Setelah menyusun tenda bersama Salsa dan Raina, Kinta menghempaskan diri ke atas matras tipis yang sudah mereka gelar. Tubuhnya masih terasa pegal, tapi semangatnya terlalu besar untuk bisa beristirahat sepenuhnya.
"Eh, jangan tidur dulu," kata Salsa sambil menyentuh pundaknya. "Sebentar lagi orientasi."
Raina yang sedang merapikan sleeping bag tertawa kecil. "Biarin, Kin kan perlu nge-charge energi."
Kinta hanya nyengir, lalu bangkit perlahan. "Oke, oke. Let's go, petualang."
Beberapa menit kemudian, suara peluit panjang terdengar dari arah lapangan. Semua siswa mulai keluar dari tenda dan berkumpul kembali. Kali ini, mereka dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Kinta, Salsa, dan Raina ternyata satu kelompok dengan Rayhan, Reno, dan Bagas. Kylan dan Zein berada di kelompok lain, membuat Kinta sedikit lega—karena jujur saja, ia masih agak canggung dengan Zein setelah kejadian waktu itu.
"Woy, satu tim lagi!" Rayhan menyikut Reno dan menyenggol bahu Kinta. "Tim ini sih pasti jago survive."
Reno mengangguk sok serius. "Gue bisa cari jejak hewan. Kecoa, misalnya."
Salsa langsung bergidik. "Please deh, Ren. Kecoa bukan hewan yang mau gue temui di hutan."
"Makanya jangan bawa parfum terlalu wangi," sahut Bagas iseng. "Ntar kamu disangka bunga sama lebah."
Raina tertawa, menutupi mulutnya dengan tangan. Suasana semakin cair seiring langkah mereka menyusuri jalur setapak di balik perkemahan, dipandu oleh salah satu kakak pembina, Kak Adit.
"Kita mulai orientasi area, ya. Nanti kita akan melewati sungai kecil, bukit mini, dan spot mata air. Ini penting kalau-kalau kalian butuh air bersih di tengah kegiatan," jelas Kak Adit sambil berjalan di depan.
Kinta memperhatikan sekeliling. Suara dedaunan, angin yang berdesir di antara pepohonan, dan aroma tanah yang lembap membuatnya merasa seperti karakter dalam film petualangan. Ia menyukai momen ini—saat semuanya terasa lebih dekat dengan bumi.
Saat melewati sungai kecil yang jernih, Rayhan menoleh ke belakang. "Eh, Kin. Kalau kita nyasar, lo yang jadi pemimpinnya ya."
Kinta mengerutkan dahi. "Gue? Kenapa nggak lo aja, lo kan cowok juga."
"Tapi lo lebih tenang. Gue panikan," jawab Rayhan sambil tertawa. "Serius, lo tuh kayak punya kompas di otak."
Salsa menimpali, "Kompas dan GPS. Komplit!"
Kinta tertawa geli. "Iya iya, kalau nyasar, kita bareng-bareng panik aja gimana?"
Mereka terus menyusuri jalur, sempat berhenti sejenak di titik mata air yang dikelilingi batu-batu besar. Kak Adit menjelaskan cara menyaring air dan menggunakan botol plastik sederhana sebagai alat darurat.
"Jangan lupa. Alam bisa jadi sahabat, tapi juga bisa jadi tantangan kalau kalian nggak hati-hati," katanya tegas.
Setelah hampir satu jam, mereka kembali ke perkemahan. Langit mulai berwarna oranye, menandakan matahari akan segera terbenam. Para siswa diberi waktu istirahat sebelum sesi api unggun.
Kinta duduk di depan tenda, memandangi langit yang berubah warna. Salsa sedang menata jaket dan Raina menyalakan lampu kepala kecil yang digantung di tiang tenda.
"Tadi pas di mata air, gue sempat lihat Kylan duduk sendirian," ucap Raina pelan.
Kinta menoleh. "Iya? Dia emang begitu, ya?"
"Kayaknya dia lebih nyaman sendiri. Tapi tadi sempat bantu anak-anak lain juga kok," jawab Raina sambil duduk di sampingnya.
Tak lama, suara drum kecil mulai terdengar dari tengah lapangan. Sesi api unggun dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altalune
Novela JuvenilKylan Xyaluna Prameswari gadis cantik berbakat yang sangat amat mengagumi bulan bertemu dengan sosok murid baru lelaki sedingin kutub utara bernama Kylan Renanza Mahardika dan mereka menjadi chairmate/teman sebangku. Kinta dan Kylan itu tidak pernah...
