kepulangan dan kepergian.

606 60 5
                                        

minimal vote lah🙌🙌⭐⭐
disclaimer : semua cerita yang aku buat ini semua pure karangan aku ya. luv yu tuyul-tuyul teenep🖤 🖤

baca elit vote sulit, cuaks.

enjoy the story and support the author

                                   ☘☘☘

setelah echi mulai tenang, rion melepaskan pelukannya dan kemudian membawa echi untuk duduk.

"maaf udah ganggu waktu papi" ujar echi sambil menyeka air matanya.

"lu anak papi, tentu papi bakal prioritasin lu dan yang lain" ujar rion menatap echi kemudian menatap selia yang masih tidur.

"tapi papi beneran ga tidur ya tadi? " tanya echi.

"tidur bentar tadi" jawab rion.

kemudian hening menghiasi akhir percakapan mereka. mereka kini hanya berdebat dengan pikiran masing-masing.

setelah lama diam rion menatap ke arah echi yang ternyata kembali tertidur, rion menggelengkan kepalanya dan membenarkan posisi tidur echi di sofa.

"lu kenapa bangun dah jam segini" ujar rion sambil menatap jam yang sudah menunjukan pukul 05.16

kemudian setelah membenarkan posisi echi rion berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati ranjang caine.

rion hanya diam sambil menatap caine yang tertidur pulas, setelahnya rion menatap selia yang juga sedang tertidur dengan tenang.

"maaf.. " saat akan pergi rion mendengar suara seseorang yang membuatnya menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah ranjang caine.

"maaf..." ujar caine yang masih tertidur dengan lirih yang membuat rion menjadi terdiam.

"dia ngigau? " ujar rion sambil memperhatikan caine.

"maaf, rion.. " ujar caine lagi yang membuat rion sedikit terkejut kemudian keluar dari ruangan itu.

rion tampak berjalan dengan cepat meninggalkan rumah sakit itu dan menuju taman kecil yang ada di dekat sana.

"sepenting itu kamu bagi mereka caine" ujar rion sambil menyalakan rokok.

rion diam sebentar kemudian menghembuskan asap dari nikotin yang ia hisap.

rion hanya berdiam diri sambil memikirkan perbuatan caine saat di keluarga yang membuat anak-anaknya merasa nyaman.

kemudian rion menghela nafasnya kasar dan membuang rokok yang baru saja ia bakar dan menginjaknya.

"gua harus apa? " ujar rion sambil menutup wajahnya frustasi.

"mending kasih dia kesempatan lagi aja" ujar seseorang yang membuat rion menurunkan tangan dari wajahnya untuk menatap siapa yang berbicara.

"lexa" ujar rion setelah tau siapa yang berbicara.

lexa tersenyum kemudian ikut duduk di sebelah rion.

"aku tau rasanya kehilangan orang yang disayang. dan itu ga enak" ujar lexa namun rion hanya diam.

"mereka hidup bertahun-tahun dalam dunia gelap tanpa adanya kehangatan seorang ibu. dan karna ada caine, mereka bisa merasakan kehangatan itu" lanjutnya.

"dan aku juga ngerasa gitu, caine itu lembut. hal itu yang bikin anak-anak nyaman dan merasa aman ketika sama dia" ujar lexa lagi dan menatap rion.

"saran aku, biarin dia tetap tinggal" ujar lexa sambil menatap lekat mata elang milik rion.

"tapi-"

"aku tau mungkin kesalahan yang dia bikin itu harusnya ga bisa di maafin. tapi kamu liat respon anak anak kamu kan? mereka bahkan rela jagain caine di rumah sakit walau tau caine itu mata mata utusan polisi" ujar lexa memotong perkataan rion.

keluarga noirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang