24.

305 29 2
                                        

Selamat membaca......










Alex menatap tangannya yang bergetar, dibasahi darah kekasihnya. Ini salahnya, harusnya ia sadar, dengan berada di dekat Mike membuat rutnya semakin tak terkendali, dan malah membuat kekasih hatinya terluka. Harusnya dia juga sadar saat malam sebelumya ada yang tidak beres dengan tubuhnya.

Mike, kekasihnya, belahan jiwanya, terbaring tak berdaya di atas brankar rumah sakit karna dirinya. Dia yang membuatnya terluka sedemikian parah. Bukan hanya kekasihnya saja yang terluka, tapi juga seorang dokter Alpha yang hendak mengobati Mike juga terluka karenanya yang masih dalam kendali masa rutnya yang belum selesai. 

Derap langkah tergesa gesa menggema di lorong rumah sakit di lantai yang sama tempat dimana Mike dirawat. Semakin dekat dengan tempat Alex duduk menunggu dokter selesai mengobati Mike. 

Satu bogem mentah tepat mengenai pipi kiri Alex, begitu suara langkah kaki tergesa gesa berhenti tepat di sisi Alex, dilanjutkan pukulan pukulan berikutnya. Si pelaku bahkan tidak perduli bahwa yang sedang di pukulnya adalah seorang wanita, dia juga tidak perduli bahwa mereka sedang berada di lorong rumah sakit yang memiliki peraturn bahwa pengunung dilarang berisik dan membuat keributan.

Tanpa berniat melawan, Alex menerima semua pukulan yang berikan oleh Jack, kakak dari kekasihnya. Dia sangat tau bahwa dirinya salah, menyakiti orang yang sudah ia janjikan untuk ia jaga dengan jiwa dan raganya.

"Sudah kak Jack, tidak ada gunanya memukuli Alpha bedebah sepertinya, lebih baik kita melihat kondisi Mike, sepertinya dokter yang menangani sudah keluar." Steven berusaha menghentikan Jack untuk membunuh Alex dengan kepalan tangan nya.

Jack yang masih belum puas memukuli mate sang adik terpaksa menghentikan kegiatan 'mari memukul alpha brengsek' dan mengikuti Steven setelah melihat dokter yang menangani adiknya keluar.

Dante dibantu Terry, segera menolong Alex yang sudah babak belur untuk berdiri dan mencari ners untuk mengobati luka lukanya. Lumayan parah, Jack tidak main main saat memukul Alex,

"Father pasti tertawa melihatmu babak belur sperti ini." saat seperti ini pun, Dante masih sempat nya menertawakan Alex, yang langsung dipelototi Terry dengan mata bulatnya.

"Maaf maaf, aku hanya bercanda." Kilahnya masih dengan sedikit sisa tawa.

"Apa nggak sebaiknya ambil supressan lex? Mumpung sedang di rumah sakit. Rutmu masih belum reda kan?" Terry memberi saran, repot juga kalau tiba tiba Alex mengamuk lagi.

"Sudah tadi, setelah seorang dokter terluka karnaku." Ujar Alex, dengan nada tak bersemangat miliknya.

Terry menghela nafas maklum. sebelum memiliki mate saja, Alex bisa sangat mengerikan saat rut, apalagi setelah memiliki mate, yang pada dasarnya insting melindungi teritorialnya akan lebih gila lagi. 

"Kalau begitu, sekarang kamu pulang aja dulu, kakak laki laki kak Mike pasti nggak bakal ngjinin kamu ketemu kak Mike sekarang. Mending kamu tenangin diri dulu." Saran Terry.

"Tapi," Alex hendak protes, tapi mata memohon Terry menjelaskan segalanya. Keadaan tidak akan membaik kalau Alex memaksa menemui Mike sekarang. 

Dengan bahu yang turun, Alex akhirnya mengalah dan melangkah pergi. Dalam keadaan Alex yang seperti ini dia tidak bisa kembali ke asrama kampus, jadi satu satunya tempat yang bisa Alex datangi adalah rumah rutnya, tempat yang menjadi saksi bagaimana dia menyakiti kekasih hatinya. 

Karena tergesa gesa, Alex bahkan lupa mengenakan alas kaki dan membawa barang barang penting, termasuk dompet dan uang. Tidak ingin merepotkan orang lain lagi, akhirnya ia memilih jalan kaki, untung saja lokasi rumah sakit tidak terlalu jauh dari rumah rut miliknya, tiga kilometer cukup bagi Alex untuk merenungkan kesalahannya. 

our worldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang