Sebuah Penyesalan

49 3 0
                                        

Dalam semesta kehidupannya yang kelewat sempurna, Kara tak pernah merasakan sebuah kekurangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dalam semesta kehidupannya yang kelewat sempurna, Kara tak pernah merasakan sebuah kekurangan. Dia selalu mendapatkan apa yang bahkan tak dia pinta di dalam hidupnya. Semua hal sudah diatur. Semua orang seolah-olah mengerti dirinya dengan baik, padahal mereka sama sekali tak mengenal Kara sedikit pun—bahkan mamanya sendiri.

Alasannya untuk menjadi seorang psikolog juga untuk mengobati mentalnya yang berantakan. Kara tak pernah memiliki seorang teman yang bisa menjadi pendengar yang baik, tidak sekali pun itu adalah Sarah yang sudah cukup lama berteman dengan dirinya.

Maka saat dia bersama dengan Kaivan, untuk pertama kalinya dia merasakan sebuah perasaan dimengerti dengan baik. Kaivan selalu bertanya tentang apa yang dia suka dan selalu mendengarkan pendapat Kara sebelum melakukan sesuatu. Rasanya benar-benar hidup sebagai manusia.

Oleh karena itu, saat Kaivan ingin pergi, Kara merasa bahwa dia harus mengorbankan dirinya agar mereka tetap bersama dan kemudian bahagia. Kebahagiaan di akhir sana memang selalu diawali dengan sebuah pengorbanan, itulah yang Kara pikirkan.

Namun setelah berbicara dengan Ibu Faras, dia jadi mengerti bahwa cinta tak seharusnya membuat seseorang mengorbankan serta kehilangan dirinya sendiri. Kara perlahan menekan semua perasaan ego dan marahnya.

Sayangnya, permintaan maaf yang ingin dia katakan pada Kaivan tertahan sebentar setelah dia mendapati Sarah menghubungi dirinya. Suara perempuan itu terdengar bergetar di seberang sana, sebelum akhirnya Kara yang berakhir bergetar hebat dan pergi meninggalkan semua keinginannya untuk berbicara dengan sosok Kaivan yang sudah berdiri di hadapannya sejak tadi.

"Kak Ajeng di rumah sakit, tadi Kak Wiran yang ngasih tahu karena kata dia kamu udah blockir nomer dia dan minta aku buat nyampein pesen ini ke kamu."

Selama perjalanan menuju rumah sakit, Kara teringat akan obrolan dirinya dan sosok itu beberapa bulan yang lalu. Sepanjang perjalanan juga, Kara terisak begitu keras memecah jalanan Kota Jogja yang ramai di sore ini.

Jogja sore hari selalu padat akan orang-orang yang juga baru saja pulang dari tempat kerja atau anak-anak sekolahan. Air mata telah membasahi kedua pipinya. Perasaan tak nyaman hadir terus-terusan. Entah kenapa dadanya merasa sesak. Adegan di mana dia sempat mengobrol dengan Ajeng beberapa bulan yang lalu hadir bak kaset kusut.

"Kak Ajeng cinta sama Kak Bagas, nggak?"

Tangan kurus itu terlihat berhenti melipat pakaian-pakaian kecil yang Kara ketahui sebagai hadiah dari sang nenek. Kara terdiam, ada perasaan nyaman yang mendadak hadir atas pertanyaan retorik yang baru saja dia lontarkan—sebab dia sendiri tahu bahwa sang kakak memiliki kekasih lain di Jakarta.

Setelah beberapa menit terdiam, Ajeng terkekeh kecil. "Memangnya ada yang nggak suka sama kakak kamu itu?" tanyanya balik.

"Ada," jawab Kara cepat, lantas kedua matanya beralih menatap pakaian bayi itu. "Aku," lanjutnya.

DrowningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang