Haiiii 😍😍😍
Update lagi season 2 part 2
Happy and sehat sehat selalu yaaa kalian😇
Makasiii buat reminder reminder di comment nya untuk minta aku segera up😍😍
Yuk vote dan comment dulu🤗🤗
Biar update nya semangattt huuuu
Selamat membaca teman-teman🫶🏻🫶🏻
🫀
Kondisi badannya di bulan pertama ini sama sekali tidak menyulitkan Dea untuk bekerja. Aktivitasnya masih sama setiap hari. Banyak rapat, banyak menghadapi berkas dan beberapa klien yang ingin Dea menjadi designer mereka. Namun ia memiliki aturan untuk jam kerjanya. Senin sampai Rabu ia bekerja dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore. Kamis dan Jumat bekerja dari jam 10 pagi sampai jam 3 sore.
Nina sebagai sekretarisnya jadi makin pusing untuk mengatur jadwal bosnya jika ada rapat. Belum lagi tidak boleh bepergian jauh karena kondisi kehamilannya. Bosnya itu kini sedang menikmati cemilan buahnya di jam istirahat para pegawai kantor. Dea memilih untuk mengemil buah potong dulu, menghindari mual bila langsung makan berat.
Seminggu lebih sudah berlalu sejak permintaannya tentang keinginan bertemu Cha Eun Woo. Belum ada kabar apa-apa dari mertua maupun suaminya. Tidak memaksa mereka sih untuk mengiyakan keinginannya, karena Dea juga sadar diri akan hal itu.
Layar komputer di meja kerjanya sedang menampilkan grafik penjualan butik di bulan ini. Selain meningkat, timnya mendapatkan projek bernilai besar dan jangka panjang. Dea mengelus perutnya dengan lembut.
Dea tidak berniat untuk beranjak dari kursi kerjanya. Ketika teleponnya berdering dan melihat nama suaminya di sana, Dea menghela napas sebelum mengangkat.
"Selamat siang."
"Siang." Dea tidak sesenang itu berbincang dengan suaminya melalui panggilan video. Ponselnya ia sandaran di phone holder.
"Lagi makan apa, De?"
"Makan buah." Dea menunjukkan bekalnya. Buah melon yang sudah dipotong dadu. "Jadi pergi?" tanya Dea.
"Enggak tahu nih. Gerald nggak jelas infonya. Aku ke butik aja gimana?"
"Ih, ngapain? Mendingan kamu beresin kerjaan kamu deh, biar gak dibawa pulang." Maaf banget ya, Dea suka kesal sendiri kalau pria itu masih sibuk di ruang kerjanya sampai malam. Mereka jadi tidak punya banyak waktu untuk mengobrol.
"Maaf ya."
"Hm."
Dea melihat suaminya itu berjalan ke ruangan kecil dan masuk ke toilet. Ia tengah membasuh tangannya di wastafel. "Pulang cepat aku hari ini kalau nggak jadi pergi. Makan di mana kita?"
"Nggak mau makan di luar. Kalau kamu mau, silakan."
"Sendiri? Boleh?"
"Ya bolehlah."
Tidak ada larang melarang untuk aktivitas mereka masing-masing. Sean sudah kembali ke ruangan kerjanya dan duduk di sofa. "Nggak seru kalau kamu nggak ada. Nanti makan di apartemen aja kalau gitu."
"Mau dimasakin apa?" Ini hanya basa-basi saja sih. Tapi Dea sudah lama juga tidak memasak. Bahkan jarang sekali memasak makanan untuk suaminya.
"Enggak ada, De. Kamu mau makan apa nanti malam?"
"Makan pecel sayur kayaknya enak deh. Mau nggak?"
"Ada yang jual? Mau kalau ada." Dea menutup bekalnya. Seluruh isinya sudah ia habiskan. "Perutnya aman, De? Nggak mual kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
DPD (Tamat)
ChickLitDPD (Sequel Dosen Bucin & DSM) ♥️Yuk Follow Dulu Sebelum Baca♥️ --- Deaby Emma Ellona Putri Brahmana (Dea), seorang desainer muda berbakat yang karyanya pernah digunakan oleh model ternama dunia. Kepulangannya ke Jakarta ialah untuk meneruskan usaha...
