⚠️ 21+++ MENGANDUNG UNSUR DEWASA!! NO BOCIL!
_____
"Saya tidak pernah melarang kamu melakukan apapun kalau itu bukan hal buruk, Neng Alissa Rembulan." Tatapan di sepasang mata birunya tampak mengancam. Dia menyebut nama lengkap Alissa, pertanda seda...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⋅◈⋅
───── ❝ BACK BAR ❞ ─────
rangkaian rak yang digunakan untuk memajang gelas dan botol.
────────────⋅◈⋅────────────
Yang benar saja? Seorang Saint Killian Lockwood mengajaknya untuk memulai hubungan serius? Hubungan romantis antara wanita dan pria!
"Kayaknya dia emang gila deh," Alissa bergumam sendiri. "Iya, pasti gila tuh lakik."
Apa ini salah satu dari permainan Killian untuk menghempas rasa bosan yang biasa dirasa oleh para orang kaya? Mereka kan terlalu sering mendapatkan kenikmatan duniawi dengan mudah sehingga lama-kelamaan bosan dengan semua kenikmatan wajar, jangan-jangan menipu dan memperdaya Alissa atas nama cinta seperti ini adalah cara baru Killian untuk bersenang-senang.
"Neng! Ngalamun wae ih!" bentakan itu menarik Alissa dari lamunan. Dia menoleh pada ibunya.
"Mamah udah siap berenang?" Alissa menatap ibunya naik turun. Wanita paruh baya itu berbalutkan handuk tebal.
"Iya atuh. Udah lama banget Mamah enggak berenang di pantai, apa lagi pantai sebagus ini. Kamu tahu kan di Puncak mah susah mau ke pantai. Jauh banget harus ke Sukabumi dulu baru bisa lihat pantai yang lumayan bagus. Tapi ternyata pantai di Sukabumi yang sebagus itu juga masih kalah jauh euy sama tempat ini!" ujar sang ibu gembira. "Mamah bener-bener harus berterimakasih sama Kili. Kalo bukan karena dia, enggak mungkin Mamah bisa ke tempat sebagus ini."
"Bukannya Mamah kenal Killian karena Neng yang ngenalin ya? Harusnya Mamah berterimakasih sama Neng lah."
"Ogah banget."
Setelah berceloteh lumayan lama, sang ibu pergi meninggalkan kamar. Satu jam lalu mereka berlabuh di salah satu pulau. Sepanjang perjalanan kapal Alissa menghindari Killian tanpa memberi jawaban apapun atas tawaran lelaki itu. Turun dari kapal, dia mengikuti arahan staf yang menyambut.
Jangan dipertanyakan lagi keindahan kamar yang disediakan untuknya. Killian memberi kamar yang nyaman, luas dan begitu cantik untuk dirinya dan keluarga kecilnya. Ibu dan adiknya begitu gembira, belum pernah mereka menginap di kamar seperti ini.
Selama ibu dan adiknya bergegas bersiap-siap untuk menyebur ke air pantai yang biru, Alissa hanya bisa melamun. Dia beralasan tak enak badan pada ibunya, dia ingin istirahat sejenak sebelum ikut berenang. Untungnya sang ibu menerima alasan itu tanpa banyak tanya.
Alasan itu bukan sepenuhnya bohong. Dia memang merasa sangat lelah. Mungkin memang sebaiknya dia istirahat, kebetulan kasur megah itu terlihat empuk sekali.
"No.. Nona... Nona..."
Alissa membuka matanya perlahan. "Hm?" Dia meregangkan tubuhnya, mengerjapkan mata beberapa kali.