Suasana kelas masih terpantau lumayan sepi. Hari ini, Kylan datang sedikit lebih awal karena tidak ingin terlambat di mata pelajaran killer, Bu Betty.
Jadi, daripada menambah masalah, dia memilih untuk menghindarinya hari ini.
Suara loker terbuka. Mata Kylan menyusuri setiap bagian di dalam sana, lebih tepatnya memeriksa apakah ada barangnya yang hilang atau mungkin, seseorang iseng menaruh sesuatu di sana.
Untungnya tidak ada.
"Coba aja gue bisa nyimpen rokok gue di sini," batin Kylan.
Dia mengeluarkan buku paket matematika. Saat hendak menutup lokernya, ada sesuatu yang membuatnya terkejut.
Seseorang dari arah kirinya sedang terpaku menatap sosok laki-laki itu. Senyumnya begitu merekah lebar, memperlihatkan deretan gigi yang rapi. Mata Kylan dengan cepat meliriknya dari atas ke bawah, mencoba membaca maksud dari gadis itu yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.
Kylan berdeham, "Mau ngapain lagi?"
Sera menyodorkan sekotak coklat dari brand ternama ke arah Kylan.
"Berhubung hari ini hari Valentine, jadi gue mau kasih coklat ini buat lo, karena lo spesial buat gue," ucapnya dengan nada yang terdengar centil.
Kylan mengernyitkan alisnya mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Sera. Tidak bisa dipungkiri, itu juga membuatnya sedikit merinding sekarang.
Angin pagi berembus pelan melalui jendela kelas yang terbuka. Selembar daun kering melayang jatuh, menyentuh lantai tepat di samping sepatu Converse Kylan yang berwarna hitam. Sejenak, suasana terasa hening.
Ia menatap coklat yang Sera sodorkan kepadanya. Warna kemasannya mengilap tertimpa cahaya matahari. Kylan meraih coklat itu dengan gerakan lambat, lalu menatap mata Sera tanpa menunjukkan senyum di raut wajahnya.
"Thanks," ucap Kylan, datar tanpa emosi.
Setelah itu, dia berjalan keluar kelas. Sera pun dengan perasaan bahagia dan geer karena Kylan akhirnya menerima hadiahnya. Bahkan, Kylan mengucapkan terima kasih, membuatnya tidak bisa menahan kebahagiaan itu. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu di perutnya.
Langkah Kylan terhenti. Beberapa anak mulai berdatangan, sebagian mulai berbisik-bisik mempertanyakan ada apa dengan Kylan dan Sera yang saat ini terlihat bersama.
Sungguh momen langka.
Coklat di genggaman Kylan seketika dia lemparkan ke dalam tempat sampah. Suara kemasan yang berderak saat menghantam dasar tong sampah terasa nyaring, membelah keheningan yang tercipta.
Mata Sera refleks melotot seakan kedua bola matanya hampir keluar.
"Eh, Lan, kok dibuang?!" tanya Sera dengan nada cemberut dan menahan malu.
Kylan menatap Sera tajam, tatapannya dingin seperti bilah pisau.
Alisnya terangkat sebelah sebelum akhirnya menjawab, "Gue gak makan coklat."
"Tapi kan..."
"Lo udah ngasih kan? Jadi itu punya gue. Bebas mau gue apain," tambahnya, suaranya terdengar tegas.
Lagi-lagi, kali ini Sera merasa kesal, sama seperti kejadian pertama saat dia diam-diam memberikan coklat kepada Kylan. Hanya saja, yang berbeda kali ini, Sera tampaknya terlalu berani dan percaya diri untuk melakukannya secara terang-terangan.
Saat ini mereka sudah menjadi tontonan seru beberapa murid yang tidak sengaja menyaksikan kejadian itu.
Termasuk Kinta, Rayhan, Salsa, dan Raina yang baru saja datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altalune
Teen FictionKylan Xyaluna Prameswari gadis cantik berbakat yang sangat amat mengagumi bulan bertemu dengan sosok murid baru lelaki sedingin kutub utara bernama Kylan Renanza Mahardika dan mereka menjadi chairmate/teman sebangku. Kinta dan Kylan itu tidak pernah...
