[M] Pada suatu pagi, Kaivan menemukan dirinya terkapar di tepi hutan belantara tanpa pakaian. Dia linglung, beberapa penduduk yang menemukan dirinya berusaha menolong, tetapi dia malah berteriak ketakutan. Kedua matanya menatap nyalang, sedangkan tu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Usia 25 tahun itu kalau di Indonesia sudah terlalu tua, sudah harus memiliki pencapaian yang tinggi entah itu dalam karier bahkan urusan percintaan. Tentu saja hal itu tidak jauh berbeda dengan pola pikir orang di rumahnya, terutama sang nenek. Usia yang dianggap terlalu tua untuk bebas melihat dunia, tetapi terlalu muda untuk bisa menentukan pilihan hidup.
Hari ini hari Minggu, hari di mana semua keluarga berkumpul di rumah utama. Sang kakak yang sudah menikah dan menetap di Jakarta karena pekerjaan juga biasanya dipaksa pulang, sementara istrinya harus mendekam di rumah yang mirip seperti sel tahanan ini.
Standar ganda yang memuakkan, bukan?
Setelah selesai makan malam dan mendengarkan semua wejangan memuakkan dari sang oma, serta berlagak seperti anak penurut yang duduk dengan punggung tegak, akhirnya Kara bisa pergi ke kamarnya dan berdiam di sana sembari menikmati angin malam.
Kejadian beberapa waktu yang lalu sempat membuat Kara terguncang, mimpi buruk tentang rentetan kejadian yang gadis itu katakan beberapa kali hadir di dalam tidurnya. Tak jarang Kara akan menangis saat membaca pesan dari Kaivan, lalu mengulas senyum saat pemuda itu melakukan panggilan video dengannya.
Gadis bernama Dara itu sudah ditangani oleh pihak kepolisian, Yoza juga menjelaskan bahwa gadis itu sudah aman dibawah pengawasan adik dari ayahnya. Dara menjadi awal dari titik balik kasus yang tak menemukan kejelasan nyaris dua bulan itu. Setidaknya Kara bisa bernapas lega, sebab akhirnya Kaivan akan mendapat keadilan atas kejadian yang menimpa dirinya.
Kara tersentak dari lamunan tatkala ponselnya berdering di dalam genggaman. Perempuan itu melihat sebuah pesan yang tertera pada layar datar ponselnya dan seketika sebuah senyum hadir. Nama Kaivan terlihat di sana.
Sedang apa?
Namun belum sempat membalas, Kara dibuat terkejut saat ada seseorang yang tiba-tiba saja mengetuk daun pintu kamarnya yang tertutup. Perempuan itu meletakkan ponselnya ke atas meja kerja miliknya, pun membuka pintu dan menemukan sang kakak yang berdiri dengan wajahnya yang datar serta tatapan dingin.
Kara tak pernah menyukai lelaki ini. Hubungan mereka tak pernah baik, ditambah dengan kehadiran Ajeng sebagai istri dari lelaki bernama Bagas ini—yang lebih mirip tahanan. Kara jarang berbicara dengannya, sebab konversasi yang terjadi di antara mereka hanya akan membuahkan perdebatan yang tak berarti.
Lantas lelaki bertubuh tegap dengan pakaian santai dan rambut yang terlihat sedikit basah itu langsung menerobos masuk ke dalam kamar sang adik. Bisa dibilang bahwa ini adalah pertama kalinya dia masuk ke kamar perempuan ini. Kedua matanya langsung menelisik memperhatikan sekitar. Kamarnya terlalu feminim, terlihat jauh berbeda dari sifat sang adik yang terkesan arogan.
"Oma bilang kamu akhir-akhir ini suka keluar," ujarnya, Kara hanya mendengus di ambang pintu. "Gimana kuliah kamu? Udah selesai?" Bagas melempar tanya tanpa menatap ke arah Kara yang terlihat kesal.