Halo teman-teman, kali ini update lebih cepat yaa☺️
Meski chapter kemarin bikin sedih, ayok kita semangatin lagi dengan vote dan comment ya🔥🔥
Happy reading 🤗
🫀
Menikmati sunset di pantai dengan pasir putih dan suara ombak menjadi teman sekaligus penenang dari segala lelah dan penat yang ada dalam beberapa hari terakhir ini. Setelah menandatangani kontrak projek di Hong Kong, Dea langsung menuju tempat liburannya di Langkawi. Destinasi yang sama sekali tidak ada dalam list nya. Ia menemukannya ketika sedang asyik di reels dan salah satu iklan yang muncul mengenai tempat itu, langsung menarik perhatiannya.
Dirga alias Papanya, memang ikut dalam menandatangani projek tersebut. Bukan tanpa alasan, karena setelah berbagai negosiasi dari tim projek tersebut, mereka akan menggunakan jasa Butik O'Deil sebagai penyedia atau distributor untuk produk-produk kain yang akan digunakan dari Indonesia.
Belum banyak yang Dea lakukan di pulau ini selain merenung dan menangis sendirian. Ia baru tiba kemarin sore dan langsung beristirahat. Entah beristirahat yang seperti apa yang ia lakukan karena matanya terlihat menghitam dan bengkak. Ia sedang menonaktifkan segala jalur komunikasi sosial medianya, karena ia merasa membutuhkan rehat atau ketenangan tanpa perlu dihubungi oleh siapa pun saat ini.
Dea punya waktu sekitar satu minggu untuk memulihkan diri di sini sebelum kembali ke Jakarta untuk mengemas barang-barangnya dan berangkat ke US sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Rapat koordinasi dengan Oma Clara sudah diambil alih oleh Papanya. Beberapa projek di butik sudah dialihkan ke desainer atau butik lain. Mengenai kekosongan jabatan yang ada, Papanya bersedia mengisi dan akan menunggu putrinya selesai dengan urusannya di US.
"Papa juga akan segera pensiun, jadi mengisi waktu di butik adalah langkah terbaik." Itu yang Papanya ucapkan ketika Dea meminta Nina untuk mengumumkan lowongan kerja.
Terlalu banyak orang yang berkorban untuk cita-citanya. Perasaan itu menumpuk dan rasa bersalah itu tak kunjung lepas dari dalam. Dea berdiri dari kursinya, berjalan di sepanjang garis pantai sambil menikmati air pantai yang mengenai ujung jarinya.
Hotel tempat ia menginap tidak terlalu ramai karena selain belum musim liburan, tempatnya juga agak jauh dari bandara. Dea tidak perlu khawatir karena tidak akan ada orang yang mengenalinya di sini, kecuali ia mengundang seorang teman atau berkenalan dengan orang sekitar.
Ia berhenti berjalan ketika sinar matahari yang cantik itu sudah tenggelam seutuhnya. Ia menatap ke langit, dan hatinya semakin membuncah kala melihat bintang-bintang kecil di sana. Air matanya jatuh membasahi pipi, napasnya kian terengah-engah berusaha mengeluarkan sesuatu yang sesak dari dalam dada.
Ia jatuh dan terduduk di antara pasir dan gelap yang remang-remang itu. Ia menangis sejadi-jadinya dan mengeluarkan seluruh emosinya. "Aku capek...." Pilu sekali suara dan tangisnya.
"Kalau aja... dari awal aku sadar diri, pasti nggak akan begini." Ia bermonolog sendiri, lalu kemudian ia menertawai dirinya sendiri. "Huh!" Ia mengusap pipinya, lalu menenangkan dirinya.
Dia pejamkan matanya beberapa detik, menarik dan membuang napasnya perlahan, lalu berteriak, sekuat yang ia bisa. Bodo amat dengan orang-orang yang bisa mendengarnya. Dea menyilangkan kedua tangannya dan menepuk bahunya. "You're good now and tommorrow will be." Dea merasakan lega di hatinya meski fisiknya lelah saat ini. Langkahnya sudah terlalu jauh, sehingga ia memutuskan kembali ke hotel dan beristirahat jika ia bisa.
Setibatanya di kamar hotel, Dea langsung bersih-bersih dan duduk di balkon menikmati view langit yang penuh bintang. Iseng ia nyalakan ponselnya dan menyambungkan WiFi.
KAMU SEDANG MEMBACA
DPD (Tamat)
ChickLitDPD (Sequel Dosen Bucin & DSM) ♥️Yuk Follow Dulu Sebelum Baca♥️ --- Deaby Emma Ellona Putri Brahmana (Dea), seorang desainer muda berbakat yang karyanya pernah digunakan oleh model ternama dunia. Kepulangannya ke Jakarta ialah untuk meneruskan usaha...
