Bonus Part

9.3K 506 66
                                        

Hai teman-teman, ternyata cukup banyak juga yang minta cerita tentang Gina atau Gerald bahkan sequel DPD😁😁😁
Nanti akan kupertimbangkan ya, mungkin bisa up satu bab gitu🤔🤔

Bab ini masih lanjutan dari part terakhir, dibagi dua supaya jumpah words nya nggak over hehehe😊

Selamat membaca🤗

🫀

Perjalanan kurang lebih dua jam di atas awan akhirnya membawa mereka ke Labuan Bajo dengan selamat. Mobil travel yang sudah diatur jauh-jauh hari sudah tiba di bandara bahkan sebelum rombongan Dokter Sean tiba.

Mereka akan langsung diantar ke hotel untuk beristirahat sebelum berkumpul untuk makan malam bersama. Anggota timnya terbagi dalam 4 kamar, masing-masing 2 kamar untuk perempuan dan laki-laki.

Dea sendiri tidak tahu akan masuk ke kamar tim yang mana. Ia masih duduk di lobi hotel sambil menunggu Sean selesai berbicara dengan petugas hotel.

"Ayo naik, De." Sean menyeret dua koper, satu miliknya dan satu lagi punya Dea.

"Kunci kamarku?" tanya Dea ketika mereka di dalam lift.

"Ini." Sean menunjuk kunci yang digenggamnya.

Begitu tiba di dalam kamar, Dea terpukau dengan fasilitas dan pemandangan yang ditawarkan. Jika tahu hasil kerja kegiatan relawan Sean akan diberikan liburan seperti ini, Dea ikhlas badannya pegal-pegal lagi.

"Suka nggak sama kamarnya?"

"Suka banget." Dea meletakkan tasnya di meja. Ia berjalan ke sebelah kasur, lalu menggeser pintu balkon. Laut biru dan pulau di tengah laut itu cantik sekali. "Kita bisa lihat sunset dari sini ya?"

"Bisa."

Sean menyusul Dea yang sudah berdiri di balkon. Ia melihat perempuan itu menutup matanya, menikmati udara yang tenang dan seulas senyum di bibirnya mampu mengobati seluruh lelah Sean hari ini.

"Kamu mau berenang?" tawar Sean.

"Enggak. Aku capek."

"Oke." Sean mengalungkan tangannya pada pinggang Dea, perlahan-lahan menarik tubuh Dea dalam pelukannya. Sesekali Sean akan memberi kecupan di kening Dea di saat mereka sama-sama menikmati pemandangan laut di depan mata.

"Kamu sudah nemu tanggalnya?" Sebelumnya Sean mengonfirmasi soal tanggal lamaran dan tanggal pernikahan mereka. Dea bilang akan menunggu balasan dan kesediaan dari MUA nya dahulu. Sean pasrah saja ketika harus mengikuti waktu MUA yang Dea mau.

"Belum ada respon."

"MUA nya siapa? Nanti biar Jo yang hubungi."

Kening Dea mengerut. "Kenapa ke Jo?"

"Jangan anggak remeh soal relasi Joweila, De."

"Maksudnya, koneksi kamu kan?" Dea membenarkan balasan Sean.

"Hahahahaha, tapi biar Jo yang hubungi duluan."

"Boleh deh, kalau nanti belum ada respon dari beliau, aku minta ke Mbak Joweila." Dea mengabadikan beberapa gambar dalam ponselnya. Ia tidak boleh melewatkan momen ini. "Kamar kamu di mana?" tanyanya pada Sean, yang masih setia menemani dengan berdiri sebelahnya.

"Di sini juga."

Dea langsung menoleh ke arahnya. Tangannya masih menggantung sambil memegang ponsel merekam video.

"Kamu nggak ambil satu kamar lagi buat aku?"

Sean terkekeh. "Enggak lah." Ia mengambil ponsel Dea, menyelesaikan rekamannya sementara Dea sudah menyilangkan tangan di dada.

DPD (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang