Sebuah Hukuman

50 3 0
                                        


Di sudut kota Yogyakarta yang jarang tersentuh hiruk-pikuk wisatawan, terdapat sebuah tempat tersembunyi yang menyimpan ketenangan—Embung Langensari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di sudut kota Yogyakarta yang jarang tersentuh hiruk-pikuk wisatawan, terdapat sebuah tempat tersembunyi yang menyimpan ketenangan—Embung Langensari. Sebuah danau buatan yang terletak di tengah kota, diapit oleh pepohonan rindang yang menjulang seolah menjadi pagar alami, melindungi ketenangan airnya dari dunia luar.

Di pagi hari, kabut tipis sering kali menggantung di atas permukaannya, menciptakan bayangan samar dari matahari yang baru saja terbit. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah, bercampur dengan wangi dedaunan yang gugur semalam. Sesekali, terdengar riak kecil dari air yang terguncang oleh jatuhnya daun kering atau oleh gerakan ikan-ikan kecil yang berenang di bawah permukaannya.

Bagi sebagian orang, embung ini hanyalah sebuah waduk resapan yang dibangun untuk mencegah banjir. Namun, bagi mereka yang memahami keheningan, Embung Langensari adalah tempat melarikan diri dari kepenatan kota. Di sini, waktu seakan melambat. Para pejalan kaki menikmati jalur setapaknya, sementara beberapa orang duduk di tepi danau, membiarkan pikirannya hanyut bersama pantulan langit di permukaan air.

Di malam hari, lampu-lampu kecil menerangi jalan setapak yang mengelilingi embung, menciptakan suasana magis di antara bayangan pohon. Suara jangkrik menjadi latar belakang alami, menemani mereka yang datang untuk sekadar merenung atau menghabiskan waktu bersama seseorang yang berarti.

Begitulah yang dilakukan oleh Kaivan dan juga Kara. Keduanya duduk bersisian di sebuah bangku yang disiapkan, menatap lurus, dan membiarkan angin bertiup pelan membuat helaian rambut mereka bergoyang mengikuti arah angin. Mereka sudah lebih dari satu jam di sana, tetapi tak ada satu kalimat yang diucapkan untuk memecah keheningan. Seolah-olah mereka sedang terjebak pada pikiran masing-masing.

Sesekali Kara melirik lewat ekor mata. Sosok yang telah satu bulan menghilang ini telah berada di sebelahnya, lagi. Duduk bersisian, membiarkan hidungnya mencium aroma dari wangi tubuh dan parfumnya yang telah sebulan lamanya tak dia cium, membiarkan bagaimana kedua matanya menikmati keindahan dari perpotongan wajah yang terlihat semakin tampan.

Namun, ada banyak hal yang Kara ingin tanyakan—selain menikmati ketampanan itu. Perihal alasan dia menghilang selama satua bulan, perihal pipinya yang terlihat semakin menirus, atau bahkan perihal lingkaran hitam yang kembali hadir.

"Aku bingung harus ngasih reaksi apa untuk semua hal yang udah terjadi ini," Kaivan berkata memecah hening, Kara seketika berkedip cepat dan langsung menatap lurus. "Kara... menurut kamu aku harus nangis atau ketawa?" ada jeda yang cukup panjang pada kalimat yang ditanyakan itu.

Kaivan merasa bahwa apa yang menimpa ketiga orang itu terlalu berat, sekalipun dia sadar bahwa luka yang mereka berikan padanya tak akan pernah sembuh. Namun, kalaupun hukumannya seberat itu, apakah luka yang dia alami akan sembuh dan bekasnya akan hilang begitu saja? Maka pertanyaan aneh itu terucap.

Kara kemudian menoleh, dia merentangkan tangannya. "Mau peluk?" lelaki itu langsung mengangguk mengiyakan dan langsung berhamburan ke dalam pelukan itu.

Setelah keluar dari rumah sakit, sebenarnya Kaivan ingin langsung dipeluk oleh perempuan ini. Hanya saja dia menahan diri dan meminta untuk Kara membawanya ke tempat ini. Untungnya saja Kara mengerti dan membiarkan Kaivan menenangkan diri di dalam pelukannya yang hangat.

Pelukan itu berlangsung lebih dari lima belas menit. Kaivan sesekali memejamkan matanya dan membiarkan hidungnya menghirup aroma tubuh yang telah sebulan ini dia rindukan. Kara juga sesekali memberikan tepukan pada punggung dan mengusapnya pelan. Lantas setelahnya, Kaivan menarik diri dari pelukan itu.

"Udah mendingan?" tanya Kara.

Kaivan tersenyum, sebuah anggukan dia berikan sebagai jawaban. "I miss you," katanya tiba-tiba, "Maaf udah pergi dan nggak ngasih kabar, kamu pasti kebingungan, 'kan?" sembari mengelus pipi itu lembut.

Kara terdiam, sebuah senyum terukir indah pada wajahnya yang cantik. Kaivan tertegun. Sebulan yang lalu dia sempat hancur dan ingin mengubur mimpinya dengan tidak kembali lagi ke Jogja, tetapi setelah dia memutuskan untuk kembali tepat setelah menerima kabar bahwa orang-orang itu telah menerima ganjaran atas perbuatannya, Kaivan merasa bahwa mimpi yang dia punya pantas untuk dikejar—terutama perempuan ini.

"Nggak apa-apa, kok. Aku lebih khawatir sama kamu," balasnya, pun menggenggam tangan lelaki ini. "Sebenarnya ketimpangan sosial itu nggak cuma menimpa perempuan aja, kok. Laki-laki dengan stigma manusia kuat juga dirugikan dibeberapa aspek kehidupan," lanjutnya.

Kaivan masih mengukir senyum pada wajahnya, "Mungkin feminisme hadir saat para perempuan merasa bahwa mereka harus melawan norma yang membuat mereka terjebak pada aturan tak tertulis yang membatasi pergerakan mereka dalam hal karir, lalu hak-hak lain mulai hadir sebagai perjuangan baru para feminisme. Seiring berjalannya waktu, para lelaki juga mulai terbuka terhadap feminisme."

Kara terdiam. Dia menatap kedua bola mata sosok yang ada di hadapannya—menyelami inci demi inci kehangatan yang ada di sana. Kaivan mengangguk-angguk kecil, sedangkan tangannya terlihat mengelus pelan punggung tangan Kara yang ada di dalam genggamannya.

"Aku juga ngerasa kalau lelaki juga berhak untuk hidup sebagai manusia biasa, bukan hanya sebagai sosok yang dari lahir sudah diberi label sebagai si kuat yang tahan banting dan selalu menjadi sosok pemberani. Nggak pernah nangis, nggak pernah ngeluh. Ada standar ganda yang secara sengaja terbentuk di lingkungan masyarakat kita," lanjutnya.

Kara mengutarakan semua isi kepalanya dan Kara menjadi pendengar yang begitu baik—mendengarkan tanpa berniat untuk menyela. Setiap kata yang dia ucapkan dicerna dengan baik oleh Kaivan dan perlahan menghadirkan kehangatan pada dadanya.

"Aku pernah ketemu sama penyintas kayak kamu, awalnya dia malu mengakui karena orang-orang disekitarnya nggak ada yang percaya dan malah ngejek dia. Cewek yang mengalami kekerasan seksual akan selalu diberi perlindungan, sebaliknya kalau itu cowok...." ucapan itu terhenti, Kara menunduk menatap tangan mereka yang masih bertautan. "Mereka selalu dilabeli pembohong dan dianggap menikmati, padahal manusia tetaplah manusia mau bagaimana pun bentuk kelamin saat dia lahir."

Dengan senyum yang masih terukir lebar di wajahnya, Kaivan mengangkat dagu perempuan ini dan mengecup belah bibirnya. "Makasih," katanya. "Makasih udah hibur aku, kalau nggak ada kamu mungkin aku nggak akan ada di sini."

Kara menganggguk, senyum itu masih terukir. "Hidup yang baik, ya? Kamu nggak seharusnya hancur karena omongan orang lain, karena kamu terlalu berharga untuk semua hal buruk yang mereka katakan ke kamu. Kamu tenang aja, ada aku di sini buat kamu. Aku bisa berantem sedikit, walau nanti bonyok dikit."

Kaivan terkekeh. Rasanya beban yang tadi ada di dalam dada mendadak hilang begitu saja. Kedua matanya terpaku pada milik Kara yang terlihat berbinar dengan bibir yang tersenyum lebar. Kaivan tidak tahu kenapa dia merasa bersyukur, sebab jika semua hal buruk ini tidak terjadi di dalam hidupnya, mungkin dia tidak akan ditakdirkan untuk bertemu dengan Kara.

Tuhan dan rencana-Nya benar-benar tidak bisa ditebak.

Lantas setelahnya, Kaivan mendekatkan wajah dan mencium belah bibir itu. Kara tersentak kaget, walaupun akhirnya dia ikut memejamkan mata dan menikmati bagaimana hangatnya senja dan ciuman itu.

Lagi, di tempat yang berbeda, Kaivan merasakan kehangatan pada langit senja yang perlahan menghitam. Kara dan jingga pada langit itu menyisakan banyak hal indah untuk dia simpan, alih-alih menyimpan kesedihan di hatinya perihal kesialan yang menimpanya empat bulan yang lalu itu.

Benar, masih banyak hal indah yang harus diingat alih-alih hal buruk yang sebenarnya tak layak untuk tetap disimpan.[]

DrowningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang