44 - All My Heart

11.3K 632 81
                                        

Hai semuanya, selamat menikmati hari libur panjang yaaa✨✨🤭

Yuk vote dan comment 🩷 dulu sebelum baca

Kita kasih yang manis-manis deh di bab ini
Pokoknya sampai meleleh🫠🫠

Selamat membaca🥰

🫀

Dea gusar di kursinya. Pesan yang ia kirimkan tadi malam belum mendapat balasan atau bahkan tanda sudah dibaca. Ia panik dan takut sendiri, bagaimana kalau cincin itu sudah dijual, atau bahkan ia sudah tidak diterima lagi untuk memakai cincin itu.

Dea sudah mengirim pesan kembali di jam makan siang tadi. Dan dua jam kemudian, masih belum ada tanda-tanda pesannya dibaca. Setiap kali ponselnya berbunyi dan setiap 10 menit sekali, ia akan melihat pesan WhatsApp. Ia tidak bisa fokus ke pekerjaannya hari ini. Ditambah nanti malam akan dinner di restoran yang sudah di-booked oleh Sean.

Ting!

Dea buru-buru melihat layar ponselnya. "Oh My God! Dibalas."

Please pick it up at Pegadaian

Dea langsung melotot membacanya. "Yang benar aja!" Dea segera menghubungi nomor tersebut. Dan setelah terhubung, suara tawa pun langsung masuk ke telinganya.

"Gimana? Mau dijemput sekarang nggak?"

"Ini nggak beneran kan, Om? Masa cincin Dea digadaikan sih?"

Iya, cincin itu Dea titipkan pada Om Ares. Di malam yang sama saat kepergiannya, Dea meminta maaf, minta izin sekaligus minta tolong kepada Om Ares untuk mengambil dan menyimpan cincin tersebut. Tidak sulit bagi beliau untuk meminta anak buahnya yang berada di Bali mengambil cincinnya saat itu. Entah siapa yang beliau suruh dan bagaimana caranya masuk ke kamar hotel, Dea tidak tahu dan tidak pernah menanyakannya. Saat itu ia langsung dikabari bahwa cincin tersebut sudah aman.

"Lumayan kan, Om bisa dapat uang."

"Apa Om udah nggak menerima Dea jadi marga Mahastama?"

"Tinggal minta ke Sean atuh. Banyak uang kok dia."

Dea tidak habis pikir dengan Om Ares. "Om, tolongin Dea lah kali ini. Menantu kesayanganmu ini mau join segera lho."

"Masa? Emang udah diajak balikan? Nanti kamu yang PHP in Om lagi. Rugi dong."

Dea jadi ikut tertawa. "Nggak, Om. Kali ini serius. Aku lepasin kartu emas aku." Dea memiliki kartu emas, ia menyebutkannya demikian. Kartu yang dulu diberikan oleh Om Ares saat ulang tahunnya di masa kecil. Kartu itu akan hangus dengan satu kali permintaan.

"Waduh. Kamu mau menukarnya dengan cincin itu? Yakin, Dea? Nggak mau ditukar sama yang lain? Gerald boleh juga kok. Anak-anak kenalan Om juga boleh."

"Enggak, Om, terima kasih."

"Atau mau properti? Saham?"

Terdengar menggiurkan sekali. Tapi, kali ini Dea ingin mengusahakan Sean, meski harus bertransaksi ilegal seperti ini. "Sean sudah lebih dari cukup."

"Tidak akan berubah dan mundur lagi keputusannya?"

"Iya, Om, sudah yakin."

"Ya udah."

"Iya, Om. Jadi, boleh Dea jemput cincinnya sekarang?"

"Oh itu, sudah Om berikan cincinnya tadi pagi sama Sean."

DPD (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang