Ekstra Part 5

10.8K 446 21
                                        

Happy weekend teman-teman 🤗🤗
Semoga sehat selalu yaa..

Ini adalah extra part terakhir sebelum kita masuk ke season 2☺️
Terima kasih masih menunggu kehidupan bahagia mereka yaa🫶🏻🫶🏻

Happy reading 🤗🤗🤗

🫀

"Ibu!"

Dea membuka mata. Badannya langsung kembali duduk tegak karena saat ini ia masih dalam suasana rapat. Siapa lagi yang berani membangunkannya demikian kalau bukan sekretarisnya yang suka mengganti panggilan padanya.

Libur panjang sudah selesai weekend kemarin. Efek jet lag sepertinya masih terasa sampai hari ini, Senin pertamanya kembali bekerja setelah menjadi istri Dokter Sean.

Dea sudah tidak memperhatikan isi rapat dengan detail. Pada akhirnya ia mengandalkan catatan Nina untuk ia pelajari. Rapat kali ini membahas hasil kuartal pertama butik tahun ini.

"Nin, saya mau makan siang salad saja ya." Dea membisikkan ucapannya pada Nina yang duduk di belakang.

"Baik, saya pesankan Bu."

Presentasi di depan dengan layar monitor yang menampilkan bar dan grafik pendapatan, engagement dan banyak hal lainnya membuat Dea mulai pusing. Kenapa ia jadi sulit mengerti pekerjaannya sekarang? Apakah dua minggu membuatnya menjadi selupa ini?

"Sebenarnya bekerja sama dengan beberapa agensi model tidak membuat profit kita naik signifikan. Bahkan dengan satu gaun saja bisa mengalahkan pemasukan dari satu agensi. Sementara pekerjaan untuk mengatur satu agensi butuh banyak orang. Saya harap Bu Dea mempertimbangkan pilihan untuk fokus pada hal ini."

"Ya, akan saya pertimbangkan, Bu." Dea mengangguk dan memberi senyum tipis di sudut bibirnya.

Matanya kembali memperhatikan monitor di depan dan melihat deretan angka yang tertulis di sana. Laba kotor, laba bersih, pengeluaran, bonus karyawan dan masih banyak lagi. Keuntungan perusahaan di kuartal satu pas-pasan. Jika keadaannya seperti itu di kuartal berikutnya, maka perusahaan akan mengalami dampak yang serius.

"Apa ada solusi selain proposal kerja sama untuk mendapatkan dana?" tanya Dea. Mereka membutuhkan dana untuk operasional projek mereka mendatang. "Sponsor atau investor?" tambahnya.

"Sponsor tidak berpengaruh signifikan. But maybe, investor bisa kita pertimbangkan. Tapi ini membutuhkan approval dari pemilik saham butik juga, Bu."

Dea membuang napasnya dengan malas. Pemilik saham di butik ini hanya dua orang, yaitu Oma Clara dan Papa Dirga. Mereka berdua sepertinya tidak mungkin menyuntik dana lagi ke butik ini. Namun Dea akan mencoba diskusi kembali.

"Baik. Sehubungan dengan pemegang saham akan saya diskusikan dalam minggu ini. Dan saya mau ada tim yang fokus untuk rencana projek dan proposal. Mengenai kerja sama dengan agensi, disaring lagi saja agensi mana yang menguntungkan dan engagement meningkat. Kalau terlalu banyak agensi yang kita urus, bisa pilih satu saja kalau begitu."

Suasana rapat langsung tegang kala itu. Bagaimana tidak, Direktur menyarankan penyaringan agensi kerja sama menjadi satu saja. Bukankah itu sama saja dengan mengakhiri perusahaan?

Tapi semua orang tidak ada yang buka suara. Mereka perlu mempertimbangkan hal itu dan membuat draft dahulu sebelum berdebat dengan Direktur. Karena Ibu Dea Emma Ellona tidak menyukai perdebatan tanpa data, draft risk, faktor hukum bahkan hubungan industrialnya.

DPD (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang