Yoza pergi aja sendiri."

Sebenarnya Yoza juga kesal dengan kehadiran sang papa, terlebih lagi pada bujang lapuk yang menjomblo dari lahir bernama Anwar yang sudah membocorkan kondisi Kaivan. Bahkan mereka saja sampai sekarang belum mengabari sang bunda dan masih berusaha menutupi semua yang terjadi.

Lelaki berperawakan tinggi dan berkulit sawo matang itu berdecak kesal, "Kamu ini suka banget salah paham sama Papa, padahal Papa mau bantu Kaivan sembuh. Anwar juga bilang kalau Kaivan ini masih susah bersosialisai, jadi harus diajarkan dan bukannya dibiarin di kamar terus kayak yang kamu lakuin."

"Tapi Pa, Kai itu...."

"Kita udah sampai," Pijar langsung menyela kalimat sang anak tatkala mereka sudah sampai di tujuan.

Yoza menelisik, dia kemudian bertanya. "Kita di mana?"

Lelaki itu melepas sabuk pengaman, pun menjawab. "Rumah Nek Siti, temen baik nenek kamu waktu dia masih muda."

Siapa pula Nek Siti itu? Yoza mengerutkan kening sebab merasa bingung, pun ikut turun setelah menoleh ke belakang di mana Kaivan berada dan memastikan bahwa pemuda ini baik-baik saja.

DrowningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang