Entahlah apa yang membuat Chika semarah ini pada Zean bahkan hingga kini ia masih menangis kesal di bawah bantal. Apalagi kedua orang tua Chika sedang tak ada dirumah jadilah Chika bisa meluapkan semua air matanya. Tak lama terdengar suara ketukan dari luar diiringi suara art di rumah Chika yakni bi Imas.
"Non Chika misi non ada paket nih" teriak bi Imas dari luar
"Paket? perasaan aku gak ada pesen apa-apa deh" Gumam Chika bingung
"Paket apaan bi?" teriak Chika parau
"Gak tau non di bungkus gak ada tulisan apa-apa juga"
Mau tak mau Chika keluar untuk mengambil paket yang dimaksud bi Imas. Dengan lemasnya Chika membuka pintu.
"Paket apaan sih bi siapa yang anter?"
"Gak tau non tadi ada yang anter, eh non Chika habis nangis ya ada masalah apa non tadi suara teriaknya kedengeran sampe luar?"
"Gapapa bi, udah sini paketnya" Chika mengambil alih paket dari tangan bi Imas
"Tunggu non Chika belum makan malam kan, kita makan dulu yuk non"
"Gak mau makan udah ah makasih ya bi" Kata Chika buru-buru menutup pintu kamarnya kembali
Chika menatap dengan seksama sebuah paket berukuran sedang di bungkus kardus polos berbentuk persegi tanpa ada tulisan sedikitpun di luarnya.
"Perasaaan gue gak ada pesen apapun deh. Mana misterius banget lagi nih paket gimana kalau isinya bom?" gumam Chika takut sendiri
"Tapi masa iya sih bom perasaan gue gak punya musuh deh. Hadeuh dibuka takut gak dibuka penasaran"
Setelah beberapa menit merenung Chika memberanikan diri untuk membuka paket tersebut ternyata saat dibuka ada setangkai mawar berserta surat yang berisi
"Saya tau kamu masih marah, untuk itu saya minta maaf lagi. Tapi Chik saya benar-benar bingung gimana caranya ngehubungin kamu. Saya khawatir Chik, saya harap sekesel apapun kamu sama saya kamu jangan lupa makan ya. Ada makanan buat kamu, tolong dimakan ya jangan dibuang please!"
Chika melihat kembali isi kardus dan ternyata benar ada makanan. Rupanya paket ini dari Zean toh, ini sih sudah jelas bi Imas tadi sudah tau pura-pura aja pasti dia.
"Gapapa kalau kamu masih marah, saya kasih waktu kamu untuk tenang sendiri dulu. Oh ya besok jangan lupa siap-siap ya, jam 7 pagi saya tunggu di depan rumah. Untuk yang satu itu maaf kamu gak bisa nolak karena saya maksa kalau kamu gak keluar nanti saya bakal culik kamu. Maaf ya maksa saya gak bisa lama-lama dalam keadaan gini saya mau masalah kita cepat selesai. Love you" ~ Zean
Chika tak bisa menahan senyumnya usai membaca tuntas surat dari Zean, dia akui hatinya selalu lemah jika menyangkut Zean, "mau nyulik kok bilang-bilang kocak nih dosen nyebelin!" Ucap Chika, kemudian ia cepat-cepat membuka makanan dari Zean karena sebenarnya Chika memang lapar sih hehe.
💤
Paginya Chika keluar rumah dengan keadaan rapi dan cantik. Dia tak tau Zean akan membawanya kemana tapi pokoknya dia harus cantik. Di ujung sana ada Zean sudah menunggu di dekat mobilnya. Di sana Zean tersenyum sementara Chika berusaha menahan senyumnya. Kalau boleh jujur Chika sudah tak marah, mana bisa dia lama-lama marah pada crushnya itu. Tapi bukan Chika kalau tidak iseng. Dia berpura-pura masih kesal pada Zean.
Zean menatap ramah Chika, dia senang karena ternyata Chika menerima ajakannya ini. Dia juga senang melihat Chika tampak cantik dan baik-baik saja meski matanya masih terlihat sembab pasti karena menangis semalaman, "Saya pikir kamu gak bakal keluar" Ucapnya
KAMU SEDANG MEMBACA
Cegil Zean
Fiksi Remaja"Istighfar, Yessica!!!" ~Zean~ "Milyar-milyar juta-juta ratus-ratus sekian kemungkinan lelaki di dunia, aku cuma mau pak Zean" ~Chika~
