Hai all✨✨
Hari ini aku bisa up chapter baru
Hope you guys support this chapter😁
Happy reading ✨✨
🫀
Bahkan kucuran air dingin pun tidak mampu mendinginkan hati dan pikirannya. Kepalanya terasa mau pecah, bahkan badannya tidak mampu menyeimbangkan posisinya. Entah karena ini faktor usia juga, atau murni karena sedang marah dan hancur hatinya. Sean tidak tahu berapa lama waktu yang ia habiskan di kamar mandi sehingga membuat kamar sudah terasa sepi hanya dengan melihat bunga yang tadi ia dapat dan sebuah... cincin?
She's leaving. Without permission.
Sean menyeringai, pada dirinya yang malang malam ini. Ia menatap cincin itu dengan kasihan. Ia tidak menangis, sudah tidak mampu mengeluarkan air mata. Masih tidak percaya bahwa perempuan itu memilih pergi sendiri. Padahal Sean sudah berjanji akan mengantarnya ke bandara. Tapi, lagi-lagi Sean dan isi kepalanya saling berbicara. Mungkin dari sisi Dea, lebih nyaman baginya berangkat sendiri. Memangnya apa yang diharapkan dari laki-laki sepertinya? Berharap perempuannya masih ada dan menunggunya setelah mereka berargumen seperti tadi? Setelah mulutnya berkata pedas seperti tadi? Mungkin jika ia jadi perempuan, ia bisa saja melakukan yang lebih dari apa yang Dea lakukan.
Sean mencari ponselnya yang masih ada dalam saku jasnya. Ia harus dan perlu memastikan keadaan perempuan itu sekarang. Ia meneleponnya. Dan tentu saja panggilannya ditolak. Apa yang Sean harapkan dari kekasih—masih bolehkah ia menyebut Dea dengan panggilan itu?
To: My Girl
Dea...
Tell me that you're okay now.
Kamu di mana? Kenapa berangkat sendiri?
Please, balas pesanku
Dia bingung sekarang. Ragu untuk mengambil tindakan. Berkali-kali ia menelepon Dea, tapi selalu saja ditolak. Mungkin jika ia menyusul ke bandara, ia masih bisa bertemu dan berbicara dengannya. Tapi, apa? Apa yang harus ia katakan? Apa lagi yang mau diterangkan di antara keduanya? Dea sudah bulat dengan keputusannya, bahkan sudah melepas cincin dari jari manisnya.
Sean menatap layar ponselnya dengan hampa. Juga cincin di sebelahnya. Jangan harapkan catatan apa pun. Dea melakukannya dengan bersih. Meninggalkannya dengan tenang dan dalam sunyi yang menyiksa.
Ketika ponselnya bergetar, Sean langsung terjaga. Bukannya Dea, nama Rangga yang justru ada di layarnya.
"Halo."
"Kalau lagi berantam, ya berantam aja. Tapi jangan biarin cewek lo pergi sendirian bambang!"
"Hm."
"Really, Sean? Gue serius. Cewek lo belum dapat taksi dari tadi. Dia masih berdiri di depan hotel dan mungkin lo lagi leha-leha."
"Dea ninggalin gue."
"Wajar karena lo nggak laki sekarang!"
Bahkan Rangga pun malas berargumen dengannya. Rangga menutup panggilan secara sepihak. Dan dengan tenaga yang tersisa, Sean berdiri dan membawa kunci mobil serta ponselnya.
See? Bahkan Rangga harus turun tangan untuk menyadarkan ketololannya malam ini.
Sean buru-buru dalam langkahnya, detak jantungnya berlari-larian. Ia memaki dirinya dalam hati. Bagaimana bisa ia melalaikan Dea di tengah malam begini.
Begitu pintu lift terbuka di lobi, sorot mata tajam Rangga langsung menusuk badannya. Dia bersama istrinya, Desi duduk di sana, sambil memperhatikan atau mengamati Dea berangkat dengan aman setelah mendapat taksi tadinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DPD (Tamat)
Romanzi rosa / ChickLitDPD (Sequel Dosen Bucin & DSM) ♥️Yuk Follow Dulu Sebelum Baca♥️ --- Deaby Emma Ellona Putri Brahmana (Dea), seorang desainer muda berbakat yang karyanya pernah digunakan oleh model ternama dunia. Kepulangannya ke Jakarta ialah untuk meneruskan usaha...
