Pagi itu, sekolah tampak seperti biasa. Siswa-siswi berseragam sibuk dengan aktivitas masing-masing, tetapi di sudut tertentu, ada dua orang yang sedang merencanakan sesuatu.
Gina dan Raka duduk di bangku taman sekolah, berbicara dengan suara rendah.
“Gue udah coba deketin Kylan lagi,” kata Gina, memainkan ujung rambutnya. “Dia masih dingin, tapi lo lihat aja, bentar lagi dia pasti bakal balik sama gue.”
Raka menyandarkan tubuhnya ke bangku taman sekolah Kinta. Sekarang sedang jam istirahat makanya mereka bebas masuk ke sekolah ini. Lelaki itu berdeham lalu menatap Gina dengan tatapan menilai. “Kylan itu bukan orang yang gampang dijatuhin pakai rayuan, Gin. Lo mesti lebih pintar.”
Gina menyeringai. “Makanya kita kerja sama, kan?”
Raka menyilangkan tangan. “Rencana lo apa?”
Gina mencondongkan tubuhnya, berbisik, “Gue bakal manfaatin Lola. Kylan terlalu bertanggung jawab buat ninggalin anak itu.”
Raka mendengus. “Tapi Lola kan...”
“Dan dia belum tahu itu,” balas Gina cepat. “Selama dia belum tahu kebenarannya, dia enggak bakal bisa lepas dari gue.”
Raka tertawa kecil, lalu menatap jauh ke arah lapangan basket, di mana Kylan sedang berlatih.
“Sementara lo sibuk dengan Kylan, gue bakal pastikan Kinta mulai menjauh dari dia,” kata Raka dengan nada licik. “Lo tahu kan, cara paling gampang bikin orang salah paham?”
Gina tersenyum penuh arti. “Buat mereka percaya kalau Kylan dan gue masih punya hubungan.”
“Kita pikirannya sama,” Raka tersenyum sinis. “Siap mulai permainan ini?”
Gina menggigit bibirnya, matanya berbinar penuh ambisi. “Siap.”
🌙🌙🌙
Di tempat lain, Kinta berjalan bersama Raina dan Salsha di koridor sekolah, sesekali tertawa mendengar lelucon Salsha.
“Eh, tadi pas mau ke ruang guru gue gak sengaja liat. Ada cewe rambut panjang cantik ngobrol sama Kylan di taman,” kata Raina tiba-tiba.
Langkah Kinta terhenti. “Hah? Pacarnya kali...”
Salsha mengangguk cepat. “Iya! Gue lihat juga. Mereka kelihatan serius banget. Bahkan cewe itu ngerangkul tangan Kylan.”
Kinta mencoba bersikap santai, tapi ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya.
“Kok gue gak liat ya? Emang gue kemana?” gumamnya.
"Lo tadi ke perpustakaan." Balas Raina.
"Oh pantesan.."
“Tapi.. tapi dari yang gue liat tadi cewe itu senyum-senyum loh,” tambah Raina.
Kinta menghela napas dan tidak membiarkan virus kepo akutnya kambuh sekarang, karena ada hal yang lebih penting yang harus dia kerjakan, tugas kelompoknya dan harus di kumpulkan besok.
Bukan urusan gue. Kylan bukan siapa-siapa gue.
"Udah ah gue mau balik ke perpus, mau kerja tugas bareng si manekin itu."
🌙🌙🌙
Hujan baru saja reda saat Kinta merapikan buku-buku yang berserakan di meja perpustakaan. Malam sudah cukup larut, dan hanya beberapa siswa yang masih tersisa di sekolah, terutama mereka yang baru saja menyelesaikan tugas kelompok.
"Gue pikir tugas ini bakal selesai lebih cepat," gumam Kinta sambil meregangkan tangannya yang pegal setelah menulis berlembar-lembar laporan.
“Lo yang terlalu perfeksionis,” komentar Kylan datar, memasukkan laptopnya ke dalam tas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altalune
Fiksi RemajaKylan Xyaluna Prameswari gadis cantik berbakat yang sangat amat mengagumi bulan bertemu dengan sosok murid baru lelaki sedingin kutub utara bernama Kylan Renanza Mahardika dan mereka menjadi chairmate/teman sebangku. Kinta dan Kylan itu tidak pernah...
