CZ 27

1K 211 19
                                        

Siangnya sebelum Chika dijemput Zean, ia lebih dulu mendatangi rumah Zean. Hal itu tentu membuat Zean lumayan terkejut, lantaran ia pun sudah siap di mobilnya. Begitu melihat Chika berjalan masuk ke halaman rumahnya, Zean buru-buru keluar kembali dari mobil.

"Kok nyamperin duluan, kan saya bilang mau jemput. Terus beberapa chat terakhir dari saya juga gak kamu bales kenapa?" Tanya Zean penasaran. Namun yang ditatap malah memasang wajah datar, cenderung seperti kesal atau marah mungkin?. Zean mengerutkan kening mengingat-ingat apa mungkin dia ada salah.

"Kamu kenapa, ada masalah?. Atau aku ada salah?" Zean coba bertanya pelan. Nafas Chika terdengar berat, seperti orang yang malas mengeluarkan suara.

"Jadi bapak mau ajak aku kemana, ayo katanya ada yang mau diomongin kan"

"Iya tapi kamu....." Perkataan Zean terpotong saat tangannya yang berniat menyentuh rambut Chika ditolak oleh Chika, ia tampak menghindar.

"Sayang?"

"Buruan katanya mau pergi" Chika melengos masuk ke dalam mobil Zean.

Zean makin bingung, tapi dia berusaha tenang dan ikut masuk ke dalam mobil. Diperjalanan tak ada obrolan, Chika menatap datar jalanan depan, tanpa menoleh ke arah Zean sedikitpun, raut wajahnya masih terlihat kesal, dan tak ada satupun kata yang keluar sejak awal mereka berada di ruang yang sama ini.

Siang hari jalanan cukup ramai, cuaca di luar terik, lampu kuning berganti merah mengharuskan Zean menginjak pedal rem. Sambil menunggu, Zean mengetuk-ngetuk stir mobilnya, bosan sekaligus bingung ia rasakan. Perempuan di sebelahnya masih sama, diam tanpa kata. Bahkan suara riuh dari luar tak membuatnya terusik. Zean tau betul jika diajak bicara sekarang yang ada Chika malah tambah marah nanti jadi dia memilih untuk diam saja.

Zean membawa Chika ke sebuah taman, tapi karena ini masih hari kerja, taman itu tampak sepi. Hanya didominasi suara pepohonan dan daun-daun yang bergerak karena tiupan angin. Kondisi sejuk, yang harusnya menyejukkan hati juga. Tapi tidak hati Zean sedikit memanas saat gengaman tangannya ditolak oleh Chika.

Kini mereka duduk di sebuah kursi panjang, menyisakan ruang hampa menengahi mereka. Zean masih diam bingung memulai darimana, otaknya juga masih berpikir keras apa yang membuat Chika bersikap seperti sekarang ini.

"Jadi mau ngomong apa, kenapa malah diem aja?. Harus dipancing duluan terus masa?" Ucap Chika terdengar kesal

"Saya ada salah ya Chik, saya minta maaf. Tapi jangan gini saya bingung, semua kata yang udah saya kemas rapi rasanya buyar saya bingung harus mulai dari mana"

"Oh sekarang nyalahin aku nih?"

"Gak gitu, saya cuma heran kamu kenapa?"

Chika mengamati sekitar, dengan matanya yang tiba-tiba terasa sedikit berair, "udah nyiapin apa aja buat mutusin aku hari ini?" Terdengar sekali kalau Chika menahan getaran di suaranya saat melontarkankan pertanyaan itu.

Mata Zean memicing kaget, "maksud kamu apa?"

"Harusnya aku sadar, belakangan ini sikap bapak beda. Awal-awal gak semanis ini tapi 7 hari ke belakang aku benar-benar ngerasa kayak putri yang disayang banget sama pangerannya" Chika meneteskan air matanya, Zean ingin menyeka namun buru-buru Chika tangkis, ia dengan cepat menghapus air matanya sendiri.

Mendengar ucapan Chika barusan, Zean tak kaget justru ia paham sekarang Chika kenapa. Pasti Calvin sudah mendahului dirinya. Sial, ini belum benar-benar 7 hari, tapi Calvin sudah mengingkari janji mereka lebih dulu.

"Hmm mungkin ini bakal panjang, jadi boleh ya kamu dengerin saya dulu tanpa memotong?" Chika hanya diam tapi terasa menyetujui permintaan Zean.

"Sejujurnya ini cerita yang benar-benar gak pernah mau saya bahas lagi. Tapi kayaknya emang kamu harus tau"

Cegil ZeanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang