Davino masih duduk di ranjang sambil menahan senyum. Dia tahu benar bagaimana membuat Nares kesal, dan itu memberi hiburan tersendiri bagi dirinya. Namun, di balik wajah jailnya, ada perasaan puas melihat tanda yang ia buat. "Milikku" gumamnya pelan sambil mengingat ekspresi Nares tadi pagi.
Di dalam kamar mandi, Nares masih sibuk dengan acara mendumelnya. Dia memandang tanda ungu di lehernya dengan frustrasi. "Dasar bocah mesum, gimana nanti kalau ada yang liat? aarrghh mati gue!" pikirnya. Nares akhirnya menyerah mencoba menghilangkan tanda itu dan memutuskan untuk menutupinya dengan kerah seragamnya.
Beberapa menit kemudian, Nares keluar dari kamar mandi dengan kerah yang sedikit ke atas. Davino yang melihat itu tertawa kecil.
"Kok karya gue di tutupin sih padahal bagus banget lho" ledek Davino sambil menunjuk kerah di leher Nares.
"Lu diem, nggak usah banyak komen!" jawab Nares kesal sambil berjalan ke arah lemari.
Davino mendekat, mencoba menarik kerah dari leher Nares. "Biar gue lihat lagi dong, cantik banget tandanya tadi."
"ANYING! LEPAS!" Nares memukul tangan Davino dengan buku yang ada di meja, membuat Davino mundur sambil tertawa keras.
Setelah itu, Nares segera keluar dari kamar untuk sarapan, meninggalkan Davino yang masih sibuk merapikan dirinya. Di ruang makan, Mama Vera dan Papa Dirga sudah duduk sambil menikmati kopi pagi mereka.
"Pagi, Nares," sapa Mama Vera sambil tersenyum. "Kok keliatan buru-buru gitu? Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, Mah," jawab Nares cepat sambil duduk di meja makan. Dia mencoba menutupi lehernya dengan cara menarik kerah seragamnya lebih tinggi.
Mama Vera memandangnya curiga. "Kamu sehat kan? Kok kamu kayak gelisah sambil megang megang leher mulu dari tadi? Sakit tenggorokan?" tanyanya sambil mendekat untuk memeriksa.
"Enggak, Mah! Aku sehat kok," elak Nares sambil menggeser tubuhnya sedikit menjauh.
Tepat saat itu, Davino muncul dengan seragam yang rapi, rambut basah, dan aroma segar. Dia berjalan santai ke arah meja makan sambil tersenyum lebar. "Pagi, Ma, Pa," sapanya dengan nada ceria.
"Pagi, Davino," balas Papa Dirga. "Kok kamu ceria banget pagi ini?"
Davino melirik Nares yang sedang memasang muka cemberut. "Gapapa sih pah kan hidup harus dinikmati," jawabnya sambil duduk di sebelah Nares.
Nares memelototi Davino, lalu berbisik dengan nada penuh ancaman. "Jangan macem-macem, gue masih kesel sama lu."
Davino hanya tersenyum tipis, lalu membalas dengan berbisik juga, "Santai dong, sayang. Lagian kan gue cuma ngasih tanda cinta."
"TANDA CINTA PALA LU!" bentak Nares setengah berbisik, membuat Mama Vera menatap mereka berdua dengan alis terangkat.
"Eh, kenapa kalian bisik-bisik? Lagi ngomongin apa tuh?" tanya Mama Vera sambil menatap curiga.
"Enggak, Mah. Nggak ada apa-apa kok," jawab Nares cepat sambil memalingkan wajah.
Namun, Mama Vera tetap menatap mereka dengan penuh rasa ingin tahu. "Hmm, Nares, kenapa kamu megang-meganv area leher Mulu dari tadi?, coba mamah liat sini"
Nares langsung panik. "Enggak, Mah! Aku cuma lagi nggak enak badan aja. Lehernya dingin, makanya ditutupin."
Davino yang mendengar itu hampir tertawa, tapi dia menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura minum. Nares meliriknya dengan tatapan mematikan.
"Kalau sakit, bilang, ya. Jangan sampai kenapa-kenapa," ujar Papa Dirga.
"Iya, Pa," jawab Nares singkat sambil buru-buru menyelesaikan sarapannya.
Setelah selesai makan, Nares langsung bangkit dari kursi. "Aku berangkat duluan, ya, Mah, Pa!" katanya sambil berjalan cepat keluar rumah.
Davino dengan santainya bangkit juga. "Aku juga bareng Nares aja, Ma, Pa. Biar dia ada temen."
———————————————————————
Di perjalanan menuju sekolah, Nares tidak berhenti mengomel.
"Gue sumpahin lu nanti keselek waktu makan!" bentak Nares sambil melangkah cepat.
Davino hanya tertawa pelan. "Santai, Nares. Lu tuh kalau ngomel makin lucu, tau nggak?"
"Anjir, gue nggak lucu, oke? Lu tuh nyebelin banget!" Nares memukul lengan Davino dengan tas yang ia gendong dibahu kanan.
Sesampainya di sekolah, Nares langsung berjalan menuju kelas, meninggalkan Davino di belakang. Namun, saat melewati teman-teman sekelas, salah satu dari mereka, Edgar, memperhatikan sesuatu.
"Eh, Nares, leher lu kenapa tuh? Ada tanda ungu," tanya Edgar dengan nada penasaran.
Nares langsung panik. "Apa? Nggak ada apa-apa kok!" Dia buru-buru menutupi lehernya dengan kerah seragam lagi.
Davino yang baru tiba di belakangnya hanya tersenyum. "Tenang aja, Edgar. Itu cuma bekas gigitan nyamuk," katanya santai.
Semua teman mereka tertawa, sementara Nares semakin kesal. "DAVINO! GUE GEPREK LU DI SINI JUGA MAU?!" teriaknya dengan wajah merah.
"Tenang, sayang. Nanti kita ngobrol lagi, ya," balas Davino sambil berjalan menuju kelasnya, meninggalkan Nares yang masih kesal sambil menggerutu.
"Dasar bocah ngeselin," gumam Nares sambil memukulkan bukunya ke meja.
Di kelas Nares, suasana heboh dan sangat berisik. Dikarenakan tidak ada guru, oleh karena itu mereka bebas melakukan apapun. Begitu juga dengan Nares, Edgar dan juga Nathan, mereka bertiga sedang asik mabar dan itu sangat berisik bahkan kebun binatang pun keluar semua. Saat sedang asik-asiknya tiba-tiba mereka di kejutkan dengan datangnya Arsen.
"Oiiii ress"
"Apaan?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari gamenya
"Diajak balapan noh sama anak sebelah" ucap Arsen
"Anak sebelah mana?" Tanya Nathan yang mulai menghentikan acara main gamenya
"Sekolah sebelah noh pelita jaya"
"Siapa perasaan gue gak ada masalah deh sama anak pelita jaya" ucap Nares yang kini mulai tertarik dengan pembicaraan tersebut
"Regan, orang yang terakhir kali lu ajak balapan" ucap Arsen
"Buset tu orang gak kapok apa, udah kalah masih aja nantangin" ujar Edgar
"Atur aja, anak kek gitu emang gak pernah puas" ucap Nares
"Pacarlu gimana?" Tanya Nathan
"Pacar? Siapa?" Ucap bingung Nares
"Davino, lu sama dia kan mau tunangan jadi pasti apa-apa lu harus ijin sama dia"
"Yaelah baru juga calon, males bet juga ngomong sama dia"
"Yaudah sih serah lu aja"
"Nanti kalau udah fiks kabarin gue ya sen" ucap Nares
"Siap kalau itu mah"
"Dahlah gue mau kantin aja, haus bet gue" ucap Nares
"Lah mau bolos lu?" Tanya Edgar
"Jamkos bro bebas mau ngapain aja" ucap Nares
"Hehehe oh iya ya yaudah gue ikut"
"Ikut juga" ucap Nathan
"Jangan tinggalin gue woii" ujar Arsen
Akhirnya mereka bertiga pun menikmati jamkos itu di kantin dan tentunya dengan mabar juga, mumpung sepi jadi mereka bisa bebas.
"Eh gue dapat pesan nih, katanya nanti jam 10 malam" ucap Arsen
"Okeyy atur aja"
⭐️⭐️⭐️
Jangan lupa vote dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Psiko & Badboy
FantasyNares Angelo Yuan, yang terkenal sebagai raja bully di sekolahnya, tiba-tiba menemukan dirinya takluk di hadapan seorang psikopat yang misterius. Davino Xabilo Abimanyu, seorang psikopat jenius yang menyamar sebagai culun untuk melindungi kehidupan...
