Ekstra Part 4

8.5K 425 70
                                        

Happy weekend teman-teman 😘😘
Semoga sehat selalu yaa..

Jumpai lagi dengan Ekstra Part Sean dan Dea
Terima kasih masih menunggu kehidupan bahagia mereka yaa

Happy reading guys🤗🤗🤗

🫀

Kali pertama Dea membuka mata dari tidurnya, penglihatannya langsung terang karena cahaya yang menembus kaca jendela kamar mereka. Ia terbangun seorang diri, di tengah kasur tanpa ada pelukan yang menghangatkan tubuhnya lagi. Ke mana pergi suaminya itu?

Dea meregangkan kedua tangannya ke atas, lalu seketika tersadar kalau lengannya polos tanpa baju. Dea seolah-olah diingatkan kembali pada kelakuannya tadi malam, tentang pijat memijat dan argh... Dea malu sekali. Ia masih belum siap untuk hal sejauh itu.

Segera ia bangun dan menggunakan baju yang benar, bukan hanya tank top tipis yang tampak menggoda ini. Dea menyempatkan mencuci muka dan menyikat gigi, lalu ke luar dari kamar, mencari laki-laki yang berani sekali meninggalkannya pagi ini.

"Saya nggak mau ya, Jo, selama cuti, saya diganggu sama pekerjaan dan pasien."

Dea mendengar suara Sean dan ia mendatanginya. Ia duduk di sofa, dengan kaki terlipat, sambil membuka laptop dan tangan memegang ponsel di telinga.

"Nggak masalah mau ditambah satu Dokter lagi. Hm, kasih saya update via chat saja."

Penampilannya tidak jauh berbeda dengan Dea. Raut wajahnya lelah, mungkin agak kusut, karena selain kecapekan mereka juga begadang.

"Ya. Terima kasih, Jo."

Dea mendekat setelah mengambil cangkir yang sudah ia isi dengan air hangat. Kedatangannya terbaca saat jarak mereka tidak lebih dari tiga meter. Ekspresi wajah Sean berubah dengan ceria saat melihatnya.

"Selamat pagi, Sayang." Sean bertanya dengan wajah yang berhiaskan senyuman di sudut bibirnya.

Dea balas tersenyum, sama senangnya. "Selamat pagi," sapa Dea dan mencium pipi Sean. Ia kemudian duduk tepat di sebelah kanan Sean, bersandar pada lengan kekar suaminya, sehingga ia bisa melihat apa yang sedang dikerjakannya di laptop.

"Mau sarapan sekarang nggak?" Tanya Sean. Dea menggeleng, ia masih ingin bergelayut manja di lengan suaminya. Secangkir air hangat sudah cukup untuknya pagi ini.

"Kamu bangun jam berapa?" Dea bertanya untuk memastikan apakah suaminya tidur dengan baik, tidur dengan nyenyak. Tangannya meletakkan cangkir ke atas meja. Sehingga ia bisa bebas memeluk lengan bahkan badan Sean sepuasnya.

"Sekitar setengah jam yang lalu lah."

"Bisa tidur nggak kamu?"

"Bisa." Sean menjawab dengan mata yang masih berfokus ke layar laptop. Ia sedang menyelesaikan approval yang mendadak Joweila minta pagi ini untuk segera dicek sebelum ia cuti panjang.

"Kamu gimana? Nyenyak nggak tidurnya?" tanya Sean. Ia menoleh singkat sebelum kembali mengetik di keyboard laptop.

"Nyenyak banget."

"Oh, ya? Bagus dong," respon Sean dan kemudian ia mengalungkan satu tangannya untuk memeluk bahu Dea.

Setelah mengabari sekretarisnya, Jo, bahwa approval sudah selesai, Sean menutupi layar laptop dan menyimpannya ke ransel. "Aku belum dengar itinerary honeymoon kita," ujarnya.

Dea menyengir. "Maaf. Masih berantakan di notes aku. Terlalu banyak tempat yang mau dikunjungi."

"Aku ngikut aja kok. Jadi, kamu nggak perlu sungkan untuk memilih tempatnya." Sean mengambil ponselnya. Ia membuka WhatsApp dan layar obrolan Dea.

DPD (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang