Part 28 : Unpredictable

22 4 1
                                        

Sesampainya di rumah, Kinta membuka pintu dengan perasaan berbunga-bunga. Senyumnya masih belum hilang sejak Kylan setuju jadi guru les mereka. Pikirannya dipenuhi bayangan saat-saat mereka akan belajar bersama nanti.

Begitu masuk ke ruang nonton, ia langsung disambut suara televisi yang sedang menayangkan acara komedi. Di sofa, bundanya duduk santai sambil mengelus kucing peliharaan mereka yang meringkuk manja di pangkuannya.

“Oh, udah pulang, sayang?” sang bunda menyapa tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Kinta tersenyum lebar. “Iya, Bun.”

Ia baru saja hendak menuju kamarnya saat suara lain tiba-tiba terdengar.

“Woy!”

Kinta terlonjak kaget. Dari balik sofa, kepala Rayhan muncul dengan ekspresi jahil. Rupanya ia sudah ada di sana sejak tadi.

“Rayhan! Ngapain lo di sini?” Kinta memutar bola matanya, mencoba menyembunyikan keterkejutannya.

Rayhan menyeringai. “Main, lah. Gue kan udah kayak anak Bunda juga.” Ia melompat ke sandaran sofa dengan lincah. “Eh, lo kok ceria banget? Habis ketemu siapa, nih?”

Kinta merasakan wajahnya memanas. “Apaan sih lo? Ngaco!”

“Heh, jangan bohong. Senyum lo nggak ilang dari tadi. Pasti ada sesuatu, nih,” Rayhan menyipitkan mata, jelas tak percaya.

Kinta menghindari tatapan Rayhan dan pura-pura sibuk melepas sepatu. “Nggak ada apa-apa, ah.”

Rayhan berdiri dan berjalan mendekat, mengamatinya dengan curiga. “Hmmm… jangan-jangan...” Ia memasang ekspresi jahil. “Kylan, ya?”

Wajah Kinta semakin merah. “Bukan!” Ia buru-buru berlari menuju kamarnya. “Udah ah, gue mau ganti baju!”

“Hei! Jangan kabur lo!” Rayhan tertawa puas melihat Kinta salah tingkah. “Ih, malu-malu kucing banget sih!”

Bunda mereka hanya bisa menggeleng sambil tersenyum melihat keduanya bercanda seperti itu. “Dasar anak-anak.”

Sementara di dalam kamarnya, Kinta menjatuhkan diri ke kasur dan menutup wajah dengan bantal. Pikirannya kembali teringat pada tatapan Kylan tadi... dan senyum tipis yang seakan masih melekat di ingatannya.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Ya ampun... kenapa perasaannya jadi begini?

🌙🌙🌙

Matahari sore mulai meredup, menyisakan cahaya keemasan yang masuk dari jendela ruang tamu rumah Kinta. Ia sibuk merapikan meja dan menata buku-buku pelajaran. Sesekali ia melirik jam dinding, memastikan semua sudah siap sebelum teman-temannya datang.

Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi. Kinta buru-buru membukanya dan melihat Salsa serta Raina berdiri di sana dengan wajah penasaran.

“Kin, seriusan nih kita les di rumah lo?” tanya Salsa sambil melongok ke dalam. “Guru lesnya siapa, sih?”

Kinta tersenyum kecil. “Rahasia. Ntar juga tau sendiri.”

Raina mengangkat alis. “Ih, curigaan deh. Jangan-jangan lo ngundang guru killer?”

Kinta tertawa. “Nggak kok. Orangnya baik. Masuk aja dulu.”

Mereka bertiga duduk di ruang tamu, mengeluarkan buku dan alat tulis. Salsa mulai membuka bungkus keripik yang dibawanya.

Belum lama mereka ngobrol, bel pintu berbunyi lagi. Kinta merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia buru-buru bangkit dan membuka pintu.

Kylan berdiri di sana dengan wajah datar seperti biasa, mengenakan hoodie hitam sederhana dan membawa tas selempang.

AltaluneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang