[M] Pada suatu pagi, Kaivan menemukan dirinya terkapar di tepi hutan belantara tanpa pakaian. Dia linglung, beberapa penduduk yang menemukan dirinya berusaha menolong, tetapi dia malah berteriak ketakutan. Kedua matanya menatap nyalang, sedangkan tu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesampainya di Jogja, keduanya langsung memesan taksi online untuk membawa mereka pulang. Keduanya kini berjalan bersisian di area perumahan milik Kara. Jalanan masih terlihat ramai, terutama di area Malioboro. Rembulan bersinar cukup terang, cuaca seolah mendukung keduanya untuk menghabiskan waktu bersama dengan tangan yang saling bertautan—menyalurkan kehangatan di antara angin malam yang terasa dingin.
Kara sesekali menoleh, kemudian tersenyum kecil, lalu terkekeh dengan kedua pipi yang memerah. Entahlah, rasanya hari ini adalah hari paling membahagiakan untuk dirinya. Dia tak pernah membayangkan bahwa dia akan menghabiskan waktu berkeliling ke sebuah kota bersama dengan orang yang dia sukai.
Sejak kecil, Kara hanya mengenal Wiran sebagai calon suaminya. Lelaki itu adalah satu-satunya orang asing yang boleh berbicara secara intim dengannya, bahkan teman satu kelasnya saja diberi batasan untuk berbicara dengannya. Kara juga tidak ambil pusing, toh dia masih terlalu kecil untuk menyukai seseorang. Hingga akhirnya Kaivan hadir di antara buruknya reputasi cinta di mata perempuan itu.
Begitu pula dengan Kaivan. Dia memang sering berkeliling ke beberapa kota bersama dengan teman-temannya, terkadang menghabiskan waktu untuk datang ke sebuah tempat bersejarah untuk tugas kuliah. Dia juga punya beberapa teman wanita yang tak jarang menghabiskan waktu bersama.
Namun, Kara adalah perempuan pertama yang dia ajak menghabiskan waktu bersama berdua, berkeliling ke tempat-tempat dengan dia yang menjadi pemandu wisata, kemudian pulang dengan tangan yang bergenggaman erat.
"Selama ngurusin tugas akhir, aku banyak ngobrol sama Dosen Pembimbing aku. Beliau banyak ngasih saran buat kelanjutan tugas akhir sama karir aku ke depannya," Kaivan berkata memecah keheningan di antara mereka, kedua matanya menatap lurus.
Satu tarikan napas dia lakukan, "Setelah menimbang-nimbang...." ada jeda yang cukup panjang di sana, Kaivana kemudian menghentikan langkah kakinya dan membuat Kara menoleh. "Aku kayaknya mau nyambung S2 ke Belanda, kayak rencana aku beberapa beberapa waktu lalu."
Zat dopamin yang biasanya menghantarkan hormon bahagia mendadak menghilang. Kara tertegun, kakinya membeku di atas pijakan. Dia bahkan yakin kalau air wajahnya terlihat kaget dan juga kecewa. Maka sebelum Kaivan menyadarinya, dia sudah lebih dulu memalingkan wajah dan kembali melangkahkan kakinya.
"Beneran? Kenapa kamu tiba-tiba tertarik sama Belanda?" tanyanya, berusaha terdengar biasa saja.
Kaivan tersenyum kecil, dia menyadari akan perubahan sikap dari perempuan ini. "Karena banyak benda-benda bersejarah yang di bawa ke sana semasa kolonial atau pasca kolonial, juga ada beberapa sejarah yang nggak kita ketahui tentang Indonesia yang ada di sana. Aku udah diskusi sama Dosen Pembimbing aku juga, katanya Belanda memang bagus untuk mengangkat sejarah Indonesia yang sengaja atau nggak sengaja dikubur."
Keduanya masih melangkah, tetapi kali ini tidak bersisian, sebab Kara kini berjalan di depan. Kedua mata Kaivan terlihat fokus menatap punggung sempit itu. Dia sadar bahwa Kara sedang menyembunyikan perasaan sedih dan juga kecewa terhadap keputusannya yang tiba-tiba.
Namun, Kaivan sudah siap dengan semua kemungkian yang jauh lebih buruk dari saat ini. Dia sudah memikirkan kalimat yang tepat selama perjalanan pulang mereka tadi, sebab dia paham bahwa dia tidak mungkin menyembunyikan semuanya dari Kara lebih lama lagi.
Kaivan menghentikan langkahnya, tetapi Kara tetap tak menoleh. Pemuda ini menarik napasnya untuk kesekian kalinya, pun memejamkan matanya sejenak. Kara mencoba melepaskan genggaman mereka, tetapi Kaivan semakin mengeratkan genggamannya.
"Aku minta maaf kalau setelah ini aku bakal pergi, mungkin untuk dua sampai tiga tahun ke depan bakal jarang ketemu. Tapi aku janji kalau aku bakal sering telpon kamu, aku di sana nggak bakal kepincut sama orang lain, aku bakalan...."
"Kira-kira pekerjaan psikolog di sana gimana, ya? Apa dibutuhkan?" Kara menyela dan membuat Kaivan membolakan kedua bola matanya—kaget.
"Kara," panggilnya, air wajahnya terlihat frustasi. "Bukannya kamu punya mimpi yang besar di sini?"
Kara tak langsung menjawab, "Aku bisa mengubur mimpi aku demi kamu," jawabnya dengan sorot mata yakin dan penuh tekat yang begitu kuat.
Bak disambar petir di siang bolong, Kaivan nyaris tersedak liurnya sendiri. Kara, sosok perempuan yang begitu teguh dalam mempertahankan keinginan dan mimpinya, malah mengorbankan diri demi orang lain—yaitu dirinya. Kaivan mendengus, sorot matanya memancarkan kesedihan yang begitu ketara.
"Nggak, Kara. Jangan berkorban demikian buat aku, aku nggak suka. Aku nggak akan bisa menanggung semua rasa bersalah aku ke kamu kalau kamu sampai merelakan cita-cita kamu buat aku," katanya sembari menggeleng pelan.
Kara tersentak. Sorot matanya memancarkan kekecewaan yang begitu besar. Dia tak pernah membayangkan akan mendengar sebuah kalimat seperti itu. Padahal dia sudah membayangkan akan dipeluk dan menerima begitu banyak ucapan terima kasih, sebab sudah berkorban demikian demi seseorang yang dia sukai.
Bukankah mencintai memang seperti ini?Salah satunya harus berkorban.
Kara memang tak berpengalaman dalam mencintai seseorang, tetapi dia yakin bahwa mengorbankan sesuatu adalah sebuah keharusan demi mempertahankan cinta itu sendiri. Di film juga begitu, 'kan? Tak jarang beberapa karakter rela mati demi menyelamatkan kekasihnya. Namun sayangnya, Kara malah menemukan kenyataan di mana pengorbanannya tak dihargai.
Kara menarik tangannya yang digenggam erat oleh Kaivan, kedua matanya menatap sendu sosok yang terdiam di hadapannya. "Aku nggak minta kamu untuk mempertanggung jawabi semua pengorbanan aku, Kaivan. Aku merelakan semuanya karena aku mau, bukan karena aku minta kamu bertanggung jawab atas semua hal yang udah aku lakuin demi kamu."
Kaivan menggeleng, dia tak bermaskud seperti itu. Dia hanya tak mau melihat Kara malah menderita karena sudah membiarkan mimpi dan cita-citanya mati, hanya demi bersama dengan dirinya. Kaivan tak pernah berpikir bahwa cinta harus mengorbankan semuanya.
Cinta memang harus berkorban, tetapi mengorbankan semuanya bukanlah cinta yang dia mau. Kaivan mengatakan kalimat itu bukan untuk membuat Kara merasa sedih dan tidak dihargai, dia hanya merasa bahwa cinta yang dia miliki adalah tentang kepercayaan. Oleh karena itu, dia berharap Kara untuk merelakan diri mereka berpisah dalam dua tahun lamanya.
"Kara, nggak gitu...."
"Kaivan, after you kissed me, hugged me, and smile at me... what are we?" Kara kembali menyela, tetapi kali ini pertanyaan yang dia ajukan benar-benar sukses membuat Kaivan tak bisa menjawab.
Benar. Semua sudah mereka lakukan, tetapi tak ada status jelas di antara mereka. Untuk pertama kalinya setelah tujuh bulan mereka kenal, Kara melontarkan sebuah pertanyaan tentang kejelasan status mereka. Kaivan dibuat tak bisa berkutik.
"Kara...."
Lelaki itu mencoba memanggil namanya sembari mencekal pergelangan tangan Kara yang sudah nyaris melangkah pergi. Namun sayangnya, dia sendiri tidak bisa melanjutkan kalimat yang coba dia lontarkan dari kepala.
Kara terdiam sejenak menatap sorot mata yang dipenuhi begitu banyak emosi itu, sebelum akhirnya menarik kembali tangannya dan melangkah pergi meninggalkan Kaivan yang masih bergeming.
Pemuda ini hanya bisa menyugar rambutnya frustasi, sebelum akhirnya menggeram kesal. Bukan seperti ini yang dia harapkan.[]