29.

176 25 3
                                        

Selamat membaca....

Alex tiba di Mexico menggunakan jet milik organisasi setelah kurang lebih tujuh jam perjalanan. Di sambut oleh Dante, teman steven yang adalah calon penerus Mr. Maxim untuk generasi selanjutnya. Selain Dante, Ben juga ada di sana.

"Yo, sista! Akhirnya kita bertemu lagi setelah graduation beberapa bulan yang lalu!." Sperti biasa, Dante yang ceria dan tidak terlihat sama sekali seperti calon penerus kepala keluarga mafia, menyapanya akrab.

Alex memutar matanya malas, pantas saja Terry tidak betah berdekatan dengan putra sulung Mr. Maxim ini. Dia terlalu cerewet, bahkan lebih cerewet dari Terry saat kelaparan.

"Apa kabar tuan muda?" Alex memilih menyapa formal saja.

"Jangan kaku gitu dong, ya kan Ben?" Sang tuan muda meminta pembenaran.

"Kapan agenda dimulai?" Tanya Alex agar basa basi tidak di lanjutkan, ia ingin segera menyelesaikan misi.

Begitu pertanyaan tentang pekerjaan, mereka segera masuk ke mobil, untuk mendapatkan tempat yang lebih privasi untuk membahas pekerjaan berbahaya mereka. Barulah mereka membahas pekerjaan setelah mendapatkan tempat aman.

Tugas mereka kali ini ada dua, melakukan transaksi senjata dan menghabisi salah satu kelompok kartel yang berhianat. Tentu saja, saat transaksi senjata, Alex hanya bekerja di balik layar, memastikan tidak ada satu hal pun yang mencurigakan. Saat menghabisi kartel, barulah Alex ikut turun ke lapangan.

Transaksi senjata akan di lakukan siang hari, sekarang Alex harus istirahat sebelum bertugas dan menguras banyak tenaga. Belum lagi malamya, ia harus ikut baku tembak dengan kartel, jadi setidaknya ia harus istirahat dua tiga jam.

*
*
*
*
*
*
*
*

Di bagian bumi lain, beberapa jam setelah Alex pergi, Mike mengajak Steven untuk belanja bulanan, sekaligus menyegarkan pikiran karena belakangan ini mereka di sibukkan dengan jadwal koas yang terlalu padat.

Mike dan Steve memilih memesan taksi untuk pergi ke supermarket, memilih beberapa bahan masakkan dan buah-buahan. sebenarnya di apartemen, hanya Alex yang benar benar bisa masak, jadi setiap akan pergi yang memakan waktu yang agak lama, ia akan memasak beberapa menu yang bisa di simpan di freezer untuk di panaskan jika mereka lapar. selain Alex, Steven dan Terry bisa memasak nasi dan membuat menu sederhana seperti telur ceplok dan omelet. bisa dibilang, tiga orang di apartemen, menggantungkan hidupnya pada Alex. 

"Steve, kamu udah selesai memilih dagingnya?" Mike bertanya  setelah selesai dari bagian sayur dan buah. 

mereka menyetok banyak buah untuk keperluan susu hamil Mike, dan untuk camilan harian mereka. sejak tinggal se-apartemen, Alex memang banyak mengatur apapun yang mereka konsumsi, untuk kesehatan semua orang, dan juga calon bayi yang akan lahir. camilan dan makanan berat hanya boleh yang Alex buat, atau yang mereka sendiri buat. 

"Iya sudah, susu kamu masih ada?" Mike berpikir sejenak, untuk mengingat ketersediaan susu hamil miliknya. 

"ada kayaknya, tadi sebelum pergi, Alex bilang kalau akan ada yang akan datang mengantar susu hamil dan skincare ke apartemen." mendengar seberapa perhatian Alex, Steve jadi tidak senang.

"sok kaya banget tu bocah," rutuk Steve pelan, yang jelas di dengar Mike.

"Alex emang nggak kaya banget, tapi dia bertanggung jawab." lontar Mike, membantah rutukan Steve sambil tersenyum. 

steven terdiam, tak mau lagi merutuki Alex, karna sudah pasti akan di bela Mike yang akan membuatnya semakin kesal, ia memilih untuk pergi ke tempat camilan instan berada, mumpung Alex sedang pergi, jadi tidak ada yang akan menegur. namun, baru saja ia melangkah, seorang perempuan cantik dengan rambut panjang bergelombang tak sengaja menabraknya. 

our worldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang