Hello guys...
Update lagi nih setelah melihat semangat kalian yang membara heheheh😆😆😆
Yuk vote dan comment yang banyak lagi, biar update nya juga sering-sering😍
Happy reading🤗
🫀
"Kamu yakin dengan thesis yang baru kamu revisi ini? Membaca kalimat pertamanya saja sudah bikin saya tidak tertarik. Revisi lagi dengan benar." Suara pena saat mencoret dan memberi paraf terdengar horor di ruangan bercat putih di salah satu sudut Rumah Sakit Mahastama.
"Kok diam?"
"Baik, Dok, segera saya revisi."
"Nggak usah segera kalau masih salah dan bingung sama apa yang mau kamu bahas."
"Baik, Dok."
Dokter residen itu baru bisa bernapas setelah keluar dari ruangan yang bertuliskan horor, jangan coba-coba mendekat dalam tulisan tak kasat mata. Teman-temannya langsung berdiri dari kursi begitu ia keluar.
"Gimana? Aman?"
"Aman apanya? Revisi lagi nih."
Dua temannya yang menunggu itu juga sama mengkhawatirkannya. Mereka bertiga adalah dokter residen spesialis bedah toraks, dua di antaranya adalah anak bimbingan dari penghuni ruangan tadi. Sementaranya satu lagi adalah teman seperjuangan yang juga berada di departemen spesialis yang sama dan tentunya akan selalu berhubungan dengan penghuni ruangan tersebut meskipun berbeda dosen pembimbing.
"We're done."
SAM. Sean Advielo Mahastama? No! Tapi, Sarkasme Aura Mematikan. Itu julukan yang terkenal di antara para dokter residen di RS Mahastama, di departemen bedah toraks. Terutama dalam tiga tahun terakhir ini.
Siapa yang tidak kenal dengan Dokter Sean. Ahli waris yang sempat menjabat sebagai Direktur namun memilih turun tahta ketika sedang patah hati. Gosipnya sih begitu. Dan beliau malah memilih para calon-calon dokter muda ini menjadi sasaran empuk sebagai pelampiasan atas kekecewaaan karena ditinggalkan kekasihnya. Lagi, lagi, itu gosip yang beredar di rumah sakit.
Dalam tiga tahun terakhir, iya, sudah tiga tahun dari kejadian itu. Dokter Sean yang sedikit—bukan, dia memang menggila. Saat beliau menjadi dosen penguji, dia menolak hasil penelitian mahasiswa kedokteran dan harus mengulang skripsi sejak awal lagi. Dan sejak saat itu, semua mahasiswa menghindar untuk memilihnya menjadi dosen pembimbing bahkan berdoa agar beliau tidak menjadi dosen penguji mereka atau tidak mengajar di mata kuliah mereka.
Mau tahu apa yang lebih gila lagi? Dokter Sean pernah memarahi dokter residen di IGD karena menyuruh dokter magang mengambil cairan dan cairannya salah ambil. Kabarnya, si dokter residen pindah ke rumah sakit lain. Dia tidak segan-segan pada semua orang. Dia juga sering inspeksi mendadak ke tiap departemen, terutama IGD dan ICU, dan siapa saja dokter residen yang bertugas di sana akan habis olehnya. Oh iya, untuk dokter yang berstatus karyawan juga sama, jika macam-mcam dengan pasien atau aturan. You're done.
"Gue udah nggak yakin bisa lulus dari spesialis ini."
"Sya, lo jangan bikin gue makin ngenes. Orang sepintar lo aja nyerah gini, apa lagi gue?"
Tapi, di balik sarkasme dan kedisiplinannya, Dokter Sean mendedikasikan hidupnya sebagai dokter. Setiap hari libur ia akan berkunjung ke panti asuhan dan panti jompo di sekitar Jabodetabek untuk mengadakan pemeriksaan gratis. Lalu dalam enam bulan sekali, ia akan berkunjung ke daerah pedalaman untuk melakukan kegiatan yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
DPD (Tamat)
Literatura FemininaDPD (Sequel Dosen Bucin & DSM) ♥️Yuk Follow Dulu Sebelum Baca♥️ --- Deaby Emma Ellona Putri Brahmana (Dea), seorang desainer muda berbakat yang karyanya pernah digunakan oleh model ternama dunia. Kepulangannya ke Jakarta ialah untuk meneruskan usaha...
