Ekstra Part 2

9.6K 507 99
                                        

Dear all, semoga kabar kalian sehat selalu di tengah perumahan cuaca ini yaa..
terima kasih sudah menunggu extra chapter Dari DPD

Supaya kalian nyambung baca part ini, kalian bisa baca dahulu special extra part 1 DPD di KaryaKarsa

Happy reading guys🤗🤗🤗

🫀

"Masuk, De." Sean mempersilakan Dea masuk ke kamarnya. Ia menerima kaca mata yang ia titipkan pada Dea untuk dibawakan ke mari.

Sean langsung memakai kaca matanya dan kembali memeriksa beberapa pekerjaan. Saat menoleh ke belakang, ia melihat Dea sudah mengambil posisi rebahan di sofa. Syukurlah kalau Dea nyaman di kamarnya.

Semntara tangan dan matanya saling bekerja sama untuk segera menuntaskan pekerjaannya yang masih pending. Sean tidak ingin mengabaikan Dea lebih lama, meski ia juga bingung apa yang ingin ia diskusikan. Minta maaf? Tadi sudah ia lakukan, tidak sengaja di depan para sahabat Mamanya.

"Bang."

Sean mengumpat dalam hati. Terkejut dengan suara Dea yang tiba-tiba muncul di dekatnya. "Ada apa?" Sean bisa melihat ekspresi jengkel wanitanya.

"Aku lapar."

Pengakuan yang jujur itu membuat Sean melihat arlojinya. Sudah hampir jam satu siang. "Mau makan di rumah atau di luar, De?" tawarnya.

"Di sini aja. Lagi malas ke luar."

"Duduk dulu, sini." Sean menarik tangan kiri Dea hingga mendekat ke posisinya dan mengarahkan badan ramping Dea jatuh ke pangkuannya.

Sean menyandarkan dagunya di bahu Dea sehingga ia masih bisa melihat layar laptopnya. "Minta tolong tekan 1 di telepon itu." Dea menuruti perintahnya. "Speaker ya," tambah Sean dan Dea melakukannya.

Nada tersambung terdengar dan hanya menunggu beberapa detik, telepon tersambung ke bagian dapur.

"Selamat siang, Pak Sean, ini dengan Mbak Sarni."

"Selamat siang, Mbak Sarni. Minta tolong antarin makan siang ya ke atas. Menunya apa aja Mbak hari ini?" tanya Sean, ia masih tetap melanjutkan pekerjaannya.

"Mau yang berkuah atau goreng, Pak?"

"Kamu mau apa?" Sean bertanya dengan lembut.

"Keduanya." Dea menjawab dengan singkat.

"Mbak Sarni, bawain keduanya. Minumnya tidak perlu."

"Baik, Pak. Segera diantar.

Sambungan telepon tertutup. Dea tidak bisa menghindar karena Sean sudah mengurung badannya dengan kedua tangan yang bertumpu di meja sembari mengetik di laptop. Hanya suara ketikan keyboard yang terdengar di antara keduanya, sesekali Sean menghela napasnya kasar. Kadang juga mencium puncak kepala Dea. Lalu, Sean bertanya, "Kenapa kemarin sampai blokir aku?" Dea mendengarnya  dengan begitu gugup. Sudah dikurung dalam jarak dekat, sekarang diinterogasi di tempat.

"Kesal aja."

"Sekarang masih kesal nggak?"

"Nggak terlalu."

"Hm berarti masih ada? Gimana caranya untuk menghapus kekesalan kamu itu?"

"Nggak tahu." Dea jadi keki. Padahal dikasih bunga, dipeluk, dipanggil sayang juga bakalan luluh. Namun Sean memilih untuk bertanya. Bisa-bisanya Dea harus berpasangan dengan laki-laki tengil ini.

"Aku minta maaf ya. Maaf karena melukai perasaan dan ego kamu," gumam Sean. Ia membuka fitur kamera di layar laptopnya sehingga menampilkan wajah mereka berdua. Dea tidak bisa menghindari dan rasa malu dalam dirinya harus ia buang jauh-jauh kali ini.

DPD (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang