Chika tiba-tiba berdiri dan menatap Zean dengan tajam yang dibalas tatapan bingung oleh Zean atau lebih bisa disebut tatapan sedih mungkin.
Tak lama kemudian, Chika menangkup wajah Zean, lalu menarik kepala Zean ke dalam dekapannya.
"Aku gak mau putus, aku mau kita lanjutin semuanya. Soal masalalu bapak aku gak peduli. Apapun itu semuanya udah biarin aja jadi masalalu. Yang penting kan masa depan kita"
Huft akhirnya Zean bisa bernafas lega mendengarnya ia tersenyum, walau air matanya kini menetes. Ia memeluk erat tubuh Chika.
"Makasih Chik, makasih udah mau nerima saya" ucapnya terbata-bata
"Setelah dengar seluruh cerita bapak tadi, jujur aku kesel sama diri sendiri. Harusnya aku ada di saat-saat bapak terpuruk itu, kemana aku dulu, kenapa aku kecolongan sampai bapak harus kenal perempuan laknat itu" sesal Chika
Keduanya melepas pelukan, "gapapa kamu gak terlambat kok, kamu datang di waktu yang tepat" Zean menggenggam tangan Chika
"Tapi udah ya cukup sekali aja aku denger soal mantan bapak itu, aku muak banget dengernya. Apalagi soal pak Zean yang keliatan banget kecintaan sama dia, isshhh aku benci banget dengernya"
"Kamu cemburu?"
"Ya iyalah, segitunya banget pak Zean memperjuangkan dia ihhh sebellll"
"Perjuangan saya buat dia gak ada apa-apanya dibanding perjuangan saya buat kamu. Kali ini yang saya lawannya papi kamu sendiri loh Chik".
"Tenang aja soal itu aku juga bakal lawan, jadi kita berjuang bareng buat buktiin ke papi kalau kita gak bisa dipisahkan"
"Kamu yakin sama keputusan ini?" tanya Zean memastikan
"Bapak ragu sama aku?" tanya balik Chika
Zean menggeleng seraya tersenyum, "sedikitpun saya gak ragu sama kamu, saya cuma mau kamu gak nyesel sama keputusan kamu"
"Dih ya enggalah, selagi bapak yang jadi keputusannya, aku yakin gak bakal pernah nyesel. Justru sebaliknya, aku takut bapak yang nyerah dan ninggalin aku"
Zean memegang bahu Chika, "Selama kamu di sisi saya, saya janji gak bakal pernah nyerah buat perjuangin hubungan kita. Selama bukan kamu yang minta hubungan kita selesai, saya juga janji gak bakal ninggalin kamu"
Chika menjulurkan kelingkingnya, "bener ya janji, awas aja kalo bohong!"
Zean dengan senang hati menautkan kelingking mereka, "iya janji"
Mobil Zean berhenti tepat di depan rumah Chika, Chika buru-buru bersiap turun. Zean tampak termenung memerhatikan ke arah rumah Chika.
Chika menyadari itu dengan perasaan yang sulit dijelaskkan, ia tentu paham akan perasaan Zean saat ini, "Aku turun ya" Kata Chika menyadarkan Zean
"Biar saya bukain pintu ya, sekalian saya anter" kata Zean sambil bertingkah seperti orang sedikit linglung
"Gak usah, udah mau gelap ini, bapak langsung pulang aja" ucap Chika berusaha memahami situasinya
Zean terdiam menatap Chika, "Gapapa?"
Chika sedikit terkekeh, "iya gapapa, lagian aku kasian liat bapak sedikit panik gitu takut papi ada di dalem ya?" canda Chika berusaha sedikit mencairkan suasana
"Saya gak panik atau takut kok, cuma...." Zean tampak bingung untuk melanjutkan kata-katanya
"Sttt.... Iya aku ngerti kok aku becanda doang" Chika mengarahkan telunjuknya pada bibir Zean
KAMU SEDANG MEMBACA
Cegil Zean
Teen Fiction"Istighfar, Yessica!!!" ~Zean~ "Milyar-milyar juta-juta ratus-ratus sekian kemungkinan lelaki di dunia, aku cuma mau pak Zean" ~Chika~
