Dear All,
Terima kasih sudah menunggu update cerita ini yaaaa🤗🤗
Semoga bab baru ini bisa membuat kalian tersenyum🤭😆😆
Please support cerita ini dengan kasih comment yang banyak dan vote ya teman-teman🔥🔥🔥
Happy reading💙
🫀
Dea tidak pernah duduk sekaku ini saat makan dengan keluarganya. Setelah tiba di rumah, Dea langsung mencari Papanya dan berdiskusi soal kasus yang sedang kantor hadapi. Dengan tegas Papanya mengatakan bahwa tidak perlu takut dengan ancaman apa pun dari mereka karena yang melanggar kontrak bukanlah dari pihak Butik O'Deil.
Dea paling terakhir datang ke ruang makan, dan kursi yang tersisa hanya di sebelah Sean. Dea melempar tatapan pada Arga.
Sengaja lo ya?
Arga membalas tatapan sengit Kakaknya dengan mengangkat bahu. Gue nggak tahu.
Dea akan mencoba makan dengan tenang hari ini, akan ia ladeni apa pun pertanyaan (jika ada). Dalam hatinya ia berdoa, semoga obrolan di meja makan ini tidak menyinggung apa pun soal masa lalu keduanya.
"Sean nggak ada alergi kan ya? Tante lupa tanya kamu."
"Tidak ada kok, Tante."
"Wah, syukurlah."
"Banyak banget Mama masaknya." Dea sebenarnya menyindir. Tidak pernah seheboh ini Mamanya memasak jika bukan acara penting.
"Kan Mama mau menjamu Sean."
Dea mengangkat bahu. Ia menyendok kuah kuning ke atas nasinya. Kemudian mengambil cumi sambal yang memancing nafsu makannya.
"Ga. Minta kerupuk." Arga memberikan toples kerupuk yang ada di belakangnya.
"Makasih." Dea memutar tutup toplesnya, sedikit kesulitan karena ia menggunakan tangan kiri.
"Bisa?"
Suara lembut dari sebelah kirinya membuat Dea menggeleng dengan polosnya. Toples itu diambil oleh Sean dan begitu tutupnya terbuka, ia memberikannya pada Dea.
Dea dan Arga saling main mata. Dea yang biasanya makan menggunakan sendok, kali ini makan dengan tangan. Menu yang dimasak oleh Mamanya dirasa akan lebih enak jika disantap dengan tangan langsung.
"Sean nggak mengajar lagi ya?" tanya Melani. "Jarang kelihatan di kampus."
"Lagi fokus di rumah sakit, Tante."
"Nanti balik lagi?" Dirga ikut nimbrung.
"Kayaknya enggak lagi, Om."
"Lho, kenapa? Sayang banget." Dirga adalah pendidik sejati menurut Dea dan Arga. Sudah mau pensiun tapi masih menawarkan diri untuk mengambil sks yang banyak.
"Banyak banget yang nggak kepegang, Om."
"Hm. Kamu sih, bangun rumah sakit lagi."
"Biar makin banyak ya pundi-pundinya," tambah Melani. Mamanya itu selalu peka soal bibit bobot bebet setiap orang.
"Astaga, Ma. Hidup itu kan nggak melulu soal uang," tukas Dirga.
"Realistis, dong, Pa. Hidup butuh duit."
"Ya. Dan dalam hidup itu, kita harus bermanfaat juga." Dirga mengangkat sendoknya. "Om baru ingat. Bukannya kamu mau pergi ke Papua? Papamu pernah cerita."
KAMU SEDANG MEMBACA
DPD (Tamat)
ChickLitDPD (Sequel Dosen Bucin & DSM) ♥️Yuk Follow Dulu Sebelum Baca♥️ --- Deaby Emma Ellona Putri Brahmana (Dea), seorang desainer muda berbakat yang karyanya pernah digunakan oleh model ternama dunia. Kepulangannya ke Jakarta ialah untuk meneruskan usaha...
