CZ 26

1.5K 223 32
                                        

"Pak Zean!" Suara Chika menahan langkah kaki Zean

Ia menengok tak menyangka Chika menyusulnya keluar, "mau kemana?" Tanya Chika dengan matanya yang berair

Kening Zean berkerut, "bukannya tadi saya sudah bilang kalau teman saya butuh bantuan?"

"Pacar bapak lagi ada masalah dan bapak lebih milih pergi?" Tanya Chika tak habis pikir

"Saya pikir kamu masih belum mau ngomong sama saya" Ucap Zean begitu saja yang terasa memancing emosi Chika

"Terus bapak gak ada usaha gitu?, gak penasaran kenapa aku nangis?, sama sekali gak ada rasa mau tau?"

"Chika...."

"Aishhh teman bapak itu lebih penting ya, apalah arti seorang pacar" Chika mengalihkan pandangannya dari Zean

"Chika saya buru-buru sekarang, please gak usah kemana-mana omongan kamu"

Chika tersenyum getir, "salah emang, aku yang salah sejak awal maksain kita. Kerasa banget ya, cinta sendiri tuh gak enak emang harusnya dari awal...."

"Stop Chika, saya cinta kamu juga gak ada yang bilang kamu cinta sendiri. Tolong jangan kekanak-kanakan masuk sana" Zean tampak sedang tak ingin berdebat dia kembali hendak melanjutkan langkahnya namun suara dengan nada gemetar dari belakang kembali menahannya

"Papi mau jodohin aku!" Tangis Chika pecah seketika

Zean teriam sejenak menarik nafas kemudian kembali menghadap Chika lalu mendekati dan memeluknya

"Papi mau jodohin aku sama cowok lain pak!" Chika masih berbicara walau sambil menangis, namun Zean hanya diam sambil memeluknya tanpa berkata apapun

"Maaf karena papi udah tau soal kita, papi tau kita pacaran, aku udah gak bisa nutupin hubungan kita. Aku mau papi tau soal kita pak"

Zean melepas pelukannya, menghapus air mata Chika dengan jemarinya, "iya gapapa gak usah minta maaf"

Chika terdiam bingung, mengapa Zean tampak santai, "udah gitu doang respon bapak, gak marah?" Zean menggeleng membuat Chika makin heran

"Terus buat apa selama ini bapak nyuruh aku buat diem-diem dari papi kalau ternyata gak kenapa-kenapa juga kalau papi tau soal kita"

Zean diam sejenak, Chika tak mengerti, Chika tak paham tentang semuanya

Ia menarik nafas, "tenang ya, saya bakal usahain kita. Soal perjodohan kamu dan semuanya gak usah terlalu kamu pikirin dulu. Sekarang please biarin saya pergi dulu, masuk ya ini udah malem"

Seketika Chika melunak, tak ada emosi, tak ada rasa kesal. Yang ada hanya penasaran. Tapi suara lembut Zean barusan cukup membuatnya sedikit lebih tenang.

"Iya, bapak hati-hati perginya ya"

Zean tersenyum, "iya sayang" Balasnya sambil mengelus puncak kepala Chika membuat Chika ikut tersenyum lalu membiarkan Zean pergi

Zean sampai di aura cafetaria, matanya berhasil menemukan seseorang yang terlihat sudah menunggunya. Dengan senyum canggung Zean menyapanya "Om"

Pria itu menghela nafas, "kamu buat saya  nunggu hampir satu jam?" ucapnya terdeengar kesal

"Maaf om tadi Chika agak..."

"Duduk!" Katanya tegas sambil melihat ke arah kursi dihadapannya dan Zean langsung menurutinya

"Jadi sudah berapa lama?" Tanya Calvin tanpa basa-basi

Zean diam menatap Calvin, ia seperti masih sulit untuk mengeluarkan kata-kata

Cegil ZeanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang