Vote and comment juseyo..
...
Setelah menghabiskan makanannya, Louis merebahkan dirinya di kasur. Badannya masih terasa kaku, karena tidak bergerak selama beberapa hari. Niatnya hari ini ingin beristirahat sejenak, sebelum siang nanti, dia akan melanjutkan latihannya.
"Maaf Pangeran, ada surat dari Pangeran Flynn untukmu" Mendengar hal tersebut, Louis seketika membuka matanya dan menerima surat yang diberikan Xavier.
"Terima kasih Vier. Bisakah kamu siapkan camilan dan susu hangat untukku"
"Tentu saja yang mulia"
Setelah Xavier keluar dari kamarnya, Louis membuka surat tersebut dan membacanya. Seketika Louis tersenyum, membaca isi dari surat tersebut. Yang terdapat berbagai macam keluhan dari Flynn tentang teman asramanya. Dan juga kata-kata rindu yang Flynn sampaikan padanya.
"Aku juga merindukanmu. Masih setengah tahun lagi kita akan bertemu" monolog Louis, tiba-tiba kembali teringat tentang kehidupan pertamanya. Dimana, semua masalah akan timbul setelah acara debutantenya, dan itu tepat setengah tahun lagi.
Saat usianya beranjak 15 tahun.
Louis menggelengkan kepalanya, tatapannya tampak penuh tekat, kalau hal tersebut tidak akan terjadi lagi. Dia hanya perlu mengabaikan ucapan tidak baik tentangnya, dan menyiapkan mental untuk itu, supaya dia tidak memikirkan hal negatif, yang membuatnya mudah dipengaruhi oleh sisi iblisnya.
"Hm, sepertinya aku perlu membalasnya" Louis kembali tersenyum kecil, dan melangkah dengan hati-hati ke meja yang tersedia, dan menulis balasan surat untuk Flynn.
Setelah itu, dia meminta Xavier untuk mengirimkan surat tersebut. Karena lagi-lagi Louis tak punya kegiatan, akhirnya dia kembali berbaring, dengan bertepatan Naveen masuk ke kamarnya.
"Hy Louis. Kemana Xavier? Kenapa kau sendirian? Dan camilan itu, kenapa tidak memakannya? Apa kau sedang menungguku?" Baru saja Naveen masuk, Louis sudah disuguhi berbagai macam dari saudaranya itu.
"Kau akhir-akhir ini sangat cerewet ya" Louis menatap Naveen malas, tapi diabaikan oleh remaja itu. Naveen mengambil nampan camilan itu dan hendak menyuapi Louis, sehingga membuat Louis kebingungan sendiri.
"Makanlah. Aku tau, kau senang menerima suapan dari ku. Sampai kau harus menungguku dulu, untuk makan ini" ujar Naveen dengan penuh percaya diri.
"Aku bisa sendiri" ujar Louis mengambil biskuit di tangan Naveen dan memakannya.
"Kau sudah bisa bergerak?" Louis mengangguk, ditatapnya ekspresi Naveen yang tampak sedikit kecewa saat ini.
"Kau kelihatannya kecewa. Kenapa? Apa kau lebih senang melihat aku tidak berdaya?"
"Bukan seperti itu, hanya saja...." Naveen menatap Louis, kemudian memalingkan wajahnya. Rasanya sedikit malu kalau harus berkata jujur pada Louis. Kalau sebenarnya, beberapa hari ini dirinya merasa senang saat Louis bergantung padanya.
Walaupun dirinya sadar, Louis sering mengerjainya, tapi Naveen tidak masalah akan hal itu. Dia malah merasa semakin dekat dengan saudaranya itu.
"Hanya apa?" Louis memgangkat satu alisnya, merasa bingung karena Naveen tiba-tiba diam.
"Bukan apa-apa. Jadi kau sekarang tidak butuh bantuan ku lagi?" Tanya Naveen memastikan dan diangguki oleh Louis, dan lagi-lagi ekspresi kecewa yang Louis lihat dari wajah Naveen.
Louis diam sejenak, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Naveen. Sehingga sesuatu terlintas dipikirannya, membuat Louis mengernyit tidak percaya. "Tidak mungkin kan?" Batin Louis kembali melihat ekspresi Naveen.
KAMU SEDANG MEMBACA
Become a Cursed Prince
Teen FictionMenjadi Pangeran terkutuk dan diasingkan? Memangnya siapa yang ingin menjadi seorang pangeran yang diperlakukan seperti seorang tahanan dan seseorang yang harus dihindari di kerajaannya sendiri? Dianggap malapetaka, diasingkan dari dunia luar. Bahka...
