Prolog

71 5 0
                                    

Gelap dan pengap—hanya ada sedikit cahaya yang masuk lewat celah ventilasi yang tertutup gorden

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gelap dan pengap—hanya ada sedikit cahaya yang masuk lewat celah ventilasi yang tertutup gorden. Ruangan ini terasa begitu dingin. Debu-debu kecil perlahan turun mengotori lantai yang berantakan. Sosok yang menjadi satu-satunya makhluk hidup di ruangan itu hanya bergeming di atas kasur dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.

Kaivan ingat bahwa sewaktu kecil dia pernah mendengar ceramah dari seorang pemuka agama, hanya beberapa kalimat sebab saat itu dia masih kecil dan sibuk bermain di shaf paling akhir. Katanya begini; Allah tidak pernah menguji manusia melebihi batas kemampuan umat-Nya.

Setelah dewasa seperti sekarang, Kaivan merasa bahwa Tuhan berekspektasi berlebihan terhadap manusia. Bahkan dia yakin bahwa tak sedikit manusia yang hidup hanya karena tidak bisa mati-mungkin terlalu takut untuk kehabisan darah karena menyayat pergelangan tangan atau kehabisan nafas karena tercekik.

Kedua matanya yang bengkak dengan lingkaran hitam itu menatap langit-langit kamar di rumah milik sahabat kecilnya ini. Sebuah senyum getir hadir. Lagi, dia merindukan rumah dan dirinya di masa kecil. Ada begitu banyak 'seandainya' yang hadir. Jikalau memang ada mesin waktu seperti di film Doraemon, maka Kaivan ingin kembali ke masa dua tahun yang lalu di mana dia belum memutuskan untuk mengambil kuliah di mana.

Sebab tempat yang dia pikir akan menjadi awal baru dari kehidupan dewasanya, malah menempatkan dirinya pada sebuah penderitaan yang tak bisa dia hentikan.

Suara samar langkah kaki terdengar dari luar, pun beberapa detik kemudian daun pintu yang sudah dua hari tak dibuka itu diketuk. Kaivan terperanjat kaget dan menatap ke arah pintu dengan tatapan nanar serta ekspresi ketakutan. Nafasnya tercekal, kepalanya terasa pening luar biasa.

"Kai? Lo di dalam, 'kan?" suara itu terdengar menggema masuk ke dalam pendengarannya, "Udah dua hari gue nggak lihat lo, gue khawatir anjir!"

Kaivan bukannya tidak mau menjawab, dia hanya tidak bisa membuka mulutnya seperti dua hari yang lalu. Lidahnya terasa begitu kelu, kalimat yang terangkai di ujung lidah tak mampu dia ucapkan. Tubuhnya menggigil ketakutan, lagi. Dia menarik tubuhnya lebih dalam pada selimut tebal yang membungkus tubuh itu.

"Kai?" Yoza—sahabatnya—kembali memanggil, sebelum akhirnya suara itu kembali menghilang.

Di dalam selimut yang membungkus tubuhnya, Kaivan berusaha menutupi semua ketakutan yang mendadak kembali datang. Suara tawa nyaring itu, wajah yang mengejeknya, bahkan tangan yang menggerayangi tubuhnya. Kaivan meringkuk mencoba menahan semua perasaan tak nyaman yang lagi-lagi datang.

Keringatnya mengucur deras, sedangkan tubuhnya masih menggigil ketakutan. Kaivan merasakan bahwa nafasnya tercekat, seolah-olah pasokan oksigen telah berkurang di dalam paru-paru. Detik berikutnya dia merasakan pening luar biasa dan kepalanya berputar.

Lantas tanpa sengaja kakinya menyentuh benda persegi yang dua hari yang lalu berhasil membuatnya ketakutan setengah mati. Benda persegi itu kembali memutar sebuah rekaman yang membuatnya mengingat apa yang telah terjadi padanya dua minggu yang lalu.

DrowningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang