CZ 24

2.3K 291 31
                                        

Chika menatap tak yakin pada Zean yang duduk di sebelahnya

"Yakin nih kita mau keluar mobil barengan?" tanya Chika pelan, mengingat kalau ia dan Zean kini backstreet apa tak aneh jika banyak orang yang melihat mereka turun dari mobil bersama.

"Kenapa gak yakin, orang orang juga udah banyak yang tau kalau kita tetanggaan jadi pasti mereka gak akan mikir aneh-aneh" jawab Zean tampak santai

"Tapi kan...."

"Udah lah ayo turun tinggal jalan bareng gak perlu khawatir sama hal yang belum terjadi"

Zean dan Chika akhirnya turun dari mobil lalu berjalan beriringan menyusuri lorong kampus. Ini aneh, jika biasanya Chika senang jalan bersama Zean tapi kali ini lain. Justru ketika hubungan mereka sudah resmi Chika malah jadi waswas entahlah apa yang ia takutkan.

"Pagi pak Zean!"

"Pagi pak!"

"Pagi bapak makin cakep ajanih"

Di sepanjang perjalanan banyak sekali mahasiswi yang menyapa Zean bahkan tak sedikit menyelingi godaan di dalamnya. Sebenarnya ini bukan hal aneh lagi, Zean sudah dikenal sebgai dosen muda tampan yang banyak penggemarnya dan Chika tau betul itu, tapi kan tetap saja Chika kesal dibuatnya apalagi kini Zean adalah kekasihnya. Zean membalas setiap sapaannya dengan senyum tipisnya tak bermaksud apapun Zean hanya tak ingin dicap sombong. Sesekali dia melirik gadis di sampingnya yang terlihat agak kesal.

"Pada ganjen banget sih, tau gitu gak mau jalan bareng males banget cuma liat dia digodain banyak cewek gini. Mana dijawab lagi maksudnya apa coba?" Ucap Chika lirih dalam hati.

"Hai pak Zean" muncul lagi gadis yang kali ini agaknya bukan hanya ingin sekedar menyapa dia tak sendiri melainkan bersama teman perempuannya yang lain. Hal ini membuat langkah kaki Zean dan Chika harus terhenti.

"Oh hai Dhea" balas Zean ramah

"Pak makasih ya akhirnya aku lolos sidang kemarin" ucap sang gadis terdengar antusias

"Oh ya, congraits!" balas Zean seperlunya, tentu saja dia senang jika mahasiswa bimbingannya berhasil tapi ia juga tak mau memberikan reaksi berlebihan.

"Iya pak makasih banget loh atas bimbingannya selama ini"

"Iya sama-sama kan emang udah tugas saya membimbing kalian semua" jawab Zean apa adanya

"Oh ya pak sebagai ucapan terimakasih aku mau ngasih ini" Dhea menyodorkan sesuatu dengan kedua tangannya pada Zean

"Apa nih?" tanya Zean tampak bingung

"Bukan apa-apa pak cuma makanan buat bapak jadi ada salad sama bekel makan siang buat bapak" ucap Dhea menjelaskan

Mendengar itu Zean menengok dulu pada Chika yang tampak sekali wajah masamnya, lalu kemudian kembali pada Dhea "Waduh gak perlu repot-repot loh sebenarnya" Jujur Zean ingin menolak

"Gak repot kok pak gini doang please terima ya" ucap Dhea tampak memohon

"Tapi maaf banget saya gak bisa terima sebagai dosen saya gak boleh nerima hadiah apapun dari mahasiswa" Zean tampak masih berusaha menolak secara halus

"Tapi pak ini kan gak seberapa cuma makanan doang, ini juga yang inisiatif kita bukan bapak yang minta jadi gapapa pasti"

"Maaf banget tapi emang gak bisa"

"Tolong lah kita udah masak loh buat bapak please ini rahasia kita doang kok. Janji ini pertama dan terakhir tapi tolong diterima"

"Jangan diterima please tolak please!" batin Chika berharap Zean tetap menolak

Cegil ZeanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang