Seorang yang Mencintai Sejarah

10 2 0
                                    

Nyaris dua bulan sudah dia melakukan konsultasi untuk pasien pertamanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nyaris dua bulan sudah dia melakukan konsultasi untuk pasien pertamanya. Kara yang awalnya merasa sedikit tidak percaya diri karena dirinya juga tidak sebaik itu, perlahan merubah sudut pandangnya. Sosok yang dia temui dengan wajah kuyu dan lingkaran hitam di bawah matanya itu adalah sosok yang mengubah dirinya.

Kaivan menjadi seorang teman yang tak jarang bertanya banyak hal padanya, entah itu tentang hal-hal sederhana seperti kondisi tidurnya tadi malam atau mungkin tentang sudut pandangnya tentang hidup. Kara menjawab semua pertanyaan itu dan ikut larut pada kalimatnya sendiri. Dia belajar banyak hal dari sosok itu dan ikut tumbuh bersama dengannya.

Namun terlepas dari itu semua, Kara mencoba membatasi diri. Dia adalah seorang psikolog dan Kaivan adalah pasien yang membutuhkan objektivitas yang tinggi atas masalahnya. Dia juga tidak mau kehilangan pekerjaan ini dan membuat Ibu Faras mengamuk, sebab Kara juga sudah mulai menyukai pekerjaannya.

Walaupun terkadang, semua kalimat yang Kaivan katakan padanya sewaktu di gazebo taman belakang rumah pada hari ulang tahun sang oma masih suka mampir di dalam mimpi. Perihal hujan panas yang mendadak datang dan menghadirkan pelangi atau mungkin senyum pertama yang dia lihat pada wajah sendu dan kuyu sosok itu.

Emang ada monster secantik kamu?

Lantas di hari libur ini Kara pergi menjelajahi tempat yang jarang dikunjungi ole wisatawan di Jogja. Dia butuh sebuah tempat sunyi dan tenang, yang tentu saja tidak akan dia dapatkan di rumah—sebab sang oma akan selalu berteriak menyuruhnya ini dan itu dengan embel-embel tugas wanita di rumah.

Suara deru mobil taksi yang tadi membawanya pergi perlahan menghilang. Kara mendongak menatap tempat yang menjadi tujuannya kali ini. Kedua matanya menatap tulisan di pintu masuk; Museum Ullen Sentalu. Tempatnya tidak terlalu ramai, tetapi ada beberapa pengunjung yang terlihat mengantre di pintu masuk untuk membeli tiket.

Setelah masuk, Kara mulai menjelajah dengan seorang pemandu yang ada di depan sana. Suara dari pemandu tak begitu terdengar jelas, sebab dia berjalan cukup jauh dari pengunjung lain untuk menikmati waktunya memandang satu demi satu peninggalan Keraton Mataram ini.

Di antara lorong-lorong berliku yang menyerupai labirin, Museum Ullen Sentalu berdiri seperti penjaga kisah-kisah masa lampau. Cahaya temaram mengiringi setiap langkah, menciptakan suasana magis yang seolah menghubungkan waktu kini dengan masa kejayaan Keraton Mataram.

Kara lantas berhenti di depan lukisan besar yang menggambarkan seorang putri berparas anggun, matanya tajam namun lembut, seakan bisa membaca isi hatinya. Di samping lukisan itu, lembaran-lembaran syair dipajang dalam kaca, setiap baitnya mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan.

"Ini Gusti Nurul," suara lembut itu mengagetkanya, Kara seketika menoleh dan menemukan sosok yang coba dia hindari karena tidak baik untuk kesehatan jantungnya itu sudah berdiri di sampingnya. "Beliau adalah simbol kecantikan dan modernitas pada masanya, beliau adalah seorang putri bangsawan dari Mangkunegaran. Gusti Nurul adalah sosok perempuan yang melampaui zamannya—dia menolak untuk dipoligami meskipun dilamar oleh banyak tokoh besar, termasuk Sultan Yogyakarta dan Presiden Sukarno."

DrowningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang