Happy weekend all🫶🏻🫶🏻🤗
Senang banget bisa update lagi nih 😅😅
Kali ini kita bikin patah hati atau enggak nih hehehehe😉
Ayooo vote dan comment yang banyak ya🤗
Biar besok langsung up lagi yaaa☺️
Happy reading
🫀
Banyak hal yang sudah terjadi, entah itu yang pahit atau yang manis, yang kelam maupun yang cerah. Akhirnya, Dea bisa menjalani hari-harinya dengan tetap waras. Dan di sinilah ia sekarang. Duduk di restoran merayakan wisudanya.
"Congratulations."
"Thank you, Noah." Dea menerima bunga dan pelukan hangat dari temannya— mantan teman kencan. Dia seorang Engineer, Singaporean, sepupu dari teman kuliah Dea. Mereka berakhir menjadi teman, bukan menjadi pasangan.
Meski beberapa tahun sudah berlalu, ia masih belum bertemu sosok yang tepat untuk dijadikan pasangan. Dea tidak akan munafik, ia pernah beberapa kali mencoba jalan bersama teman-teman di sini, tapi rasanya janggal sekali saat mencoba pendekatan. Seperti ada yang menghalangi padahal Dea bukan milik siapa-siapa.
Dea melihat Noah berbincang-bincang dengan orang tuanya, lalu tak lama setelahnya ia pamit duluan. Dea tidak pernah menceritakan soal kehidupan personalnya di sini pada orang tuanya. Dan untungnya mereka tidak pernah bertanya juga.
"Sudah kenal lama dengan Noah, Kak?"
Dea mengangguk. "Tahun pertama kuliah. Sepupunya teman."
"Oh, gitu."
"Kita hanya teman." Dea memberi penekanan agar Papanya tidak bertanya-tanya lagi.
"Jadi, kapan balik ke Indonesia?"
"Soon, maybe."
Dirga mengangguk. "Oke. Cuman mau ngasih tahu soal undangan ini."
Undangan dengan warna nude itu dibungkus dengan amplop dan tertulis namanya di depan sebagai penerima. "Jangan buka di sini. Buka ketika Papa dan Mama sudah berangkat."
"Noted." Dea menyimpan amplop tersebut ke dalam tasnya.
Perayaan wisudanya hanya ditemani oleh kedua orang tuanya. Noah hanya salah satu dari teman yang datang untuk mengucapkan selamat untuknya. Kebetulan, laki-laki itu tidak bisa datang ke kampus, sehingga memilih datang ke restoran di tengah kesibukannya.
Adiknya, Arga tidak dapat hadir karena sedang dinas ke luar kota untuk suatu projek penting. Dan kedua orang tuanya pun tidak bisa berlama-lama di sini karena projek tersebut.
"Kali ini, Papa harap kamu memilih menetap di Jakarta."
Dea tahu itu sindiran untuknya. "Hm."
"Kak, nggak papa kok kalau mau bekerja di sini dulu. Nggak perlu terbebani langsung pulang ke Jakarta," saran Melani. Dia yang selalu mendukung dan mendorong Dea untuk teguh atas keputusan dan pendirian akan cita-citanya.
"Enggak, Ma, aku akan balik ke Jakarta."
"Dan kamu akan memilih menetap?" tanya Mamanya.
"Iya. Menetap."
Dea sudah selesai dengan projek dan sekolahnya. Kini, saatnya kembali membangun cita-citanya di tanah air. Dan mungkin akan kembali memperbaiki hubungan atau pertemanan, karena undangan yang barusan diberikan Papanya seolah membuat penegasan bahwa Dea tidak boleh berharap setelah semua yang ia lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DPD (Tamat)
ChickLitDPD (Sequel Dosen Bucin & DSM) ♥️Yuk Follow Dulu Sebelum Baca♥️ --- Deaby Emma Ellona Putri Brahmana (Dea), seorang desainer muda berbakat yang karyanya pernah digunakan oleh model ternama dunia. Kepulangannya ke Jakarta ialah untuk meneruskan usaha...
