Hai...
Karena antusiasme dan dukungan kalian yang meningkat, aku perrsembahkan chapter terbaru ini😁🫶🏻
Panasin lagi dong bab ini, biar kita cepat update lagi🔥
Happy reading all🤗
🫀
Ruangan tertutup seperti ruangan para dokter residen departemen bedah adalah tempat yang cocok untuk saling berbagi informasi. Masih dengan Irfan, Kesya dan Tirani, yang baru saja kembali dari auditorium setelah menyaksikan aksi heroik—maksudnya tindakan Dokter Sean.
Setelah acara selesai, mereka langsung keluar dan mengantri untuk mengambil makanan. Tapi, karena penasaran bukan main dan ingin memastikan berita yang beredar, mereka malah kembali masuk setelah selesai makan. Menyelesaikan misi, apakah benar mantan Dokter Sean ada di acara, yang mungkin bisa saja muncul di akhir episode.
And here they are.
"Mereka belum konfirm, Ran?" tanya Kesya, yang semakin tertarik dengan percintaan dosen pembimbingnya itu karena cerita Irfan sepanjang hari.
Irfan sengaja mengambil video aksi heroik Dokter Sean yang menggendong perempuan di auditorium tadi. Kadang mereka bertanya, apakah Irfan benar-benar memiliki jiwa dokter atau malah wartawan.
Kenalan Tirani di antara perawat senior dan orang lama di rumah sakit bukanlah tanpa sebab. Karena mendekatkan diri dengan jalur makanan dan bantuan lain, ia berhasil mendapat informasi-informasi yang tidak tertulis di rumah sakit. Dan tentu saja ia bagikan secara privat dengan teman segrupnya.
Tirani menatap layar ponselnya, menunggu balasan perawat senior yang ia kenal. Apakah benar bahwa perempuan itu adalah mantan Dokter Sean atau tidak.
Kayaknya bukan.
"Kayaknya bukan." Tirani membaca pesan tersebut. "Sudah lah, Fan, sampai Dokter Sean tobat, kita tidak akan pernah tahu siapa mantannya beliau."
"Huh."
Mereka terlihat senggang sekali di tengah-tengah deadline revisi paper maupun thesis yang ada di depan mata.
"Tapi, aksi Dokter Sean tadi hanya bisa untuk orang terdekat saja. Menurut opini gue pribadi," tambah Irfan. Kesya pun mengangguk dan menambahkan, "Dia bisa aja nyuruh orang lain untuk membawa Mbak yang pingsan tadi."
Tirani memijat pelipisnya. Pusing juga meladeni kedua temannya. "Ya udah, anggaplah Mbak tadi mantan Dokter Sean. Terus, apa? Kalian mau ngapain?"
"Mau jenguk."
"Mau ngomong."
"Coba kita tonton ulang lagi video nya," ajak Tirani.
Ketiganya kompak mendekatkan badan ke tengah meja. Ponsel Irfan diletakkan di tengah lalu ia mengklik video nya. Keadaannya sudah ramai saat video itu diambil. Bisa dilihat dengan jelas bahwa Irfan agak berdesakan dengan orang di sebelahnya. Walau tidak bisa menjangkau lebih dekat, dan wajah perempuan itu tidak terlihat, tangan Dokter Sean jelas menepuk-nepuk pipinya. Mungkin sudah takdirnya, Dokter Sean memiliki stetoskop dan penlight di badannya. Pemeriksaan darurat yang sesak itu lansung ditenangkan oleh security. Beberapa detik setelahnya, Dokter Sean mengangkat badan perempuan itu, diikuti saudaranya di belakang, juga seorang security.
"Irfan. Ini nggak benar. Lo harus hapus videonya."
"Lho, kenapa?"
"Mengganggu privasi Mbak nya, Fan," ujar Kesya yang kemudian disetujui oleh Tirani. "Gue setuju sama Kesya, Fan."
KAMU SEDANG MEMBACA
DPD (Tamat)
Chick-LitDPD (Sequel Dosen Bucin & DSM) ♥️Yuk Follow Dulu Sebelum Baca♥️ --- Deaby Emma Ellona Putri Brahmana (Dea), seorang desainer muda berbakat yang karyanya pernah digunakan oleh model ternama dunia. Kepulangannya ke Jakarta ialah untuk meneruskan usaha...
