[M] Pada suatu pagi, Kaivan menemukan dirinya terkapar di tepi hutan belantara tanpa pakaian. Dia linglung, beberapa penduduk yang menemukan dirinya berusaha menolong, tetapi dia malah berteriak ketakutan. Kedua matanya menatap nyalang, sedangkan tu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suasana di ruangan itu mendadak terasa begitu menegangkan dan menakutkan. Lelaki bernama Ozi terlihat mondar-mandir dengan penampilan berantakan dan air muka penuh kekhawatiran. Sesekali dia mendengus, kemudian meremat rambutnya sendiri.
"Apa yang harus kita lakuin sekarang, Elina?" tanyanya dengan intonasi suara yang terdengar panik, "Dari awal harusnya kita nggak ngelakuin hal itu ke dia!"
Elina hanya diam bergeming di tempatnya. Kedua matanya terlihat sayu, pipinya menirus, dengan lingkaran hitam yang terlihat jelas. Mereka sudah melakukan pelarian nyaris sebulan. Semuanya menjadi berantakan. Berita mengenai kejadian tiga bulan yang lalu mendadak viral, namanya menjadi pencarian paling populer di sosial media.
Benar, pikirnya. Seharusnya dia tidak melakukan apa-apa pada bocah tengik yang menolaknya itu. Hanya karena dibutakan rasa sakit dan malu, Elina malah membawa dirinya terjun pada sebuah masalah yang jauh lebih menakutkan dari dirinya yang tak bisa mendapatkan ketenangan dari obat-obatan itu.
Sayangnya, sosial media sekarang sudah menjadi sebuah tempat di mana orang-orang mencoba mencari keadilan. Viral, maka semua akan terselesaikan dengan baik. Sosok lelaki yang mengalami pelecehan seksual, diberi narkoba, dan diancam akan disebarkan video asusila yang menampakkan wajahnya adalah sebuah kisah menyedihkan yang sulit untuk dilewatkan.
"Semua ini salah lo, Elina anjing!"
Ozi nampak semakin marah, dia naik pitam hingga melempar botol bekas minuman beralkohol ke arah dinding hingga membuat benda itu pecah berkeping-keping. Elina memejamkan matanya erat, kepalanya benar-benar nyaris meledak.
Beberapa detik kemudian Elina membuka matanya, dia tersenyum miring menatap lelaki yang kini terlihat kelimpungan dengan situasi yang tengah mereka hadapi. Padahal dulu dia adalah orang pertama yang akan rela menjilati kaki Elina hanya untuk mendapatkan benda-benda yang membuatnya lup akan dunia itu.
Lagipula, dia juga terlihat senang saat memegangi tubuh Kaivan dan mencekokinya dengan alkohol yang sudah bercampur dengan cairan itu. Dia masih ingat bagaimana Ozi tertawat terbahak-bahak saat melihat tubuh Kaivan yang sudah tak sadarkan diri waktu itu.
Sosok yang tadi diam di sebelah Elina kini berdiri, dia langsung menghampiri Ozi dan mencengkram kerah bajunya, sebelum akhirnya melayangkan satu bogeman mentah. Deon, lelaki itu terlihat marah. Dadanya naik-turun, dengan kedua tangan terkepal di kedua sisi tubuh.
"Bangsat, sekarang bukan waktunya kita buat saling nyalahin. Kita harus cari cara buat kabur dan nggak ketangkep sama polisi!"
Elina mendengus, dia kemudian berdiri dan membuka gorden yang sejak beberapa hari yang lalu selalu dibiarkan tertutup. "Kita udah nggak bisa lari, mereka udah dijalan buat nangkep kita."
Matahari bersinar cukup terang hari ini, rasa hangat mulai terasa pada tubuhnya yang terasa dingin. Elina lupa hari ini hari apa, dia juga sudah lupa hari ini tanggal berapa, bahkan dia tidak tahu sekarang sudah jam berapa. Mereka benar-benar mengurung diri dan lari dari semua hal, terutama ponsel yang bisa saja dilacak oleh polisi dan membuat mereka ditangkap.