minimal vote lah🙌🙌⭐⭐
disclaimer : semua cerita yang aku buat ini semua pure karangan aku ya. luv yu tuyul-tuyul teenep🖤 🖤
baca elit vote sulit, cuakss
༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄༄
echi masih berdiam diri di ambang pintu dengan air matanya yang terus mengalir, ia meremat kuat tas yang ia pakai dan dengan segera berlari untuk memeluk keluarga yang selama ini ia rindukan.
ia memeluk rion dengan erat seolah tak ingin kehilangannya lagi, echi menangis dengan keras dalam pelukannya.
sementara jaki berjalan perlahan menuju ke arah mereka, ia terhenti sebentar dan tiba-tiba saja terduduk di lantai dengan air mata yang jatuh.
"lu nangis jak" ujar gin dan jaki hanya menggeleng pelan sambil terkekeh kecil.
gin yang melihat respon jaki seperti itu dengan segera mendekat dan memeluk jaki, dan jaki dengan segera membalas pelukan itu dengan erat.
"harusnya waktu gua balik yang jemput itu lu, sialan" ujar jaki yang masih memeluk gin.
"ya maap, namanya juga musibah. hampir mati gua brok" ujar gin sambil melepaskan pelukannya dari jaki.
"lu juga, udah tau tapi ga ngasih tau kita" ujar jaki sambil menunjuk funin dan echi mengangguk setuju.
"tau tuh" ujar echi menyetujui perkataan yang dilontarkan oleh jaki.
"ya maaf, gua kaga dibolehin sama dia noh" ujar funin sambil menunjuk agil yang sedang berdiri di ambang pintu.
"lu! -" tangan echi ditahan oleh rion ketika echi akan berjalan ke arah agil.
"lepasin pi, dia itu adalah orang yang bikin kalian celaka! dia itu orang suruhannya si caine-caine itu buat bunuh kalian! " teriak echi marah, nafasnya tak beraturan karena menahan amarah.
sementara agil hanya menatapnya dengan tenang.
"kalau gua berniat ngebunuh keluarga lu, mereka ga akan ada di sini sekarang" ujar agil sambil melangkah masuk.
"siapa yang nyuruh lu masuk hah! " ujar echi lagi dan agil terkekeh pelan dan menyuruh funin memberitahu echi bahwa ini adalah villa miliknya.
"ni villa punya dia chi" ujar funin dan echi hanya diam.
"dan caine yang lu lihat di tempat peledakan itu bukan caine" ujar agil lagi.
"lu tau apa hah? jelas-jelas itu dia! " ujar echi lagi.
"kalo lu beneran nganggep dia keluarga, harusnya lu bisa bedain. mana yang harris, dan mana yang caine" ujar agil sambil berjalan mendekat ke arah caine.
echi terkejut ketika melihat caine juga ada di sana, ia juga merasa berbeda, saat ia menatap caine yang meledakan bom untuk keluarganya itu tatapannya sangat tajam.
sementara caine yang ia lihat saat ini memiliki tatapan yang lembut, sangat berbeda. ia merasa sangat berbeda.
"see, harusnya lu udah sadar dari awal kalau dia bukan caine, tapi ini" ujar agil sambil memegang bahu caine yang sedang duduk di kursi menatapnya.
echi perlahan mendekat ke arah caine sementara caine berdiri sambil menatapnya dan tersenyum lembut. echi yang melihat senyuman itu semakin yakin jika yang didepannya ini adalah caine yang ia kenal.
echi semakin mempercepat langkahnya dan saat berada di depan caine, ia terlihat ragu untuk memeluk orang yang berada didepannya saat ini.
sampai akhirnya caine membentangkan tangannya meminta agar echi bisa memeluknya, echi dengan perlahan mulai memeluk caine.
