45 - It Was Hard, But We Made It

15.3K 649 66
                                        

Hai semuanya🤗🤗
Akhirnya bisa menyapa kalian lagi, semoga kabar kalian sehat yaaaa🤗

Ayuk dong dikasih vote dan comment yang banyak biar aku langsung up bonus part nya😁😁

Ah iya untuk DPD resmi berakhir di Bab 45 ini yahhh🥰

Happy reading all🤍

🫀

Kabar gembira dari pasangan Sean-Deaby tentu saja sudah tersebar di antara kedua keluarga, dan orang yang paling antusias menanggapinya adalah Yang Mulia Bapak Gian Alvares Mahastama.

"Ada tekanan tersendiri karena Papa harus memastikan kamu dan Dea sama-sama single saat bertemu. Cincin itu selalu bikin Papa khawatir. Gimana kalau ternyata Dea sudah punya pasangan, dan kamu tiba-tiba ngenalin pacar kamu juga ke kami."

Itu adalah percakapan singkat Sean dengan Papanya yang ia beritahukan pada Dea. Ia juga banyak menerima ucapan selamat dari keluarga Mahastama. Tidak sampai 24 jam setelah Dea menerima lamaran tersebut, dia sudah diundang ke grup keluarga besar Mahastama, katanya biar Dea tidak pergi lagi. Yang mengundangnya tentu saja kekasihnya.

Kadang Dea tertawa sendiri saat membaca pesan-pesan di grup tersebut, kebanyakan para orang tua yang mengirimkan stiker atau berbalas pesan. Ternyata kehidupan orang kaya pun juga punya stiker-stiker lucu di WhatsApp mereka.

Dea mengunci layar ponselnya saat perawat memanggil namanya. Ia sedang melakukan medical check up sebagai syarat untuk mengikuti kegiatan relawan Dokter Sean yang akan berangkat ke NTT di Jumat ini. Ya, pada akhirnya Dea menyetujui untuk ikut bersamanya.

Tidak banyak hal yang diperiksa, sehingga dalam satu setengah jam kemudian, Dea sudah selesai dan hasilnya akan segera dikirim dalam tiga jam bersamaan dengan approval kegiatan relawan. Ia punya power orang dalam saat ini.

Setelahnya, Dea memakai masker untuk menutupi wajahnya. Ia berjalan ke lobi rumah sakit di mana Gina sudah menunggu. Siang ini mereka berjanji untuk makan bersama di Rumah Makan Padang yang ada di sekitaran rumah sakit.

Setelah saling menyapa, mereka berjalan bersisian. Gina menerima saja ajakan makan siang bersama dari calon kakak iparnya.

Mereka duduk di lantai dua menghadap jalan raya. Makanan langsung tersaji tanpa menunggu lama, dan Gina juga langsung minta izin untuk segera makan karena ia memang lapar sekali, belum makan dari tadi pagi.

"Makasih lho Kak Dea udah ajak aku makan siang."

"Kayak sama siapa aja kamu, Gin."

Dea pun mulai ikut makan, mulai mengambil lauk, rendang tentu saja, kemudian menuangkan kuah ke nasinya. Itu nikmat sekali di siang panas begini.

"Aku boleh tanya nggak sih Gin soal hubungan kamu sama dia sekarang gimana?" Dea masih penasaran karena cerita Gina terakhir kali, bahwa senior aka konsulennya sedang mengambil kuliah lagi.

"Masih lanjut kok, Kak. Udah kenalan sama Papa dan Mama juga."

"Oh, ya? Sean sama Gerald juga dong?" Dea benar-benar terkejut mendengarnya.

"Iya, hehehe. Sebenarnya kepergok sama mereka berdua." Pengakuan itu berhasil membuat Dea menggali cerita lebih dalam lagi, hingga pembicaraan mereka berlanjut tentang Sean yang berpetualang selama tiga tahun terakhir ini dan berujung membuat kegiatan relawan ke daerah pedalaman.

"Kak Dea harus nonton podcast Dokter Sean sih." Gina menunjukkan sebuah laman YouTube dari podcast RS Mahastama. Dilihat dari tanggal tayangnya sekitar satu minggu lalu, Dea asumsikan bahwa Sean baru saja syuting podcast tersebut.

DPD (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang