Sepulang sekolah, Kinta, Raina, dan Salsa berjalan berdampingan menuju gerbang. Sinar matahari sore menyinari jalan setapak, bayangan mereka memanjang di trotoar.
“Eh, tadi Zein ngikut pas kita makan di kantin, ya?” Salsa tiba-tiba membuka obrolan, suaranya terdengar santai tapi matanya menyimpan kilatan penasaran.
Kinta mengangguk pelan. “Iya, dia bilang pengen ikut aja.”
Raina menyenggol bahu Kinta dengan senyum menggoda. “Ciee... perhatian banget tuh. Lo nggak curiga, Kin?”
“Curiga apa?” Kinta mengerutkan dahi, bingung dengan arah pembicaraan temannya.
Salsa menahan tawa kecil, matanya berbinar nakal. “Zein tuh keliatan banget lho perhatiannya ke lo. Dia nungguin lo di depan kelas pula. Pasti naksir tuh!”
Langkah Kinta terhenti sejenak, wajahnya memerah. “Hah? Nggak mungkin. Dia cuma... temen aja kali.”
Raina melipat tangan di dada, ekspresinya penuh skeptis. “Iya, temen. Tapi tumben kan dia nungguin lo di kelas? Biasanya juga ketemunya di kantin langsung.”
Kinta mengalihkan pandangannya, mencoba menghindari tatapan usil kedua temannya. “Mungkin... dia nggak ada temen lain buat istirahat.”
Salsa menghela napas panjang, seolah tak percaya. “Aduh, Kinta... Lo tuh polos banget sih. Dia jelas-jelas ngajak lo istirahat bareng duluan. Itu kode keras tau nggak.”
Kinta terdiam, otaknya memutar kembali kejadian tadi. Zein memang kelihatan canggung waktu itu, dan tatapan cowok itu... terasa berbeda. Tapi... apa benar Zein naksir dia?
“Nggak mungkin, ah,” Kinta mencoba menyangkal, meski suaranya terdengar ragu. “Zein nggak mungkin suka sama gue.”
Raina terkekeh sambil menepuk bahu Kinta. “Ya udah, lo percaya aja sama perasaan lo. Tapi menurut radar gue sama Salsa, fix tuh anak ada rasa.”
Salsa mengangguk setuju. “Bener banget. Lo liat aja nanti, pasti makin kelihatan.”
Kinta hanya bisa menghela napas bingung. Kalau benar begitu, kenapa perasaannya jadi campur aduk begini?
🌙🌙🌙
Kinta berdiri di antara rak-rak buku, jari-jarinya menyusuri deretan novel yang berjajar rapi. Tempat ini selalu jadi pelariannya—tempat di mana ia bisa tenggelam dalam dunia fiksi dan melupakan kenyataan sejenak.
Matanya sesekali melirik ke arah pintu masuk. Ia sudah mengirim pesan pada Kylan, mengajaknya bertemu untuk bicara, ia berniat meminta Kylan menjadi guru les matematikanya mengingat lelaki itu sangat pandai matematika.
Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar suara yang begitu familiar.
“Kinta...”
Ia membeku. Suara itu... suara yang sudah lama ia hindari. Perlahan, Kinta berbalik dan mendapati Raka berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya terlihat gugup, tatapan matanya penuh harap dan kesedihan yang sulit disembunyikan.
“Kita bisa ngobrol sebentar?” Raka bertanya, suaranya lirih seakan takut menakuti Kinta.
Kinta menggigit bibir, hatinya bergejolak. Ingin rasanya ia berbalik dan pergi, melanjutkan pelariannya seperti yang selalu ia lakukan. Tapi tatapan itu... tatapan yang dipenuhi rasa penyesalan, menahannya di tempat.
“Gue udah bilang nggak ada yang perlu dibicarain lagi.” jawab Kinta datar, meski suaranya sedikit bergetar.
Raka menundukkan kepala, napasnya berat. “Gue cuma minta satu kesempatan, Kin.. Buat ngejelasin semuanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Altalune
Novela JuvenilKylan Xyaluna Prameswari gadis cantik berbakat yang sangat amat mengagumi bulan bertemu dengan sosok murid baru lelaki sedingin kutub utara bernama Kylan Renanza Mahardika dan mereka menjadi chairmate/teman sebangku. Kinta dan Kylan itu tidak pernah...
