2.1 - Permintaan

9.9K 403 169
                                        

Haloo semuaaa☺️☺️
Ini adalah chapter pertama dari Season 2
Senang kannn😆😆
Akhirnya bisa kesampaian melihat kisah keluarga kecil Dokter Sean dan Ibu Dea🤭

Bisa dong vote dan comment nya dikencangin lagi🔥🔥🔥
Bisa yukkkk

Selamat membaca semuanya🤗
💕 dari Dokter Ares dan Ibu Dea

🫀

Acara makan malam yang direncanakan oleh Sean dan Dea berlangsung di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah orang tua mereka. Khusus malam ini, mereka ingin merayakan kabar bahagia kepada keluarga. Di ruangan tersebut sudah hadir Papa Ares, Mama Nara, Papa Dirga, Mama Melani. Adik-adik mereka pun ikut ke mari.

"Sibuk banget nih businessman nya Brahmana?" Sean menepuk bahu Arga dengan hangat. Adik iparnya itu sedang semangat-semangatnya berbisnis. Begitu kata Dea.

"Hahaha, bisa aja Bang. Aman lah." Arga menutup ponselnya setelah Sean duduk di sampingnya.

Sean turut senang melihat Arga yang sudah bertumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa. Ia mengenalnya sedari kecil, dan siapa sangka mereka jadi ipar.

"Ditabung duitnya."

"Waduh." Arga memamerkan deret giginya. "Apa itu menabung, Bang? Kerja untuk party lah."

"Oh lagi sering party nih?" Sean cukup penasaran dengan kehidupan personal Arga. Sean masih duduk di bangku sebelah Arga. Lalu katanya, "Party sih boleh, tapi ingat masa depan."

"Iya, siap, Ndan." Arga menarik gelas berisi air mineral untuk ia minum. "Kak Dea gimana Bang? Is she cooperate?"

"Ya begitulah. Kadang ramah, kadang cuek."

"Hebat ya, Bang Sean. Kok mau lho sama Kak Dea." Arga geleng-geleng kepala. Masih saja takjub dengan kehidupan baru dari rumah tangga Sean dan Dea. "Kak Dea sudah level up. Tadinya teman main Kak Gina, masuk circle persaudaraan keluarga Mahastama, eh tahu-tahu dapat anak sulungnya. When exactly did you see my sister as a woman? Not as a friend anymore."

"Since she's born, maybe?"

"Gombalnya, Pak Dokter."

Percakapan per-ipar-an itu tidak luput dari pantauan Dea yang duduk di sebelah Mamanya. Momen langka melihat adiknya bisa mengobrol lama dengan Sean di luar rumah. Sementara Gerald nimbrung dengan percakapan para orang tua. Posisi mereka pun menetap demikian sampai makanan datang dan mulai makan. Gerald, Papa Dirga, Mama Melani, Dea, Gina. Lalu disebrangnya duduk Mama Nara, Papa Ares, Arga dan Sean.

"Sering-sering ya menantu traktir kita," ucap Dirga ketika makanan sudah tiba.

"Iya, Pa, doain rezeki lancar," sahut Sean seraya tersenyum.

"Padahal Papa yang baru dapat rezeki," umbar Dea.

"Syukurlah, nambah uang pensiun, Kak." Dirga tak kalah senang karena ia berhasil mendapat harga tinggi dari penjualan saham butik. Saat ini, kepemilikan butik seluruhnya sudah pindah atas nama Dea.

"Tahun ini jadi pensiun kan ya?" tanya Ares.

"Jadi dong."

Dea diam-diam memperhatikan obrolan para orang tua itu. Mengobrol serius bisa, mengobrol santai juga mampu. "Enggak makan udangnya?" Melani bertanya pada Dea.

"Enggak, Ma."

"Tumben. Enak kok udangnya. Cobain satu dulu." Melani mode mama galak kembali muncul. Ia menaruh udang bakar di piring Dea.

DPD (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang