Mike sudah keluar dari rumah sakit lebih dari seminggu, selama itu juga Jack melarangnya untuk keluar rumah, bahkan untuk bertemu teman temannya, merekalah yang harus mengunjunginya ke rumah. Bekas gigitan yang ditinggalkan alphanya juga sudah mulai membaik, sayangnya diantara banyaknya orang yang berkunjung kerumahnya, tak pernah sekalipun sang alpha menunjukkan batang hidungnya. Meski begitu, setiap hari seseorang selalu mengantarkan sapu tangan yang di penuhi feromon sang alpha.
Omega yang baru saja di tandai oleh alphanya akan sangat sensitif, maka untuk menstabilkan emosi dan feromon nya, feromon alphanya harus selalu berada dalam jangkauannya. Sayangnya bagi Mike, feromonnya saja tidak cukup untuk menenangkan hatinya. perasaan merasa di tinggalkan terus bercokol di hatinya.
Dua hari lalu Terry datang menjenguknya bersama Steven, saat mike menanyakan keberadaan Alex, Terry berkata bahwa alphanya dilarang oleh Jackson untuk menjenguknya, maka yang bisa Alex lakukan hanyalah mengirim benda benda yang memiliki feromonnya. Sayangnya, sekarang Terry tidak tahu keberadaan Alex, karna seminggu yang lalu Alex pergi entah kemana setelah di datangi Dante dan Ben, yang katanya adalah rekan kerjanya.
Dari jendela kamarnya, di lantai dua, Mike termenung menatap gerbang depan rumah, berharap sang alpha, setidaknya datang untuk menjenguknya. Mereka sudah matting, tapi kenapa sesusah itu untuk bertemu, tidak ada bedanya seperti saat sebelum matting.
"Tuan muda, tuan jack memanggil untuk makan bersama." Ucap seorang asisten rumah tangga yang baru saja masuk ke kamarnya.
"Hm, kamu keluar saja dulu Miria, nanti aku turun." intruksi Mike, yang langsung di angguki Miria.
Mike menghela nafasnya kecewa, hari ini pun sang alpha tidak datang, apa ia kembali di tinggalkan, bahkan setelah mereka matting? Apa ia hanyalah barang tak berharga sekali pakai? Apa benar yang ayahnya katakan tentang omega yang tak berharga? Apa ia benar benar tak berguna, sampai sampai alphanya yang telah ditakdiran untuk bersamanya pun tidak mau bersama omega lemah sepertinya?
Pikiran-pikiran negatifnya bermunculan, membuat jiwanya terguncang setelah sekian lama berusaha berfikir positif bahwa alpha yang di takdirkan untuknya benar benar mau menerima dirinya apa adanya. Tangannya bergetar, merasakan kecemasan yang luar biasa, membuatnya sesak nafas tiba tiba.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Alex yang sedang dalam perjalanan pulang ke asrama kampus tiba tiba merasa sesak di dadanya, pikiran tidak enak langsung tertuju pada Mike yang sudah lama tidak di temuinya. Dia bimbang apakah harus menemuinya saat calon kakak iparnya masih benar benar marah padanya atau mengabaikan Jackson dan memastikan keadaan kekasihnya.
Pilihan kedua adalah hal yang lebih masuk akal. Keadaan kekasihnya adalah yang lebih penting. Entah nanti Jackson merestuinya atau tidak, atau apakah nanti jackson akan memukulinya, Alex tidak perduli. Mike baik baik saja adalah prioritas utamanya. tanpa menunggu lebih lama lagi, Alex membelokkan sepeda motornya ke arah rumah Jackson. Kekasih hatinya tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Beruntunglah ia sedang berada di jalan yang dekat dengan rumah Jackson, hanya butuh dua menit sampai di rumah besar dengan dua pohon pinus yang menjulang tinggi di halaman rumahnya. meski harus di hadang penjaga rumah dngan badan besar, dominasi Alex dapat dengan mudah melumpuhkan mereka.
Kebetulan sekali seorang pelayan rumah keluar dari pintu depan, memudahkan Alex untuk menerobos masuk, membuat heboh beberapa pelayan rumah yang sedang ada di ruang depan. Bahkan Jackson yang sedang berada di ruang makan segera keluar untuk memeriksa kehebohan di ruang depan. Wajah Jack memerah marah seketika, orang yang membuat adik kesayangannya terluka menerobos masuk ke rumahnya.
"Dimana omegaku?!" Alex berteriak bertanya tentang keberadaan omeganya.
"Keluar! Ngapain kau kemari! Bukankah aku sudah memberitahumu untuk tidak berada di dekat adikku lagi!" Jackson balas berteriak marah.
Tidak mendapatkan jawaban yang ia mau, Alex berakhir mengandalkan instingnya untuk menemukan omeganya. Berlari ke arah tangga, menuju tempat dimana Mike berada. Ia segera membuka pintu kamar Mike, mendapati kekasihnya yang hampir kehabisan nafas, memegang dadanya dengan tangan gemetar dan bibir pucat yang masih berusaha mengambil oksigen dengan tenggorokan yang tercekat.
Alex segera memberikan pertolongan pertama, memberikan Mike feromon menenangkan miliknya, memandu Mike untuk bernafas pelan pelan sambil mengakkan tubuh Mike. perlahan tapi pasti, Mike mulai tenang dan bisa bernafas dengan benar. Alex segera mengangkat tubuh Mike yang langsung jatuh tertidur ke atas ranjang.
Jackson menonton kejadian itu dengan rasa bersalah yang tiba tiba memenuhi hatinya. Apa langkah yang ia ambil dengan memisahkan pasangan mate sudah benar? Apakah selama ini adiknya tersiksa karena hanya bisa mencium feromon pasangannya tanpa keberadaannya di sisinya?
Alex segera beranjak dari sisi Mike setelah memastikan kenyamanan Mike dan menyelimuti Mike dengan feromon nya agar pasangannya itu merasa bahwa ia masih mengharapkannya dan ada di sampingnya. Bagaimanapun, Alex harus tetap menjaga hubungan baik dengan kakak kesayangan kekasihnya.
"Kak jack, maaf karena telah menerobos masuk ke rumah dan menemui kak Mike. Saat bangun nanti, tolong beritahukan bahwa aku benar benar mencintainya dan menginginkannya, agar dia tidak merasa di tinggalkan." Alex segra pergi setelah menyampaikan apa yang mau ia sampaikan, bahkan sebelum Jackson keluar dari lamunan rasa bersalahnya.
Alex pergi begitu cepat dari rumah jackson, dia sadar telah melanggar perjanjiannya dengan Jackson untuk tidak menemui Mike. Dia bersalah, harus meminta maaf dan segera pergi dari sana.
Tujuannya pulang adalah asrama kampus, mungkin nanti harus menjelaskan pada Terry tentang pekerjaannya yang punya hubungan dengan Dante, orang yang di kenal Terry. Kemarin sebelum pergi, Terry memergokinya membicarakan pekerjaan dengan Ben dan Dante. Huh, andaikan ia tak punya perjanjian konyol dengan jackson, mungkin ia lebih memilih tinggal dan beristirahat dengan memeluk kekasihnya.
Sejujurnya ia juga ikut tersiksa karena berjauhan dengan pasangannya, tapi demi masa depan yang mulai tumbuh dalam diri kekasihnya, dia harus sabar, dan harus lebih bekerja keras.
tbc.
terim kasih yang sudah menunggu dan membaca cerita ini. maaf kalo banyak typo bertebaran dan tidak menggunakan huruf kapital secara semestinya, mohon juga apresiasi karena telah update lebih cepat dari pada biasanya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.