2.3 - Berangkat

5.6K 279 57
                                        

Halooo 😍😍
Sehat sehat yaaa kalian😇
Akhirnya bisa update juga bab baru hehehe

Yuk vote dan comment dulu🤗🤗

Selamat membaca teman-teman🫶🏻🫶🏻

🫀

Pagi buta lebih tepatnya dini hari, sekitar jam tiga pagi, Sean terbangun karena ponselnya berbunyi. Ponsel yang ia gunakan untuk urusan pekerjaan itu memang sering mendapat panggilan mendadak tanpa melihat waktu. Situasinya pasti sama, ada keadaan darurat di rumah sakit.

Sean membawa ponselnya keluar dari kamar, tidak ingin menganggu tidur istrinya. "Ada apa?" Sean langsung bertanya ketika ia mengangkan telepon masuk itu.

"Dokter, pasien naratama kamar 01 mengalami kejang-kejang. Dokter Riki sudah masuk ruang bedah." Sean membuang napasnya lelah. Ia memijat keningnya. "Baik. Saya akan tiba dalam sepuluh menit." Sean adalah dokter penanggung jawab pasien naratama itu. Ia tidak mungkin membiarkan orang lain mengambil tanggung jawab atas tindakan besar pada pasiennya.

Sean kembali ke kamar, menatap teduh pada tubuh istrinya yang tidur dengan tenang dalam selimut putih gading yang membungkusnya. Ia menggapai tubuh istrinya, merapikan selimut sampai ke dada, kemudian membungkuk dan mencium keningnya.

Sean mengambil jaket dan mengganti celana. Rasa bersalah tentu muncul saat-saat seperti ini. Tapi, meninggalkan istrinya tanpa berpamitan sepertinya sedikit kelewatan. Ini kali pertama Dea akan melihatnya bekerja dengan jam kerja dini hari.

"Dea." Sean menyentuh pipi wanitanya. Tidak tega juga membangunkan istrinya yang sedang terlelap.

Sean membungkuk, kembali menciumnya di pipi. "Dea," panggilanya lagi, dan Dea perlahan membuka mata. "Deaby, saya harus ke rumah sakit sekarang. Ini masih jam tiga pagi. Nanti pagi saya jemput buat kontrol ya." Sean mengusap perut istrinya.

"Hm?"

"Saya berangkat."

"Iya..." Dea mengangkat tangannya, memberi pertanda untuk ingin dipeluk. Sean terkekeh sejenak. Ia merendahkan badannya dan memeluk Dea dan melabuhkan cium di atas bibirnya.

"Kalau saya nggak ada kabar sampai jam 9 pagi, tanya Joweila ya."

Sean menutup pintu kamarnya dan memakai sandal jepit yang terlihat di depan mata. Ia mengambil kunci motor dan mengenakan helm saat ia berjalan di lorong menuju lift. Perjalanan dari apartemen menuju rumah sakit di dini hari seperti sekarang tidak akan memakan waktu lama.

Sean hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh menit sampai di depan lobi rumah sakit. Hawa dingin langsung menyambutnya. Tenang, sepi tapi sangat menusuk. Sean menaiki eskalator dan tiba di depan ruangan kamar bedah. Seorang perawat yang berjaga langsung mengarahkannya menuju kamar bedah di mana Dokter Riki berada.

Sebelum masuk ke sana, Sean mengganti pakaiannya dengan baju bedah. Lalu, saat pintu kamar bedah terbuka, perawat lekas membantunya mengaitkan jubah bedah di belakang.

"Position?" tanya Dokter Sean sambil mengikatkan tali topi bedahnya.

"Detak jantung masih under normal condition. Blood pressure already control, Doctor."

Seperti biasa, sebelum melakukan pembedahan, mereka akan mengambil waktu sepuluh detik dengan menunduk dan berdoa dalam hati. Dokter Riki sudah melakukan pembukaan kecil pada area dada pasien. Kini, Dokter Sean melanjutkan pembedahan secara mendalam. Bukan hanya memperbaiki, tapi juga mencari penyebab dan solusi dari masalah yang dialami pasiennya.

Sudah tidak terhitung berapa banyak kantong darah yang masuk, dan sekitar empat jam mereka berdiri di ruang bedah tanpa sedikitpun keluhan di antara mereka. Dokter Sean berkali-kali menghela napasnya. Kondisi jantung pasien dengan usia renta apalagi riwayat kesehatan yang tidak terlalu bagus, tidak bisa dianggap hal mudah apalagi sepele.

DPD (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang